[FF/S/3] The SORROW TWILIGHT

kkangrii18.wordpress.com
Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery, Angst,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 3 [ 2020 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

==================================

Perlahan aku berbalik dan kembali menaiki tangga. Hatiku terasa begitu sakit setiap aku bertemu Umma. Baik tatapannya, perkataanya, tingkah lakunya, seolah ia tidak lagi menganggapku sebagai anak dan menyesali bahwa aku sebenarnya betul anaknya. Baginya hanya Nicole anaknya.

===================================

_Chapter 3_

Kubanting keras pintu kamarku. Genggaman tanganku pada gagang pintu mengeras. Hingga putih buku-buku jariku. Air mata yang tadi hampir meleleh dari mataku kini hampir muncul kembali. Jika tidak kubendung, pasti sudah mengalir deras dari tadi layaknya hulu sungai.

“Jangan menangis Park Yeon-ah. Kau tidak lemah. Kau pasti bisa melalui semua ini.”

Kakiku melangkah perlahan. Menatap cermin besar di kamarku. Kuamati sosokku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Apa yang salah dengan diriku?

Kuakui aku dan Nicole begitu berbeda. Kulit Nicole putih oriental, ciri khas orang timur kebanyakan. Persis dengan yang dimiliki Umma dan orang Korea lainnya. Sementara kulitku putih pucat. Jika kuamati, kulitku ini… agak mirip dengan kulit orang barat. Pasti warisan dari Appa.

Mataku juga berbeda dengan mata orang Korea kebanyakan. Mataku lebih besar dengan warna iris bukan hitam. Cokelat kehitaman tepatnya. Mata yang besar ini mungkin kudapat dari Umma dan warnanya dari Appa. Indah sebenarnya menurutku. Aku suka melihatnya sejak kecil. Karena belum pernah kulihat orang bermata coklat sebelumnya, kupikir begitu istimewa bahwa aku memiliki mata ini. Namun sepertinya justru karena mata inilah orang – orang menganggapku berbeda.

Apa karena tubuh ini orang menganggapku berbeda? Apa aku seharusnya membenci sosok ini?

Dengan gerakan cepat, kuambil gelas yang terisi air penuh dari meja dekat tempatku berdiri. Dan kusiramkan ke cermin. Membuat bayanganku di cermin menjadi kabur karena aliran air yang menuruni cermin. Mengapa aku menjadi benci akan dia yang tadi menatap balik dari dalam cermin? Dia yang tak lain adalah diriku sendiri…

Kulempar tubuhku ke tempat tidur. Menatap lurus ke langit-langit. Memikirkan semua ini membuatku lelah. Sudah sekian lama aku berpikir tanpa setitikpun pencerahan.

Mendadak kepalaku terasa sakit. Begitu sakit. Tidak. Apa kumat lagi? Sudah sekian lama tertidur, kenapa harus muncul lagi? Kedua tanganku menekan kepala kuat –kuat, mencoba untuk meredakan sakit. Namun sepertinya tak ada efeknya. Tubuhku berguling kesana kemari. Sekujur tubuhku makin menegang. Napasku mulai tidak karuan. Mataku terpejam menahan rasa sakit. Gigiku terkatup kuat. Jika lidahku terselip disana, pastilah putus sudah. Jemari kakiku menegang dan menekuk. Mulai memutih kini. Menjadikan kulitku yang sudah pucat menjadi lebih pucat lagi. Hal kontras terjadi pada wajahku. Warnanya menjadi merah menyala, seolah semua darahku sudah menunggu tepat di balik kulit langsung. Aku kembali merintih. Namun rintihanku terlalu lirih untuk di dengar orang lain.

“Appa…” panggilku lirih.

Aku juga tidak tahu mengapa justru Appa yang keluar dari mulutku. Mustahil Appa akan menolongku. Ia sudah tenang di alam sana. Tetapi… selain Appa, siapa lagi yang bisa kumintai tolong? Umma? Nicole?

Pandanganku perlahan mulai kabur. Semuanya seolah bergerak tak beraturan dalam kabut. Kepalaku terasa begitu sakit.

“Ugh…”

Sebuah pikiran spontan diperintahkan oleh otakku. Sarafku secara otomatis menyuruhku berteriak untuk mengekspresikan rasa sakit sekaligus meminta pertolongan. Namun mendadak bibirku terasa kelu dan kaku. Lidahku seolah bukan lagi daging liat biasa, melainkan tulang kaku yang tak bisa digerakan. Gigiku terkatup erat tanpa bisa kubuka. Keringatku mulai bercucuran. Apa yang harus kulakukan!?

Sekuat tenaga kukerahkan tenagaku untuk menuruni tempat tidur. Tidak bisa. Seluruh tubuhku serasa lemas. Bagai hilang sudah semua otot yang biasa menemaniku beraktifitas. Kucoba sekali lagi.

“Harus bisa! Harus!” aku memberi semangat pada diriku sendiri dalam hati.

Dalam sekali hentak, akhirnya tubuhku terbanting ke lantai. Jika dalam keadaan normal, pastilah aku sudah menjerit kesakitan merasakan tumbukan lantai yang dingin dan keras pada tubuhku. Namun sekarang… sakit karena terjatuh sungguh tidak sebanding dengan sakit yang kurasakan.

Kepalaku terus berdenyut, membuat pikiranku makin rancu. Aku mencoba berdiri. Gagal. Kemana hilangnya semua tenagaku? Kucoba lagi. Gagal lagi. Pandanganku makin gelap. Gawat! Aku harus cepat. Usaha terakhirpun kulakukan… perlahan aku merayap manyusuri lantai. Terasa begitu dingin di kulitku. Apa boleh buat. Tak ada jalan lain.

“Ini demi hidup atau mati. Jika aku berdiam disini, pastilah aku akan mati.” Pikirku.

Mendadak aku terhenti di depan pintu. Memaksakan seluruh tenaga untuk menarik gagangnya. Untung saja tadi aku tidak menguncinya. Jika aku menguncinya, bisa mati terkurung aku di kamar ini. Mungkin Umma dan Nicole baru menemukan jasadku esok hari saat mereka menyadari bahwa tak ada seorangpun yang menjawab panggilan mereka.

Aku terus merayap. Kepalaku berdenyut keras. Jauh lebih keras dari yang tadi. Remang – remang kulihat anak tangga menuju ke bawah. Ah.. Benar. Kamarku terletak di lantai dua. Lengkap sudah penderitaanku. Bagaimana aku bisa menuruni anak tangga? Salah – salah aku akan mati karena terjatuh ke bawah. Namun berdiam disini juga akan mati pula. Perlahan aku merayap menuruni tangga. Sungguh sulit. Dengan kesadaran yang hampir hilang.

“Tahan park yeon-ah… Tahan…”

Akhirnya dengan susah payah aku berhasil menuruni tangga. Penampilanku sudah tidak karuan. Rambut panjangku yang acak – acakan menutupi wajah. Keringat membanjiri tubuh. Bajuku kotor karena merayap sepanjang jalan. Mataku terbelalak lebar menahan sakit. Namun biarpun terbuka lebar, hanya tirai kabut yang mampu kulihat. Napasku memburu. Tubuhku teronggok lemah di lantai bagai sekumpulan daging yang biasa di masak umma.

Sekarang kemana aku harus pergi? Kemana? Biasanya Umma dan Nicole ada dimana pada jam ini?

“Ayo kita memasak. Aku sudah lapar.” ucapan Nicole kembali terngiang di kepalaku.

Memasak… Umma memasak… Dimana orang biasa memasak? Ah… Dapur… Benar. Dapur. Lalu… dimana dapur berada? Gawat. Otakku seolah sudah berhenti bekerja saja. Masa hal semacam ini aku bisa lupa? Kepalaku terasa makin sakit. Tanganku kembali menekannya keras – keras.

“Sa…kit…” rintihku lirih.

Aku harus terus bergerak. Perlahan aku kembali merayap sesuai arah yang di diktekan naluriku.

Samar – samar hidungku mencium bau makanan. Melalui sela kaki meja makan kulihat Umma tengah sibuk memasak. Aku hanya bisa menatapnya nanar dari balik meja. Umma tak sedikitpun menoleh padaku. Dia hanya bersenandung kecil menyanyikan lagu lama yang bahkan tak kuketahui judulnya.

“U.. mma…” panggilku serak.

Namun panggilanku terlalu lirih untuk didengar. Terlebih Umma masih sibuk mendendangkan lagunya.

Dalam hati aku menjerit memanggil umma. Padahal jarak kami tak lebih dari 3 meter. Tak dapatkah umma menyadari kehadiran anaknya sendiri? Tanganku terjulur lurus mencoba meraih umma. Tetapi terlalu jauh. Mustahil aku bisa menjangkaunya. Aku mencoba merayap sedikit lagi. Tapi terhalang kaki meja. Aku harus berputar jauh jika ingin menjangkau umma.

Sedikit demi sedikit, tenaga kukerahkan untuk sekedar duduk. Mungkin jika aku berada dalam posisi duduk umma bisa menyadari kehadiranku dibanding dalam posisi tertelungkup. Tetapi kepalaku menabrak pinggiran meja. Beberapa piring yang berisi makanan di pinggiran meja jatuh terguling menimpaku dan akhirnya pecah berserakan di lantai. Beberapa lagi hanya terguling sedikit dan tumpah isinya. Isi yang tumpah itu perlahan mengalir membasahiku yang masih duduk lemas di dekat meja.

Umma menoleh karena kegaduhan yang kutimbulkan dan segera berlari menghampiriku. Sejenak aku merasa tenang. Biarpun kini tubuhku basah kuyup oleh tumpahan kuah, setidaknya umma akan membantuku.

“Umma akan menolongku.” Pikirku polos.

“Apa sih yang kau lakukan!? Tidak adakah satupun hal yang bisa kau lakukan dengan benar!?” keluh umma menatap pecahan kaca yang berserakan di sekelilingku.

Tak sedikitpun ia menatapku. Ia justru melihat tumpahan dan pecahan kaca yang berserakan di sekitarku. Biarpun saat ini rambut menutupi wajahku dan kepalaku tertunduk, jika umma menatapku pasti umma akan sadar bahwa penyakit lamaku kembali lagi. Tetapi…

“Sana bersihkan sendiri!” perintahnya ketus.

Umma malah menjauh mengurusi masakan yang belum selesai.

“Nicole! Ayo kita makan. Umma memasak daging hari ini.” Panggil umma.

Lagi – lagi aku hanya bisa menatapnya pilu. Kepalaku memang terasa sakit, namun hatiku jauh lebih sakit. Mataku perlahan meneteskan air mata. Karena tak kuasa lagi menahan sakit fisik dan batin. Menetes bersama dengan keringat dan tumpahan kuah yang membasahi wajahku. Tangan kananku tanpa sadar menggenggam erat salah satu pecahan kaca sebagai pelampiasan. Erat sekali. Begitu erat. Hingga merobek kulit telapak tanganku. Darah mengucur pula. Ikut bercampur membentuk danau keringat, air mata dan darah yang dilarutkan tumpahan kuah.

Aku terisak lirih menahan perih.

“Jangan menangis, anak bodoh. Biarpun kau menangis, umma tidak akan membersihkannya untukmu. Bersihkan sendiri!” Ucap umma mendengar isakku tanpa menengok.

Aku terdiam menatap umma. Dengan kepala masih berdenyut, aku mencoba memunguti pecahan kaca di sekitarku dengan tangan kiri yang masih mulus. Dan menaruhnya di tangan kanan. Beberapa pecahan kaca yang kugenggam ikut menambah lebarnya luka di tangan kananku. Tangan kananku sudah penuh dengan pecahan kaca kini. Terpaksa kugunakan kedua tanganku. Dan pecahan yang kugenggam di tangan kiri ikut menambah goresan tipis di kulit telapak kiriku. Biarpun tipis namun cukup perih karena ditambah dengan asinnya garam dari kuah.

“Nicole, ayo turun. Kita makan.” Panggil umma lagi.

“Iya, umma.” Jawab Nicole dari ruang sebelah. Terdengar langkah kakinya mendekat.

Nicole melewatiku begitu saja tanpa menyadari keberadaanku. Maklum saja, aku berada di balik meja dan Nicole berjalan dari sisi yang sebaliknya. Nicole berjalan mendekati umma.

“Kenapa makanan di meja menjadi berantakan umma?” tanya Nicole yang masih belum menyadariku.

“Ini semua akibat perbuatan adikmu yang ceroboh itu. Membuang makanan dengan sia – sia.” Gerutu umma.

“Sudahlah umma. Lagipula kita masih punya hidangan utamanya.” Ucap Nicole dengan senyum manis di bibirnya.

Air mata kembali meleleh. Tapi kuusahakan tidak menimbulkan isak kali ini. Dengan cepat kuhapus air mata dengan punggung tanganku. Namun justru pecahan kaca di genggaman tangan menggores pipiku. Perih rasanya. Aku hanya tersenyum pahit dan melanjutkan pekerjaanku tanpa suara. Pecahan kaca yang tersebut kupinggirkan di satu tempat. Warnanya tidak lagi bening, melainkan merah darah. Dengan tangan kosong kusapu kuah yang melumuri lantai. Sungguh pedih. Luka yang masih menganga hingga daging terlihat dikenai langsung oleh kuah asin masakan umma. Dan percuma sebenarnya aku membersihkannya. Biarpun kuahnya sudah kusingkirkan ke tempat lain, namun meninggalkan jejak darah dari tanganku yang kugunakan sebagai lap.

“Yeon-ah ada dimana?” tanya Nicole.

“Entahlah. Masih di bawah meja mungkin.” Jawab umma enteng.

Nicole melongok ke bawah meja dan mendapatiku masih melanjutkan pekerjaanku. Garis – garis merah bentukan darahku merentang acak di lantai bagai grafis kesukaan Nicole.

Mata Nicole terbelalak lebar.

“Yeon-ah…” panggilnya lirih.

Aku masih menunduk dan melanjutkan mengelap lantai dengan tangan terkoyak. Nicole menarik tanganku. Memaksaku menghentikan pekerjaanku. Aku menarik balik dan kembali mengelap seolah tak terjadi apapun.

“Biarkan saja dia, Nicole. Sekali kali anak itu perlu diberi pelajaran.” Umma masih sibuk dengan masakannya.

“Umma, Yeon-ah berdarah.” Ucap Nicole miris.

Air matanya langsung mengalir deras melihatku. Jauh lebih deras dari aku tadi. Yah, aku tahu itu. Nicole paling tidak kuat melihat darah, luka dan sebagainya. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat langsung daging yang terkoyak.

“Luka kecil jangan terlalu dikhawatirkan. Paling hanya tergores sedikit.” Balas umma.

Nicole mencoba menghentikanku lagi. Dia kembali menarik tanganku. Namun kali ini tetap ia genggam erat hingga aku tak punya kuasa lagi akan tanganku. Darah di tanganku ikut mengalir ke tangan Nicole.

“Sudah. Hentikan.” Nicole mengangkat wajahku.

“Umma!!” teriak Nicole dengan tatapan tak percaya melihat wajahku. Umma menoleh dan ikut terkejut.

“Umma, panggil dokter! Ada yang tidak beres dengan yeon-ah.” Ucap Nicole kalut.

Tapi umma masih berdiri tegak menatapku tak percaya.

“Umma!” ulang Nicole.

Umma tak bergeming.

“Umma!!!” Nicole mengeraskan volume suaranya. Tapi tak sedikit pun umma bergerak. Nicole yang makin panic memutuskan untuk menelpon dokter sendiri.

Kini tinggal aku dan umma di ruangan ini. Umma masih menatapku dengan mata terbuka lebar. Aku balik menatap umma lurus ke dalam matanya. Umma berjalan pelan mendekatiku. Kepalaku berdenyut lebih kencang. Aku sudah tak sanggup lagi. Perlahan tubuhku roboh ke bawah dan jatuh tepat di kakinya. Dan semua gelap.

“Turuti perkataan umma. Karena kau tidak menurutinya, maka Appa meninggal.” Ucap umma berlinang air mata. Hari itu… Sepuluh tahun yang lalu… Mungkin memang benar. Aku yang bersalah dalam kecelakaan itu. Tapi, siapa yang tahu bahwa akan terjadi kecelakaan? Hal itu terjadi secara spontan tanpa direncanakan. Jika aku tahu bahwa jadinya akan begini, aku juga tidak akan mengajak Appa pergi. Aku akan menuruti ucapan umma dan duduk diam di rumah bersama Nicole. Sejak hari itu, aku berjanji… Akan menuruti semua ucapan umma. Boleh saja aku bertindak liar dan sebagainya, asalkan umma belum melarangku. Jika umma sudah melarangku, aku akan segera menghentikannya. Masalah benar atau tidak yang umma katakan, aku tidak boleh peduli. Hanya menurutinya. Cukup menurutinya…

==================================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on December 29, 2010, in Fan Fiction and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Sumpah merinding abis ngebayangin ngerayap gt. Dan megang erat pecahan kaca? OMG
    *di geplak author banyak cincong*LOLS
    Pokoknya part ini sukses bikin miris buat yeon ah. Hwaiting!

  2. *akhirnya ketemu juga lnjutannya*

    yeonah kamu kenapa? *nanya sambil terisak-isak*
    jangan sampe yeonah mengidap kangker otak,jangan sampe terjadi,kasihan yeonah… Y.Y

  3. Ђά̲̣̣̣̥ά̲̣̥ďє̲̣̥є̲̣̣̣̥ђђђX_X kasian bgt deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: