[FF/S/4/] Past Story was Gone-End


Title :

Past Story was Gone *Gwageoui Iyagiga Eobs-eo Jyeoss-eoyo

Cast :

– Park Yeon Ah *called Yoona*- belongs to YOU-Readers

– Kim Kibum *Key*

– Kim Jonghyun *Jonghyun*

– Han Yong In *Yong In*- belongs to Momon saeng*

– Lee Jinki *Jinki*

– Choi Minho *Minho*

– Lee Taemin *Taemin*

And other support cast..

Genre : ROMANCE

Lenght : chapter 4-end [2075 words]

Disclaimer :

Only have the plot story

………………………………………………………………………………………..

“Yong In mencintaimu. Semua orang tahu itu! Pikirkan itu baik–baik.” Ucap Jonghyun seraya pergi.

………………………………………………………………………………………..

KEY POV…

Dengan langkah gontai, aku melangkah ke kamar Yong In. Apa yang harus kulakukan? Melepas noona? Atau melepas Yong In?

“Key…” Yong In mengepak barang- barangnya.

“Kau mau pergi kemana?”

Matanya terlihat basah.

“Aku mengerti, Key. Jonghyun sudah menceritakan semuanya. Mianhae… Aku tidak tahu kau punya masa lalu yang begitu…” ucapan Yong In terhenti. Tangisnya mulai meledak.

“Jangan menangis. Ini bukan salahmu. Aku seharusnya mengatakan mengenai hal ini sejak awal.”

Yong In terus menangis.

“Benar! Itu benar…” Yong In terisak.

“Benar, Kim Kibum. Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kenapa kau memberitahuku saat aku sudah setengah mati menyukaimu? Saat aku tidak lagi sanggup melepasmu.” Lanjut Yong In.

Kali ini aku yang terdiam. Yong In menghapus air matanya dan kembali mengepak barangnya.

“Aku akan memberitahu orang tuaku. Jangan beritahu massa terlebih dahulu. Popularitasmu akan langsung jatuh.” Yong In melipat pakaiannya.

Yong In menghentikan gerakan tangannya.

“Jangan muncul di depanku lagi. Aku meminta ini bukan karena aku membencimu. Aku hanya… butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku… Waktu untuk menerima bahwa kau meninggalkanku…” ucap Yong In seraya melangkah keluar.

Aku menahan tangan Yong In.

“Aku belum bilang bahwa aku akan meninggalkanmu…” ucapku tanpa menengok.

“Tapi kau juga tidak bilang bahwa kau akan berada bersamaku…” balas Yong In.

Aku tetap menggenggam tangan Yong In erat – erat.

“Jika kau tidak melepasku saat ini, mungkin aku tidak akan sanggup pergi darimu…” ucap Yong In.

Aku tetap mempertahankan tangannya.

“Aku pernah mencintai Yoona nuna… Sangat mencintainya… Tapi, dia pergi meninggalkanku…” ucapku.

“Arasseo. Kau tidak perlu menceritakkannya lagi padaku.”

“Apa kau tahu bagaimana rasanya ditinggalkan?”

“Aku akan segera tahu.”

“Jangan pergi.”

Yong In menatapku.

“Jangan pergi…” ulangku seraya balik menatap Yong In.

………………………………………………………………………………………..

“Key… Kenapa kau memintaku datang?” tanya Yoona yang baru saja datang.

“Nuna, aku… “ Yoona nuna menutup mulutku sambil tersenyum penuh arti.

“Dengar dan jangan potong perkataanku.” Ucap Yoona seraya melepas tangannya.

Yoona menarik napas panjang dan menatap ke atas.

“Nuna..” ,

“Saranghae…” potong Yoona cepat.

“Meninggalkanmu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. Selama ini aku telah membuatmu terluka. Mian..” Lanjut Yoona.

Aku hanya bisa menatap nuna dengan tatapan tak percaya. Kata yang ku tunggu sejak aku masih lima tahun akhirnya keluar juga dari mulut nuna.

“Jinki benar. Aku tidak pernah memikirkanmu. Aku selalu memikirkan perasaan Yong In tanpa sekalipun memikirkanmu. Mianhae, …” lanjut nuna seraya memelukku.

“Key…Saranghaeyo” nuna terus berbisik di telingaku. Membuat hatiku makin perih.

Yong In yang ternyata bersembunyi di balik pohon segera berbalik membelakangi Key. Air matanya kembali mengalir.

Aku tetap terdiam tanpa melakukan gerakan apapun. Bukankah ini yang sudah kuimpikan sejak aku masih kecil? Satu sisi dalam hatiku berteriak. Menyuruhku menceritakan yang sebenarnya. Namun sisi lainnya memintaku untuk tetap diam. Diam dalam pelukannya… Sebentar saja… Hanya sebentar… Sebelum aku meninggalkannya…

“Nuna… Aku sudah bukan lagi dongsaeng… Aku adalah namja…” bisikku serak.

“Arasseo.” Balas Yoona tanpa melepasku.

“Aku… sangat menyukai nuna… jeongmal joahaeyo…”

“Arasseo.”

“Tapi… sekarang bukan lima tahun yang lalu… Aku adalah seorang namja… bukan dongsaeng.”

Nuna melepas pelukannya dan menatapku lekat.

“Aku… akan menikah.” ucapku

“Arasseo.”

“Dan aku tidak mungkin meninggalkannya.”

Yoona terdiam tak percaya. Yong In kembali berbalik.

“Mianhae nuna…”

Mata Yoona mulai berkaca–kaca.

“Mianhae nuna…”

Biarpun Yoona mencoba menutupi isaknya dan menghapus air mata sesegera mungkin. Namun, air matanya terus mengalir.

“Mianhae nuna…” Key berlutut di depannya.

“Key, apa yang kau lakukan?” tanya Yoona di tengah isaknya.

“Mianhae nuna…”

Yoona ikut berlutut dan menangis sejadi – jadinya.

“Mianhae nuna…”

“Apa yang kau katakan? Ini bukan salahmu, bodoh.”

“Mianhae nuna…”

“Gwaenchana. Aku sungguh tidak apa–apa. Hanya saja… Hanya saja…” Yoona kembali menangis.

“Mianhae nuna…”

“Jangan katakan itu lagi..”

“Mianhae nuna…”

“Kupikir aku bisa melepasmu. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah bisa. Mengetahui masih ada kemungkinan bahwa kau masih mencintaiku… aku… aku…”

“Mianhae nuna…”

“Pergi. Pergi! Temui Yong In. Kau ini pabo atau apa? Besok kau akan menikah. Kenapa saat ini malah bersamaku? Kau benar–benar pabo.”

“Mianhae nuna…”

“Pergi. Pergilah, Key! Cepat pergi. Jaga istrimu baik – baik. Dan hidup bahagia. Harus bahagia, anak pabo! Sungguh harus bahagia.”

“Mianhae nuna…”

“Pergi!”

Key menyerah. Key bangkit berdiri meninggalkan Yoona yang masih menangis. Key tahu, biarpun ia terus mengatakan maaf selama sisa hidupnya… Takkan sebanding dengan perih yang Yoona rasakan…

”Mianhe noona… mianhae…”, batinnya lagi.

Perlahan aku menuju kamarku. Yong In sudah menanti di depan pintu kamar.

“Kau tidak seharusnya bersikap sekasar itu di hadapan Yoona.” Ucapnya serba salah.

“Kau mendengarnya?”

Yong In merasa tidak enak.

“Masa lalu… tetaplah masa lalu… Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…” ucapku seraya menunduk.

“Masih belum terlambat untuk mengganti keputusanmu.” Ucap Yong In.

Aku ganti menatap Yong In.

“Kisahku dan nuna… sudah begitu perih… Jangan kau tambah lagi.” Ucapku.

“Aku tidak pernah memintamu untuk melepas Yoona.”

“Masa lalu… tetaplah masa lalu… Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…” ulangku.

Yong In merasa serba salah.

“Setidaknya temani dia untuk malam ini. Temani dia… sebagai kawan lama…” pinta Yong In.

“Aku tidak tahu apa aku bisa meninggalkannya lagi. Jika aku menemuinya, aku tidak yakin aku bisa kembali ke sisimu lagi.”

“Aku percaya padamu. Kalaupun kau tidak kembali, aku akan menerimanya sebagai kesalahanku.”

Aku tetap memilih melangkah masuk ke kamarku dan menguncinya rapat–rapat. Aku mengambil sebuah buku. Lalu membukanya sambil terduduk lemas di lantai. Semuanya masih tentang nuna. Aku membacanya sekilas …………..

Hari ini nuna lulus SD. Kami bersama–sama pergi ke taman.

Hari ini nuna mendapat nilai seratus. Dia begitu bahagia.

Pernyataan cintaku gagal lagi! Nuna pergi begitu saja. Dia bilang aku masih terlalu kecil. Tapi, aku akan terus berusaha!

Hari ini adalah pertunjukan drama nuna. Aku berhasil menyelusup masuk ke SMP-nya. Wah. nuna terlihat amat cantik.

Hari ini nuna masuk ke universitas. Aku harus bisa masuk ke universitas yang sama!

Nuna pulang bersama Jinki hyung. Benar–benar menyebalkan!

Berhasil! Aku masuk ke universitas yang sama! Tak sabar ingin memberitahu nuna.

Hari ini nuna pergi begitu saja meninggalkanku. Pernyataan cinta juga gagal lagi. Huh! Benar–benar hari yang buruk.

Nuna benar – benar pergi. Ibunya bilang dia telah pergi ke Amerika. Apa yang terjadi?

Amat menyakitkan ketika aku membacanya. Ternyata, aku dan nuna… hanya begini jadinya… Ironis sekali… Kutatap buku itu untuk terakhir kalinya. Kemudian, kubakar buku itu.

“Masa lalu… tetaplah masa lalu… Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…”

………………………………………………………………………………………..

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Pernikahanku tinggal menghitung jam. Mataku masih terbuka lebar. Insomnia-ku benar – benar parah. Tidak ada Jonghyun hyung yang biasa menemaniku. Benar – benar membosankan. Aku kembali teringat akan nuna. Apa yang kulakukan benar? Apa benar meninggalkannya, saat ia benar – benar membutuhkanku? Penyakit itu pasti amat menyiksanya… Hhh… Aku tidak seharusnya berkata sekeras itu padanya…

Mendadak ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya.

Tidak ada suara.

Aku tetap menunggu tanpa berkata sepatah kata pun.

Tetap tidak ada suara. Isak tangis terdengar lirih.

Sebuah nama terlintas di benakku.

Yoona nuna…

Aku segera berlari keluar. Namun kembali bimbang. Jika aku pergi, mungkin aku tidak akan sanggup kembali lagi.

“Masa lalu… tetaplah masa lalu… Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…” kata – kata tersebut kembali terngiang di kepalaku.

Aku tidak peduli lagi. Aku segera berlari keluar.

Udara di luar begitu dingin. Begitu aku melangkah keluar dari hotel, kulihat sosok yang masih kuingat betul. Nuna. Dia masih berada di tempat itu. Badannya menggigil kedinginan. Isaknya masih lirih terdengar. Ponsel pun masih di genggamnya erat–erat.

“Key..saranghaeyo….” nuna terus mengulang perkataannya dengan suara bergetar.

Hatiku makin sakit mendengarnya. Perlahan kudekati nuna, dan ikut duduk di sebelahnya.

“Apa nuna tidak lelah?” tanyaku tanpa menoleh.

“Key Saranghaeyo… Jeongmal saranghaeyo…”

“Jangan mencintaiku lagi. Hanya akan membuat nuna sakit.”

“Saranghaeyo yeongwonhi…”

“Nuna, kau benar – benar keras kepala. Udara begitu dingin.”

“Key … saranghaeyo…”

“Mianhae, nuna…” aku kembali mengulangi ucapanku.

Kutatap wajah nuna. Air matanya terus mengalir. Sejak tadi ia terus menangis.

Perlahan aku mendekatinya. Begitu dingin dan rapuh. Aku tidak pernah melihatnya begini.

“Key.. Jeongmal sa…”

Hal yang amat spontan terjadi. Aku menciumnya. Membuatnya menghentikan pernyataannya. Bibir yang beku. Begitu dingin. Sedingin hembusan napasnya.

Yong In…

Mendadak wajahnya terlintas di benakku. Sebentar Yong In … sebentar saja… Hanya sebentar…

Tubuhnya benar – benar dingin. Terlalu dingin. Kenapa nuna terus menungguku diluar? Bagaimana jika aku tak datang?

Genggaman tangannya melemah. Kenapa nuna? Apa kau lelah menggenggam tanganku?

Aku segera sadar akan sesuatu. Hal yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dalam seketika. Napasnya… Tak lagi kurasakan… Hembusan napas yang dingin itu… telah hilang…

Kutatap wajah nuna. Matanya terpejam rapat. Detak jantungnya tak lagi ada. Ddi..Dia.. Dia telah pergi… Aku terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Air mata mengalir dari mataku.

“Mianhae nuna… mianhe…” ucapku lirih.

“Na do saranghaeyo..”

Setelah pernikahanku usai, aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian serba hitam untuk menghadiri pemakaman nuna, lengkap dengan kalung hadiah Yong In. Daun berguguran mewarnai prosesi pemakaman. Ibu Yoona menangis sejadi – jadinya. Yong In juga ikut menangis tersedu.

“Jangan menangis Yong In. Sudah terlalu banyak air mata dalam kisah ini.” Ucapku.

Yong In seolah tidak memperdulikanku dan terus menangis. Jonghyun berdiri tepat di seberangku. Raut wajahnya menampakkan penyesalan yang mendalam. Jinki hyung berdiri di samping Jonghyun. Mata semua member SHINee tertuju padanya. Setelah pemakaman nuna, Jinki hyung aka menghentikan study Englishnya, dia akan berkumpul bersama kami lagi.

Prosesi pemakaman telah usai. Namun kakiku serasa membatu. Satu persatu orang – orang pergi meninggalkan makam baru ini. Hanya aku, Jonghyun dan Yong In yang tersisa. Jonghyun melangkah mendekati aku dan Yong In.

“Key, aku…” ,

“Tidak apa.” Potongku cepat.

“Apa kau marah padaku?” tanya Jonghyun lirih.

Aku tersenyum pedih.

“Masa lalu… tetaplah masa lalu… Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…”

Yong In makin terisak.

“Key…” Jonghyun merasa bersalah.

“Yoona memang selalu begitu… Datang dan pergi… seperti daun yang berguguran… Setelah menimbulkan kesan yang mendalam… ia pergi begitu saja… Benar – benar mirip dengan daun yang terbawa angin musim gugur…” aku menatap makam Yoona.

Jonghyun terdiam.

“Yong In, masuklah ke mobil terlebih dulu. Aku akan segera menyusul.” Ucapku.

Yong In segera melangkah pergi.

“Hyung, temani Yong In sebentar. Aku akan segera kesana.” Lanjutku.

Jonghyun pun segera pergi.

Aku terdiam menatap makam Yoona nuna.

Aku menarik napas panjang.

“Noona, harus kukatakan berapa kali lagi padamu… jangan mencintaiku… Jangan… Hanya akan membuatmu sakit saja.” Lalu aku melangkah pergi.

Yong In sudah menunggu di dalam mobil. Aku kembali menatap makam Yoona dari kejauhan. Warna daun yang berguguran membuatnya seolah begitu hangat. Kini ia sudah tertidur. Bagai mimpi saja bagiku.

Angin kembali bertiup. Membawa sehelai daun gugur tepat di telapak tanganku.

Langkahku terhenti. Warna ini…

“Aku belum berubah. Semua yang dulu kusuka, sampai sekarangpun aku masih suka.” ucapan noona waktu itu kembali terngiang.

Aaah.. Benar juga. Noona sudah mencoba memberitahuku bahwa dia masih menyukaiku. Aku memang bodoh. Kenapa aku tidak segera menyadarinya?

Entah kenapa daun itu menempel erat di tanganku. Seolah tak ingin pindah. Apa noona belum bisa melepasku? Jangan begitu, noona. Kau harus melepasku, noona. Harus… Karena tak ada lagi sisa lembar kosong dalam cerita kita. Jika noona memaksa, noona akan merusak seluruh helai kertas di dalamnya.

“Mianhae, noona…” ucapku lirih seraya tersenyum pahit menatap daun itu.

Jiwa Yoona seolah telah merasuk bersatu dengan alam. Alam meniup angin dan membawa daun itu pergi menjauh. Jauh… begitu jauh… Tidak mungkin untuk kugapai lagi. Sama sepertimu noona… Mustahil untuk kugapai. Tapi jangan menangis, noona. Karena kisah yang indah bukan hanya kisah yang berakhir bahagia. Kisah yang indah adalah rasa yang murni dalam kisah itu. Masalah akhir biarlah takdir yang mengatur. Kita memang tak punya kuasa akan hal itu, noona.

Namun biarpun kisah kita sedih, aku berani bersumpah aku bahagia pernah mencintaimu. Aku bahagia biarpun kau meninggalkanku. Aku bahagia biarpun aku juga pernah berniat untuk meninggalkanmu. Aku bahagia biarpun air matamu jatuh karena aku. Aku bahagia biarpun hatiku meradang karena pisau yang kau goreskan. Aku sangat bahagia… ketika menyadari bahwa rasa yang aku dan noona miliki ternyata berakhir untuk sesuatu yang sia – sia. Aku sungguh bahagia, noona… Aku telah menderita untuk sesuatu yang pantas…

“Kibummie…” panggil Yoona dari dalam mobil.

Aku segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari pemakaman itu.

“Key..Jeongmal saranghaeyo…” suara Yoona masih terdengar lirih. Namun… Makin lama makin lirih… makin lirih… Dan akhirnya hilang tak berbekas. Seolah ikut terbang bersama daun yang berguguran.

“Biarlah ia pergi bersama daun yang berguguran…”

=================END=================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on December 24, 2010, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. Ya ampun sedih banget, T.T
    Bnar.bnar sdih.
    keren. . .

  2. Udah dong.🙂🙂
    bgus saeng. . .

  3. Haha
    ga apa dong.😀😀

  4. onnie cerita’a bagus,, sedih,, kasian yoona’a tp enak meninggal dalam pelukan key *bener ga onnie yoona meninggal dalam pelukan key??
    keren onnie ^^

    • Hahahaha, iyaa… Makasih banget ya dah ngikutin ceritanya sampe ending, huhuhu #air liur meler [?]
      Heum.. Bener kokk, si Yoona mati di pelukan Key, hahahahaha, bayangn aja kalo Yoonanya kamu, atau mau jadi Yong In nya? LOLOL

  5. Ok. Kalau sempt pasti mampir buat bca kq. Hhehe
    *kya org sibuk aja ya. Haha
    kalau d peluk Key pasti pda mau, tapi kalau ssudah itu meninggal. . .?? eumm ga ah, makasi, na’as bgt itu mah. Haha

  6. Sebenernya udh baca d note kmu :p
    hiks…
    Air mataku tetap mengalir,,
    walaupun sudah kesekian kalinya ku baca…

    *aissh ,, cengeng dasar :p
    ^^

  7. aku mau jadi yoona’a aja deh onnie biar udh meninggal tp seengga’a dia udh pernah dicintai dan mencintai key *ampun bahasa’a ribet banget
    hehehe
    ^^

  8. Kasian
    yoona
    hiks
    hiks . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: