[FF/S/Prolog] The SORROW TWILIGHT

kkangrii18.wordpress.com

TITLE :

The SORROW TWILIGHT

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs to me ^^

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to one of my gejeh friend

GENRE : MISTERY, ROMANCE

Lenght : FICLET [956 words]

===================================

THE PROLOG

Kehendak dan takdir manusia… kadang memang tidak sejalan adanya. Dan saat kenyataan berbalik menjadi ironi duniawi, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanya pasrah menerima. Namun, jika takdir itui terlalu pedih… haruskah aku menerimanya pula?

===================================

Tempat ini… begitu damai… tenang…

Jika ada seorang bijak berkata bahwa surga adalah tempat terindah, aku yakin… pasti di sinilah surga berada. Karena semua hal baik dalam diriku, semuanya terjadi di tempat ini. Bahkan jika Tuhan mengijinkan, aku ingin menukar seluruh hidup abadi surgaku dengan satu hari hidup fana di tempat ini.

Jika ada seorang bijak berkata bahwa neraka adalah tempat yang paling menyiksa, tempat yang selalu membuatmu menangis miris. Aku yakin, pasti… di sinilah neraka berada. Karena semua tangis dan lukaku dimulai dari tempat ini. Namun, saat ini jelas kurindukan sang penyebab goresan hati. Biarpun mungkin dengan melihatnya lagi, akan makin dalam dan lebar koyakan hatiku… tetap kurindukan sang penyebab perihnya hatiku…

Jika ada seorang bijak berkata bahwa bahwa dunia adalah tempat dimana kau bisa merasakan semuanya… Bahagia dan sedih. Aku yakin, pasti duniaku hanya sebatas tempat ini saja. Hanya sebatas lahan kecil dengan sebuah pohon dan sebuah bangku kayu panjang di salah satu sisinya. Karena… diluar tempat ini, hanya hampa bagiku yang ada. Karena dari tempat inilah sakit dan senang kukenal.

Tempat ini… tak lebih dari sebuah dunia… Tak lebih dari sebuah neraka… Dan tak lebih dari sebuah surga… Hanya itu… Tak lebih dari segalanya bagiku….

Aku terduduk lemas di bangku kayu pada salah satu sisi pohon. Menerawang ke atas, ke langit senja yang penuh lembayung redup dengan semburat merah darah. Entah sudah berapa banyak mentari senja yang kulihat dari tempat ini. Puluhan? Atau mungkin malah sudah mencapai ratusan? Dan apa gerangan yang ada di balik langit itu? Apa benar ada surga di baliknya?

Sudah sekian lama aku duduk di tempat ini. Namun tak sedikitpun lelah kurasa. Semua kulakukan demi sebuah jawaban. Jawaban yang mungkin justru akan mencabik hatiku lagi. Tapi… ibarat sebuah cermin, bukankah lebih baik hancur berkeping dalam sekali remas daripada hancur perlahan karena sayatan perlahan di setiap sisi. Toh, pada akhirnya akan hancur juga.

Suara langkah terdengar mendekat. Aku mencoba menoleh ke belakang. Namun pandanganku terbendung oleh perkasanya tiang penyangga utama pohon ini. Langkah itu terus mendekat. Makin dekat. Aku dapat merasakan kehadirannya tepat di belakangku. Desah napasnya pun samar – samar dapat kudengar. Langkahnya terhenti seketika. Saat ini jarak kami hanya dibatasi pohon ini saja. Jemari tangannya menyentuh batang pohon perlahan. Apa yang akan ia lakukan? Apa mungkin, dia… ?

Dia memasukan tangan ke saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas. Aku dapat mendengar gemerisik kertas yang ia keluarkan itu. Dia menyentuh batang pohon lagi. Lalu…

Sepi…

Tak ada suara…

Apa ia masih disana?

“Hhhh…” suara napasnya terdengar lagi. Kali ini lebih panjang dan dalam dari sebelumnya.

Ternyata ia masih belum beranjak tempat ini. Sejenak aku ingin melihat wajahnya. Begitu ingin. Sebelumnya aku selalu dibuat kecewa oleh niat ini. Entah sudah berapa kali aku menoleh pada kesempatan yang lalu. Dan entah sudah berapa kali pula aku kecewa karena ternyata bukan ‘dia’ yang datang. Pernah seorang tukang sapu, anak sekolah biasa, atau sekedar orang lewat. Sampai bosan aku dibuatnya. Sering aku kembali bertanya…

“Apa ia benar – benar akan datang untukku?”

Suara langkah terdengar kembali dari kejauhan. Namun yang ini berbeda dari yang tadi. Lebih cepat dan ringan. Langkah ini juga mendekat dengan cepat.

“Appa!!!” sebuah suara gadis memanggil pria yang masih berdiri tegak di depan pohon. Pria yang tepat berada di belakangku. Pemilik langkah kaki yang pertama.

Pria yang dipanggil itu menoleh.

“Ayo pulang. Matahari sudah terbenam.” Lanjut sang gadis.

Aneh. Suara itu… sepertinya aku pernah mendengarnya. Apakah dia seseorang yang pernah kukenal? Tidak mungkin. Tapi… Tunggu! Bukankan suara itu…!?

“Iya, Yeon-ah…” jawab pria itu.

Yeon-ah!? Dia…!!! Suara itu…!? Bagaimana mungkin!?

Suara langkah kedua orang itu terdengar menjauh. Aku segera berdiri dengan raut wajah pucat.

Tidak mungkin.

Seluruh tubuhku langsung menjadi dingin dan kaku. Namun aku harus cepat melepaskan diri dari shock sesaat ini. Aku harus bertemu dengannya. Harus! Aku sudah menunggu begitu lama untuk hal. Aku harus bergerak cepat sebelum ia pergi! Tidak boleh seperti saat itu lagi. Aku tidak mau! Aku benar – benar tidak mau mengulanginya lagi.

Aku segera memaksakan kakiku untuk melangkah ke sisi pohon lainnya. Dengan langkah terseret akhirnya aku berhasil berbalik ke sisi lainnya. Mereka sudah berjalan menjauh. Terlalu jauh untuk kukejar. Aku hanya kuasa untuk melihat sosok mereka berdua berjalan beriringan menjauhiku. Seorang pria sekitar 40 tahunan, berperawakan tegak. Dengan seorang gadis di sampingnya. Masih muda, 17tahun mungkin. Rambutnya yang hitam sepunggung tergerai indah. Mereka Nampak begitu bahagia.

Sejenak kupikir hatiku akan remuk lagi. Namun, sesuatu segera menangkap perhatianku Secarik kertas yang menyembul keluar dari selah kecil di batang pohon. Perlahan kuambil kertas itu. Sepertinya sudah lama sekali umurnya. Bekas lipatannya sudah begitu dalam. Kubuka kertas itu perlahan. Ahh.. Tulisan tangan ini begitu akrab di mataku. Apakah ‘dia’ yang memberikan kertas ini untukku?

Sebuah kalimat tertulis disana. Senyum puas segera mengembang di bibirku. Hatiku terasa begitu lega. Seolah batu penasaran pembendung luapan hati telah pecah berkeping. Kudekapkan kertas itu rapat – rapat ke dadaku. Kutatap lagi sosok itu untuk terakhir kalinya. Seorang pria yang berjalan beriringan dengan seorang gadis. Biarpun dia berjalan menjauhiku dan aku tak lagi sanggup melihat wajahnya, namun aku yakin. Itu pasti dia! Dia datang lagi setelah sekian lama. Ternyata dia…

Diam – diam kubisikan sesuatu. Bisikan lembut yang hanya bisa didengar lirih oleh manusia. Aku tahu mustahil pula ia bisa mendengarnya. Apalagi dari jarak sejauh ini…

“Akhirnya ‘dia’ datang juga…”


END OF PROLOG…..

===============================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on December 24, 2010, in Fan Fiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Wah prolog nya bagus nih. Knalin ica di sini🙂 tau ga? Aku nonstop loh baca sampe part 8. Ditunggu part 9 nya ya

  2. prologx bner2 bguz, pndatang bru.. Shin Hyo Sang aka Dian Imnida 18 y.o
    mw bca part 1..

  3. Prolog nya -M;)(y)Å<3<3(y)ÑB)(y)T:O(y)Å=D(y)B!! Masih bingung crt nyaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: