[FF/S/1/PG-13] High School Love Story


Title :

High School Love Story

Author :

Areta Annora (REANN),

Song Sangra (ITA),

Jihee Park (FANY),

Kim Haejin (Rhanthy)

Genre : Comedy, Romance, Parody,

Lenght : Chaptered [1]

CAST :

* Song Sangra

*Choi Siwon

*Lee Sungmin

* Park Jihee

*Kim Jaejoong


A.N :

Sebenernya FF ini adalah project Ita dan Fany.Tapi entah kenapa malah dilimpahin ke aku #poor me… Untuk part ini aku cuma buat bagian tengah sampai TBC. Banyak kejadian dalam FF ini yang merupakan NYATA dan ada juga yang plesetan.

Setting :

PURWOKERTO, Author’s beloved City XDDD

—————————————————————————————-




At SMA 1 SBL Purwokerto (Sekolah Berstandar Lokal *??*)

Kamis pagi menjelang siang, kelas XI IA 1 sedang menunggu detik-detik pelajaran matematika. Semua anak sudah menyiapkan seperangkat alat tidur dan aksesorinya (eh salah, maksudnya kalkulator dan tetek bengek lainnya yang berhubungan sama matematika). Karena hari ini akan diadakan big exercise (ulangan besar-besaran maksudnya) 3 bab sekaligus yaitu statitiska, aljabar, dan trigonometri. Mereka semua semakin tegang saat bel tanda istirahat usai berbunyi, yang artinya jam pelajaran matematika akan menghampiri mereka. Mereka semua menghitung dalam batin masing-masing, seolah menunggu jurang kesengsaraan yang kini ada di dihadapan mereka.

1…2…3…

Tepat sekali perhitungan mereka, Guru Besar Matematika Lee Sooman seonsaengnim memasuki kelas dengan langkah tegap bak prajurit gagah.

“Selamat siang anak-anak…” sapa Senim

“Siang Senim…”, balas mereka yang nampak lemah, letih, lesu, lunglai (hmm..yg satu apalagi ya? Author lupa, tapi yang pasti tanda-tanda anemia deh)

“What you ready do exercise today?” dengan kemampuan Bahasa Inggris ala kadarnya, Senim menanyai anak didiknya.
Ya, Sekolah SBL Purwokerto memang sedang berusaha keras agar menjadi Sekolah SBIL, Sekolah Berstandar Inter Lokal. Oleh karena itu semua guru yang mengampu mata pelajaran pokok diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris saat KBM berlangsung.

Tak ada satupun siswa yang menjawab. Entah karena tidak tahu maksudnya atau tidak berani menjawab. Mereka sudah tak mampu berkata-kata lagi. Pikiran mereka sudah dipenuhi dengan rumus-rumus x, y, z, sin, cos, tan, tak terkecuali Sangra dan Sungmin.

“Sst..sst… Sungmin… Apa kau sudah siap?” tanya Sangra pada teman sebangkunya itu. Namun Sungmin tak menggubrisnya. Tak puas, Sangra kembali mencoba.

“Sungmin… Sungmin…”, sikut Sangra mencoba menyentuh pinggang Sungmin. Namun Sungmin tak juga menggubrisnya. Sungmin tetap saja menatap buku catatan matematika yang kini di hadapannya dengan tatapan kosong.

“Idihh…Jangan-jangan Sungmin gila gara-gara belajar matematika. Omona! Jangan sampe ya Tuhanku…”, batin Sangra.

“Hmm… Setelah dipikir-pikir lagi ternyata terlalu kejam jika saya mengadakan ulangan 3 bab sekaligus. Jadi sebaiknya ulangan kita bagi menjadi 3 hari saja ya? Hari pertama statitiska, hari kedua aljabar, dan terakhir trigonometri. Hari ini lebih baik saya bercerita saja, bagaimana?”, dengan wajah bak sang bayi baru lahir, Senim itu berkata. Sontak seluruh siswa kelas IA 1 gondoknya bukan main. Mereka merelakan begadang semalan hanya demi matematika!! Mata mereka berair, merah, dan berkantung. Wajah mereka memancarkan aura kegelapan *??*. Tubuh mereka kurus kering (kok berasa kurang gizi ya?) hanya demi ulangan matematika yang akhirnya ditunda. Sangra bahkan sampai meminjam catatan anak sekolah sebelah, SMA 1 SBIL, yang boleh dibilang lumayan pintar dan kebetulan tetangganya. Sangra bahkan merelakan uangnya melayang demi membelikan temannya itu sebuah DVD DBSK, yang katanya sekarang lagi ngetrend.

Asap mengepul keluar dari ubun-ubun Sangra. Hatinya panas, darahnya mendidih, matanya merah menyala bagai lampu lantas. Ingin rasanya ia berteriak persis di depan muka gurunya itu, “DASAR GURU SEDENG!!!”

Namun di antara rasa dongkol yang menerpa siswa kelas tsb, Sungmin justru sujud syukur. Tak lupa ia mengucapkan Alhamdulillah *??* berkali-kali.

“Sepertinya dia memang sudah benar-benar gila”, batin Sangra. Ia hanya bisa menatap Sungmin prihatin di tengah rasa gondoknya.
Sungmin yang merasa sedari tadi diperhatikan berkata.
“Kamu kenapa Sangra?? Kok mukamu kaya’ orang frustasi yang pengen bunuh diri gitu?”

“Gubrakkkk…” Sangra menjatuhkan kepalanya di meja.

“Harusnya aku yang tanya kayak gitu ke kamu pinky!! Kamu tu kayak orang gila tau!”

“Hah? Masa’ si? Gue keren-keren begini kok. Yang memang si, sedikit stress gara-gara ulangan ini! Untungnya ditunda..”

“Semua harap tenang… Saya akan mulai bercerita”, tanpa di komandoi semua siswa melipat kedua tangannya di meja, kecuali Sangra yang masih belum hilang rasa dongkolnya. Ia malah merobek-robek kertas oret-oretan miliknya.

“Ssstt… Sangra dengerin Senim cerita donk…” bisik Sungmin yang merasa terganggu dengan ulah Sangra.

“Enggg..?…” Sangra makin gondok dibuatnya. Asap menggumpal dalam paru-paru Sangra membuat dadanya terasa sesak. Ia mencoba mengeluarkan asap-asap itu agar amarahnya reda.

“Oke Sangra, setidaknya kau dapat mengambil sisi positifnya. Kamu bisa belajar lebih baik lagi, Oke? Sabar Sangra… Sabar… Orang sabar umurnya panjang”, ucap Sangra berusaha menghibur dirinya sendiri.

Kini dia mencoba mendengar koar-koar gurunya bercerita tentang terorisme, pengobatan alternativ, perang, sejarah, dan berbagai cerita lainnya yang sungguh teramat sangat tak penting baginya. Dan lama kelamaan diapun tertidur pulas….

——————————————————–

Di SMA 1 SBIL Purwokerto [Sekolah Berstandar Inter Lokal]

“Haduhh.. Tu anak mana sih?? Katanya mau ngembaliin sekarang. Bisa-bisa aku dihukum. Buku tugas, dan catatan matematikaku kan ada di dia. Aisssshh..!”, omel Jihee dalam hati.

Di saat gundah-gundahnya perasaan Jihee, tiba-tiba nongollah Jaejoong.

“Hai Jihee… Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jaejoong lembut, selembut kain sutera.
Jihee yang memendam perasaan pada Jaejoong hanya tersenyum salah tingkah. Tak bisa ia bayangkan betapa merahnya mukanya saat ini.

“Sebentar lagi istirahat selesai lho? Nanti kalau kamu telat bisa dihukum. Ayo masuk..” ucap Jaejoong seraya menggandeng tangan Jihee.

DEGGG! Entah mengapa jantung Jihee berdenyut 1000 kali lebih cepat saat ia berada di samping Jaejoong, seperti sekarang ini. Padahal jika dipikir-pikir Jaejoong itu lebih cenderung seperti wanita. Atau malah bisa dibilang wanita. Tingkah lakunya, senyumnya, wajahnya, bahkan dia lebih cantik dari Jihee sekalipun.

Tolelotett…. Tolelolotett…. Tettettolelo….

Bel tanda istirahat usai berbunyi. Semua siswa mulai berlarian memasuki kelas masing-masing. Mereka takut jika terlambat masuk kelas, karena ada hukuman berat yang akan menanti mereka. Ya wajarlah, karena SMA 1 SBIL adalah SMA terngetop di Banyumas. SMA yang menjadi trend center. Jadi peraturan disana memang tegas.

“Argggghhh! Mana masuk pula! Awas kau Sangra! Liat saja kalau sampai aku dihukum karenamu”, batinnya sambil menahan esmosi tingkat tinggi.

—————————-

“Sangra… Sangra… Ssttt… Bangun Sangra..”, Sungmin mencoba membangunkan Sangra yang rupanya sejak Senim bercerita hingga bel istirahat berbunyi bahkan sampai istirahat usai ia masih terus saja tertidur pulas.

“Aishhh… Ni anak manusia atau kebo sih? Dibangunin kok ya gag bangun-bangun!” keluh Sungmin yang sedari tadi mencoba membangunkan Sangra. Tapi nihil, bocah itu tetap meringkuk di atas meja sambil ngulet-ngulet segala lagi.

“Hoaaammhhh… Sedapnyooo… Mata dan pikiranku kembali kinclong sekinclong kaca …!!” Dengan innocentnya sangra bangun seraya mengangkat tangannya keatas. Mungkin dia merasakan sedikit pegal di badannya.

“Jiahh… Bangun juga kau… Kupikir kau pingsan, gag kuat dengerin Senim ngomong. Syukur deh… Masih hidup”, ledek Sungmin.

“Abis tu Senim cerita gaje.. Yaudah mending tidur aja dehh.. Lagian kan semalem aku dah lembur demi ulangan matematika yang akhirnya ditunda”, Sangra mencoba membela diri.

“Eh…udah istirahat belum nih? Aku mau ke SMA SBIL. Mau ngembaliin buku temenku nih..” tanya Sangra kemudian.

“Aduhhh Sangra… Please deh.. Ini tuh dah masuk, istirahat dah lewat noh. Untung Guru kesenian belum masuk kelas” jawab Sungmin kesal. Sangra hanya cengengesan gag jelas.

Tiba-tiba….

“WOYYY… WOYY… Yang di sana yang di sini, HARI INI PULANG GASIK.. Semua Guru sedang rapat..” koar Hodong, sang ketua kelas yang perkasa.

Sangra menelan bulat-bulat ludahnya. Senang, bahagia, haru bercampur jadi satu. Ia segera mengepak barang-barangnya dan berlari menghambur ke arah Hodong.

“Kkau… Kkau tidak bercanda kan?” ucap Sangra seraya menggoyang-goyangkan bahu Hodong, yang ternyata tidak bergoyang sedikitpun.

Hodong mengangguk. Sangra segera berlari keluar menuju ke sekolah Jihee.

————————————————————————————

“Minta dibunuh itu anak..” geram Jihee.

“Kenapa sih? Kok kayaknya kesel banget. Lagi dapet yah?” tanya Jaejoong. Ah, lagi-lagi Jaejoong. Kenapa si dia selalu muncul di saat seperti ini?

“Eh, nggak kok…” jawab Jihee.
“Terus kenapa? Sakit?” Jaejoong menyentuh jidat Jihee.
Jihee langsung berontak kaget seolah tangan Jaejoong mengandung listrik.

“Lho? Kenapa lagi? Sini aku liat..”
“Ga! Ga mau!!” Jihee berteriak histeris.

“????…”
“Gag mau! Tanganmu kotor! Baru cebok ya?” Jihee memberi alasan dan segera pergi

————————————————————————————

Di tempat lain, Sangra masih berusaha menyelesaikan lari maratonnya.

“Gillakk! Jauh banget… Kenapa sih PEMDA membangun sekolah jaraknya jauhan begini. Karena inilah mutu pendidikan terus menurun”, omel Sangra gaje.

Tiba-tiba muncul sesosok pria tegak.. Tubuhnya tinggi. Senyumnya menawan. Ototnya banyak *?*. Keringatnya membuat dia semakin…

“Siomay.. Siomay… 2000 sepuluh”, Siwon menjajakan dagangannya.

Sesaat Sangra terperangah.

“Lho Siwon??” ucap Sangra keheranan ditengah nafasnya yang masih terengah-engah.

“Sangra??” ucap Siwon tak kalah heran.
“Kamu sekarang…? Jadi gosip itu…” Sangra menggantungkan kalimatnya. Ia merasa tak mampu melanjutkan perkataannya

“Hemm.. Ya bisa kamu liat sendiri Ra. O ya kamu ngapain lari – lari kaya di kejar anjing gitu?” tanya Siwon.

“Akh… aku terburu -buru. Aku harus mengembalikan buku matematika ini”, jawab Sangra.

“Memangnya di mana? Apa perlu kuantar?” tawar Siwon.

“Boleh, di SMA SBIL. Tapi dengan apa kau akan mengantarku?” Dahi Sangra berkerut menatap Siwon bingung.

“Apa ya?” Siwon juga ikut bingung.
Namun matanya terpaku pada gerobak yang kini ada dihadapannya.

“Emm… Gerobak ini!” ucap Siwon bangga dengan lengkingan suaranya.

“Eh? Gerobak? Maksudmu?” Sangra semakin mengerutkan dahinya hingga membentuk cekungan berbentuk mangkok.

“Aku akan mengantarmu dengan gerobak ini. Kenapa? Kau malu ya?” Siwon menunduk lemah.

Sangra tercengang seketika. “Dia ini gila atau kelainan sih?” batin Sangra.
“Maksudmu aku naik gerobak ini dan kau yang akan mendorongnya begitu?” tanya Sangra.

“Pintar!!” jawab Siwon seraya mengusap pelan kepala Sangra.

“Ya sudah, ayo cepat naik!” Sangra hanya menurut saja. Ia lebih memilih duduk di pinggiran gerobak tepatnya di dekat baskom yang berisi siomay. Siwon mulai mendorong gerobaknya.

“Won, bisa sedikit lebih cepat tidak?” pinta Sangra.

“Yo.. Tentu saja!” Siwon mendorong gerobaknya 3 kali lebih cepat, membuat Sangra sedikit ketakutan. Takut akan gerobaknya tidak kuat menopang tubuh Sangra. Ia berpegangan kuat pada kayu penyangga gerobak.

“Mm.. memangnya kita mau kemana Ra?” tanya Siwon di sela aktivitasnya yang sedang mendorong gerobak.

Nafasnya terengah – engah. “Loh? Kan tadi aku sudah bilang. Gag jauh kok Won, 2 km lagi kita sampai. Cukup lurus terus saja”, jawab Sangra.

“A A A A ….. SIWON, AWAS !!!” teriak Sangra kalap saat dilihatnya sepeda yang berjarak 1 meter dari pandangannya.

“Gedubrakk… Jeduarrr..!!!” [Maaf backsound lebay]. Kepala Sangra terkantuk pada kayu penyangga gerobak. Sedangkan Siwon terpental jatuh hingga tubuhnya tersungkur.
Sangra segera turun menghampiri Siwon seraya memegangi jidatnya yang kini mungkin sudah penyok akibat benturan. “Gwaenchanayo Siwon-ah?” tanya Sangra seraya mengulurkan tangan kanannya. Ia hendak membantu Siwon berdiri.

Kini, pandangan Sangra tertuju pada seseorang yang juga jatuh tersungkur tertimpa sepeda. Sangra berontak, mukanya merah menyala, dongkol, kesal, marah bercampur menjadi satu. Dengan efek cabe rawit dan 2 tanduk yang terpampang di kepalanya *??*, ia berjalan mendekati sosok tersebut.

“WOI!! LO PUNYA MAT..”, ucapan Sangra terhenti saat sosok makhluk tersebut berdiri dan menyunggingkan senyum pada Sangra. Senyum itu… Oh.. Demi Tuhan yang menguasai langit dan bumi, baru kali ini Sangra melihat senyum yang begitu… Arrggghhh.. Sangra diam terpaku. Tak ada anggota tubuhnya yang bergerak sedikitpun, mulutnya terbuka lebar, sedangkan matanya membulat bagai ingin keluar dari kelopaknya, menatap lekat sosok pangeran yang kini nyata ada di hadapannya. Biasanya, Sangra hanya bisa menatap sosok pangeran dari layar kaca atau buku dongeng bergambar yang ia baca. Sungguh, betapa beruntungnya dirinya saat ini.

“Nona… Kau tidak apa?” tanya sang pangeran tersebut.

“Nona.. “, namja itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sangra.

“Ne? Oh.. Ya.. aku.. hanya.. ahh.. tidak, tidak apa”, ucap Sangra terbata-bata.Lidahnya terlalu kelu untuk ia gerakkan.

“Kalau begitu saya duluan nona.. Ada urusan yang musti saya bereskan. Mari…”, ucap Namja itu seraya berlalu menuntun sepedanya menyeberangi jalan. Sangra yang belum sadarkan diri masih menatap sosok pangeran itu, meskipun kini hanya punggungnya saja yang terlihat. Namja tadi.. bagai sang penebar mantera, hingga sosoknya menghilangpun, mata Sangra masih tertuju ke arah di mana menghilangnya namja tsb.

“Sangra.. Kau tidak apa kan?”. Siwon menghampiri Sangra yang masih berdiam diri di depan gerobaknya.

“Ahh… Siwon-ah.. tadi.. Kau lihat kan namja itu?” tanya Sangra yang masih setengah tersadar.

“Sudahlah Sangra, ayo cepat kita pergi!” Siwon meninggikan nada suaranya. Ia nampak tidak suka dengan sikap Sangra.

“Ya Tuhan! Astaga! Jihee, mampus!” Sangra menepuk jidatnya ketika menyadari bahwa ia mengabaikan suatu hal yang teramat penting. Sangra hendak berbalik, namun niatnya terhenti saat sebuah kartu tertangkap oleh lensa matanya. “Kartu apa ini? Seperti kartu pelajar”, ucap Sangra seraya membolak-balikkan kartu itu.

“Atau.. Jangan – jangan kartu ini … Ah ini milik namja tadi!!” teriak Sangra kegirangan. Siwon hanya menggeleng – gelengkan kepalanya menatap tingkah laku Sangra yang sedari tadi di luar batas normal.
Sangra segera memasukkan kartu itu ke dalam sakunya.

“Hmm.. Kalau begini aku masih bisa menghubungi namja tadi”. Senyum Sangra semakin lebar mengingat besar kemungkinan baginya untuk mengenal pangeran itu lebih jauh

————————————————————————————

“Siwon, thanks banget ya? You’re the best deh… Semoga siomaymu cepat habis”, ucap Sangra saat mereka telah sampai di sekolah Jihee.

“Mau kutunggu lagi sampai urusanmu selesai?” tawar Siwon lagi.

“Eh? Tidak usah, aku sudah sangat merepotkanmu. Lihat saja, gerobakmu sampe penyok begitu. Tidak bisa kubayangkan jika aku duduk lama – lama di atas situ. Lagipula, aku kan tidak punya uang untuk mengganti gerobakmu yang baru”, papar Sangra.

“Heh? Dasar kau ini! Oiah, ni nomer handphoneku. Hubungi aku jika kau butuh bantuan lagi”, ucapnya seraya menyerahkan kartu nama yang tertulis beberapa angka di dalamnya.

“See you…” ucap Siwon seraya berputar balik mendorong gerobaknya.

“Eh! Siwon, tunggu!” Sangra berusaha menghentikan Siwon yang hendak pergi.

“Ada apa lagi?”. Siwon memicingkan sebelah matanya.

“Aku hanya ingin bilang, jika siomaymu tidak habis berikan padaku saja. Aku pasti akan menghabiskannya”, ucap Sangra seraya meninggalkan Siwon yang masih tercengang dibuatnya.

————————————————————————————

“ARGGHH… Jihee ada di mana sih?” Sangra menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai. Sangra kelewat kesal. Bayangkan saja? Ia sudah capek-capek mengitari seluruh ruangan yang ada di sekolah ini, tapi tetap tidak menemukan sosok Jihee. Padahal jika boleh dibilang, tubuh Jihee itu besar, badannya tinggi menjulang, jadi bisa dengan mudah Sangra menemukan sosok Jihee.

“Tinggal satu tempat yang belum kulewati. Jika Jihee juga tidak ada, aku menyerah. Lebih baik aku pulang saja”, ucapnya seraya menuruni tangga dari lantai 3 menuju lantai 2. Ia melangkahkan kakinya ke tempat yang terletak paling ujung.

Beberapa siswa warga sekolah SBIL saling berbisik-bisik saat menatap Sangra. Namun Sangra tak menggubrisnya sama sekali.

“Mungkin mereka baru pernah melihat siswi secantik aku. Wajarlah…”. Sangra berusaha meghibur diri.

Sangra menghentikan langkahnya saat sampai di ruangan bertuliskan “TOILET KHUSUS WANITA”

“Huhh..ni toilet kenapa mojok sih letaknya!” batin Sangra.
“Semoga Jihee ada di dalam..” harap Sangra.

“Jihee… Jihee…”. Sangra mulai memasuki ruangan tsb seraya memanggil nama Jihee.

“Whoaaaa…toiletnya banyak banget, gag kaya di sekolahku. Jihee ada di mana ya?”

Tiba-tiba Sangra mendengar suara gemiricik air. Ia segera mendekati salah satu toilet di mana suara tsb berasal. Namun betapa terkejutnya Sangra, saat melihat sesosok makhluk keluar dari dalam toilet tsb.

“AAAAAA A A A A A A A A A A A A AA A A A A A A A A A A A !!!!” jerit Sangra sekeras-kerasnya.

————–T.B.C————-

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on December 21, 2010, in Fan Fiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Huaa..
    Susi! Knp d stu q jd ancur bgd??
    *ngamuk k susi..
    Oia,knp tmpt’a brubah jd d pwt,bkn d korea?
    Tp gpp jga c..
    Thx y sus..

    • Ancur bgt ya ta? Bwahahahahahaha #ngakak bareng Key .. Idih terus settingnya di mana? O.O Di Korea? Bosen tau.. Kekekeke.. Enakan di kota sendiri [?] donk..

  2. Huahaha Siwon jdi tkang siomay?😀
    Lucu.lucu. . . ^^

  3. Ga pa.pa. Hburan kali.Kli. Haha😀
    d tunggu lanjutannya. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: