[FF/S/1] Don’t Cry My Love

TITLE : DON’T CRY MY LOVE

AUTHOR : Areta Annora a.k.a “REANN”

GENRE : Romance

LENGHT : Part 1 [3211 words]

RATE : STRAIGHT/NC

CAST :
– Song Hyena/Kim Haejin a.k.a YOU-Readers
– Lee Hyukjae
– Park Yeon-ah
– Park Jungsoo
– Lee Donghae

DISCLAIMER : I ONLY HAVE THE PLOT STORY, Steal it? You die… xDD

A.N :
1. FF ini kupersembahkan untuk temanku tersayang juga New Year Special xDD
2. Awalnya mau kubuat Oneshot, tapi ternyata meledak kepanjangan.
3. Untuk next shot RATEDNYA NC 21, Jadi gag sembarangan orang bisa baca.

==============================

Kini dunia tak lagi berpihak padaku. Langitpun hanya diam membisu menjadi saksi atas pahit getir yang kualami. Taju pedang kehidupan begitu mudahnya mencabik-cabik kebahagiaan dalam sekejap. Hingga hanyalah angan-angan kebahagian yang tersisa dalam duka dan nestapa.

Aku, Song Hye Na.. Gadis yang bertahan saat dunia merampas satu per satu kebahagian yang ku miliki. Aku tak butuh belas kasihan dari orang lain. Aku tak butuh imbalan atas apa yang telah dunia rampas. Aku hanya butuh jawaban…
Sampai kapan aku bisa bertahan? Haruskah aku bertahan hingga luka mengkikis habis raga ini?

————————————————————————

-AUTHOR POV-

31 Desember 2010.

Ini adalah akhir tahun yang cukup mengesankan bagi Hye Na. Ia mendapat satu titik terang sebagai solusi dari masalahnya. Diterima sebagai peracik mnman di sebuah club ternama di Korea “mASS”.

Banyak orang bilang bekerja di sebuah club sama saja menjual harga diri dan martabat. Tapi Hye Na tak peduli akan hal itu, ia merasa mampu menjaga dirinya sendiri. Lagi pula pekerjaan yang ia geluti bukanlah menjadi seorang hostes. Yang terpenting baginya sekarang adalah bertahan hidup. 2 kata dengan makna sederhana yang menjadi motto Hye Na semenjak ia hidup sebatang kara. Orang tuanya meninggal bunuh diri setahun yang lalu, setelah perusahaannya mengalami kebangkrutan. Dan sanak saudaranya entah kemana… Hye Na merasa bahwa mereka tak akan pernah menganggap keberadaan Hye Na. Namun sekali lagi, Hye Na sama sekali tak peduli. Toh sampai detik ini ia masih bisa bernafas tanpa biaya oksigen yang harus ia bayar.

Pandangan Hye Na terfokus pada setumpuk buku besar yang berisi informasi mengenai bidang kedokteran. Buku yang selama 3 bulan tak pernah ia buka lagi, bahkan memegangnya pun tidak. Padahal selama ini buku itu adalah bagian dari hidup Hye Na. Pintu bagi Hye Na untuk meraih cita-citanya yang luhur. Namun tidak setelah ia divonis DO dari Universitas ternama di Korea, Seoul University. Sungguh amat menyakitkan baginya, ia dikeluarkan secara tidak hormat hanya karena terancam tak sanggup membayar biaya kuliah semester 3. Segera ia kemasi buku-buku yang menimbulkan kesan luka saat ia menatapnya. Awalnya Hyena berniat membakarnya, namun sepertinya buku itu masih ia butuhkan nantinya. Hyena hanya butuh waktu untuk menepis habis rasa luka yang ia rasakan. Dan kembali memilin benang impiannya dari awal. Ia ingin menunjukkan pada dunia yang telah mencampakkannya bahwa ia sanggup meraih apa yang ia inginkan.

“Sudah jam 6, 2 jam lagi aku harus berangkat”, batinnya. Hari ini adalah hari pertama Hyena masuk kerja. Dan sialnya, mengapa harus bertepatan dengan malam tahun baru? Hye Na rasa malam ini akan menjadi malam yang berat baginya. Keadaan club sudah pasti ramai 3 hari kedepan.

————————

Hyena melangkah keluar rumah menuju tempat kerjanya. Ia merasa sedikit canggung dengan penampilannya malam ini. Clubwear yang melekat di tubuhnya, semacam mini dress memberi kesan eksotis bagi kaum adam yang melihatnya. Dan high heels yang Hyena kenakan sekarang benar-benar

akan membuat kakinya patah. Ia tak pernah menggunakan high heels sebelumnya. Belum lagi, rias wajah yang berlebihan menurutnya. Semua ini tak lain adalah aturan yang harus ia taati selama bekerja sebagai peracik minuman beralkohol di mASS Club.

“Apapun akan kulakukan untuk bertahan”, Hye Na berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Setelah berjalan kurang lebih 200 meter akhirnya Hye Na sampai di tempat tujuannya. Tidak terlalu jauh memang. Ia segera menuju waiters room. Hyena akan mendapat pengarahan sebelumnya.

“Annyeon Kim Haejin… Eosseo wa [selamat datang]”, ucap Leeteuk, asisten pemilik Club ini yang juga merangkap sebagai pengelola.

Kim Haejin… Begitulah mereka akan memanggil Hyena kedepannya. Hyena sengaja menyembunyikan identitas aslinya. Ia hanya ingin memulai kehidupannya dari dari awal, tidak ingin masa depannya terbayang-bayang oleh masa lampaunya yang kelam.

“Annyeong Leeteuk-ssi”, Hyena balik menyapa.

“Tasmu taruh di sana saja.” Leeteuk menunjuk brankas di mana nama ‘Kim Haejin’ telah tertera di sana. Ia bergegas menghampiri Leeteuk setelah menaruh tas di brankas tersebut.

“Karena kau pelayan Club baru, jadi hari ini jam kerjamu cukup sampai jam 12. Ini adalah keputusan pemilik Club. Sungguh beruntungnya dirimu… Dan nanti temui aku sebelum pulang,” ujar Leeteuk.

Hyena mengangguk dan segera menuju bar. Keadaan club sudah mulai ramai sekarang.
Ia mengamati setiap sudut club. Banyak sekali hal yang ‘baru pernah ia temui’ di sini. DJ, Kerlip sinar laser, dancefloor, lounge area, bar, smooking area… terlalu asing baginya untuk mengenali hal semacam ini. Namun tak mengapa, toh sesuatu jika terbiasa akan menjadi sebuah kebiasaan kan?

Hyena terkejut saat rombongan yang terdiri dari 8 orang memasuki club, 4 pria dan 4 wanita. Begitu mirisnya saat yang ia dapati adalah sosok yang begitu dikenalnya. Hyena berpura-pura tak melihat dengan kembali menyibukkan diri dalam pekerjaannya, meracik minuman.

– HYENA POV –

Oh God! Salah apa diriku? Mereka memesan minuman dan mau tak mau aku harus mengantarnya?

“Sial!!” Aku mengumpati nasibku sendiri.

Segera kuracik minuman yang mereka pesan. Untung saja bukan ‘dia’ yang memesan. Aku melangkah mendekati mereka dengan membawa minuman yang baru saja kuracik. Sesaat, aku menghela nafas agar kegugupanku tertahan bersama udara yang tertahan di tenggorokanku.

“Khamsahamnida,” ucap salah seorang dari mereka. Kutundukkan wajahku, sama sekali tak ingin melihat wajah-wajah yang kini di hadapanku. Kulirik ‘dia’ sekilas untuk memastikan, dan pandangan kami bertemu tanpa sengaja, membuatku sedikit tersentak. Kubuang mukaku dari hadapannya – segera berbalik karena urusanku memang sudah selesai, kembali ke pekerjaanku – meracik minuman.

Dia masih menatapku dari kediamannya, aku tahu itu. Tapi aku berharap ‘dia’ berpura-pura tak mengenalku sebagaimana yang ia lakukan semenjak kami tak lagi menjalin hubungan. Akan bahaya jika nyatanya dia masih mengenalku apalagi jika sampai memanggil namaku di depan waiters lain.

Aku berusaha bersikap senormal mungkin agar pekerjaanku terselesaikan dengan baik.

“Sejak kapan kau bisa meracik minuman, Song Hyena?” Aku dikagetkan oleh ‘sosoknya’ yang tiba-tiba muncul di depanku.
Aku tetap terfokus pada minuman yang sedang kuracik, berpura-pura tak mengenalnya? Yeahh, aku memang tak mengenalnya karena selama ini ‘dia’ hanya menunjukkan sisi baiknya di depanku. Tak pernah kudapati ‘dia’ pergi clubbing bersama seorang gadis, atau aku yang selama ini tidak mengetahui akan hal itu? Whatever.. kurasa inilah cermin ‘dirinya’ yang sesungguhnya.

“Lee Hyukjae.. Sedang apa kau di sini? Memesan minuman lagi? Ini belum puncak pesta, jangan sampai kau mabuk terlebih dahulu.” Seorang gadis, nampak seumuran denganku mendekati Eunhyuk dan menggamit lengannya – menyandarkan kepalanya di bahu Eunhyuk. Ia mengerling nakal pada Eunhyuk membuat pria itu terlihat mengerang.

“Seunghee-ya.. Jangan membuatku…” Ucapan Eunhyuk terhenti saat gadis bernama Seunghee itu mendekatkan wajahnya ke wajah Eunhyuk. Dan sedetik kemudian, Eunhyuk segera membalas perlakuannya dengan menarik wajah gadis itu lebih dekat lagi hingga bibir mereka bertemu dan saling menyentuh.

Lama mereka berciuman, hingga saat aku kembali setelah mengantarkan minuman pun mereka masih terbuai dalam hasrat mereka masing-masing. Pemandangan tak wajar sebenarnya bagiku, namun sekali lagi – aku harus terbiasa menghadapi suasana seperti ini.

Sesekali Eunhyuk melayangkan tatapannya ke arahku. Tak ada respon dariku. Terlalu bodoh jika Eunhyuk menganggapku akan cemburu atas apa yang ia lakukan terhadap gadis itu. Aku sama sekali tak mencintainya, bahkan mengenal pribadinya pun tidak. Dia bagai orang asing bagiku. Masa bodoh apa yang ia lakukan, bersama siapa, ataupun di mana.

“Belum saatnya.” Gadis itu menghentikan pergulatan yang sedang melanda mereka. Segera ia berdiri dan menarik lengan Eunhyuk ke arah dancefloor.

Aku bisa bernafas lega sekarang. Setidaknya sosok Eunhyuk terlepas dari pandanganku. Kini aku memusatkan konsentrasi pada pekerjaanku. Tamu semakin banyak yang datang dan memesan minuman. Aku tak ingin jika nanti sampai salah meracik minuman.

“Hey… Haejin-ah,” kudengar seseorang memanggil namaku.
“Ada apa?” tanyaku saat kudapati rekan kerjaku. Well, kami sama-sama peracik minuman. Sayang sekali aku tak mengenalnya. Sedikit ku sipitkan mataku agar nametag yang tertera di clubwearnya terjangkau oleh mataku.

“Namaku Park Yeon-ah.” Ia tersenyum saat menyadari perbuatanku. Kemudian menatapku lurus seakan memperoleh signal yang terpancar dari sorot mataku.

“Haejin-ah… kalau boleh tahu, siapa pria tadi?” tanyanya masih dengan tatapannya yang menghujam mataku.

“Pria? Yang mana?” tanyaku, pura-pura tak mengerti.
Yeon-ah mengerutkan dahinya, hingga alis matanya yang indah saling bertemu dalam satu garis sejajar.

“Pria yang tadi…” Yeon-ah tak melanjutkan kalimatnya. Ia lebih memilih memberikan suatu simbol agar aku mengerti maksudnya tanpa harus dengan kata yang terucap dari bibirnya. Yeon-ah memegangi bibirnya dengan jari telunjuknya. Aku segera mengangguk sebagai tanggapan bahwa aku mengerti apa yang ia maksud.

Aku mengangkat kedua bahuku sesaat sebelum berkata,

“Entahlah.. Aku tak mengenalnya. Mungkin dia salah orang,” ujarku dengan intonasi yang cukup meyakinkan.

“Kupikir pria itu menyukaimu,” bisik Yeon-ah tepat di telingaku. Aku mengangkat alis sebelah kananku, dan tersenyum setelah kudapati Yeon-ah menunggu responku atas ucapannya.

“Bisa juga. Atau dia hanya ingin menjadikanku sebagai koleksinya.” Yeon-ah tertawa renyah setelah mendengar apa yang ucapkan. Begitu pula denganku. Tawa pertanda ikatan persahabatan antara aku dan gadis itu. Dia sosok yang baik, begitu yang aku simpulkan saat obrolan kami berlangsung. Hal ini tentu akan menjadi salah satu alasan bagiku untuk tetap bertahan bekerja di tempat seperti ini.

———————

Aku melihat jam dinding yang tergantung di sudut ruangan, tepat di smooking area. Sudah jam 12, benar-benar tak terasa. Mungkin karena aku terlalu tenggelam dalam kesibukan.

“Sayang sekali sudah saatnya kau pulang. Padahal aku masih ingin ngobrol denganmu.” Yeon-ah mengerucutkan bibirnya, membentuk suatu ekspresi yang sangat unik.

“Kau masih bisa menelfonku besok.”
“Tentu saja. Err.. kurasa kau terlalu bekerja keras malam ini. Istirahatlah Haejin-ah…”

Aku berlalu meninggalkan Yeon-ah yang nampak sedang meracik minuman. Keadaan club memang ramai sesuai dugaan, namun para tamu itu tengah menikmati lantunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ. Jadi tak perlu khawatir peracik minuman akan kewalahan hanya karena berkurang satu anggota.

Aku berjalan melewati beberapa bar untuk menuju waiters room. Kudapati Leeteuk-ssi tengah menungguku di sana. Namun begitu terkejutnya aku saat Leeteuk-ssi menyerahkan selembar amplop.

“Untuk Tunjangan Tahun Baru [?] …” ujarnya seraya berlalu meninggalkanku.

Aku masih berdiri terpaku dan kemudian menggumamkan ucapan terima kasihku meski aku tahu, Leeteuk-ssi tak mungkin mendengarnya. Ia sudah lenyap di balik pintu yang menghubungkan bar dengan waiters room. Kulihat dalam cermin yang kini dihadapanku, nampak clubwearku kotor oleh minuman beralkohol. Aku segera melangkah mengambil tasku yang berada di dalam brankas dan menuju toilet.

Sesampai di toilet, aku merutuki diriku sendiri ketika melihat clubwearku di bawah pencahayaan lampu yang cukup.

“Tidak terlalu kotor,” keluhku. Aku melangkah keluar, dan kudengar derap langkah kaki yang kian terdengar jelas oleh telingaku.

Kini langkahku terhenti, terkesiap mendapati sosok Eunhyuk yang kini di hadapanku – menyeringai sinis ke arahku. Ia menggumamkan kata demi kata yang bisa kudengar jelas.

“Song Hyena.. Long time no see. Kau semakin cantik saja,” ujarnya seraya maju beberapa langkah hingga kini jarak kami tinggal beberapa centi saja.

“Siapa kau? Aku sama sekali tidak mengenalmu, dan ngomong-ngomong namaku Kim Haejin,” jawabku ketus seraya menatapnya tajam. Kini posisiku terdesak, ia semakin memperkecil jarak di antara kami dan tersenyum puas melihat kegusaran yang tergambar di wajahku.

“Jangan begitu Hyena, aku masih mencintaimu. Aku menyesal telah mencampakkanmu. I miss you so much, Don’t you feel the same?”

“Namaku bukan Hyena!!” tukasku.

“Brengsek..” umpatku, saat dia mulai berani menyentuh pipiku. Aku mencekal pergelangan tangannya dan menghempaskannya.

Ia menatapku sejurus kemudian, dan lagi tangannya yang kekar mencengkeram erat kedua tanganku. Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan? Segera kuinjak kakinya dengan high heelsku, dan kurasakan tubuhku menyandar pada sebuah dinding. Astaga! Aku benar-benar terjebak saat ini.

“Jangan macam-macam atau aku bisa melaporkanmu..” ancamku. Bisa kudengar nada suaraku bergetar saat mengancamnya – ketakutan benar-benar sedang menghampiriku. Kucoba susah payah untuk menyembunyikan ketakutan di balik wajahku yang menampakkan keangkuhan.

Ia mencodongkan wajahnya ke sisi kananku, dan suara beratnya begitu menggelitik telingaku dan membuat emosiku meletup-letup bak air yang dipanaskan dalam suhu 100 derajat Celcius.

“Tidakkah kau menginginkan seperti apa yang kuinginkan? Bercintalah denganku nona Hyena…” ujarnya seraya menjilat daun telingaku.
Aku memberontak sekuat tenaga, untuk melepaskan cengkeraman tangannya terhadap pergelangan tanganku. Berhasil, satu tanganku kini lepas dari cengkeramannya. Kulayangkan tangan itu ke arah pipi Eunhyuk, namun dengan sigap ia mencengkeramnya kembali. Ku gertakkan gigiku kuat-kuat tanda emosiku yang menyelubungiku sudah mencapai otak.

“Lancang kau!” geramku.

Ia hanya terkekeh dan kurasa kini dia turun menggerayangi leherku, menjilatinya. Satu kakiku menendang ke arah perutnya hingga kini kedua tanganku bisa terlepas sempurna dari cengkeramannya. Kulihat Eunhyuk memegangi perutnya yang kesakitan. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

“ARRGGGGHHHHH!” Aku terjatuh disertai bunyi debaman yang cukup membuat kakiku terkilir. Rasa sakit menusuk-nusuk pergelangan kakiku membuatku tak lagi sanggup berdiri. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku saat Eunhyuk lagi mendekatiku dengan seringaian yang seolah terpatri permanen di wajahnya.
Kucoba bangkit saat seseorang memegang kedua lenganku hingga aku sanggup berdiri sempurna dengan kaki kiriku yang masih terkilir.

“Kau! Jangan pernah berani menyentuh gadis ini sedikitpun. Dia kekasihku, Kim Haejin!!” ujarnya dengan tatapan membunuh yang ditujukan pada Eunhyuk.

Aku terhenyak dan menatap namja itu garang saat ia mengucapkan kata-kata tsb. Dia mengenalku? Siapa dia? Aku, kekasihnya? Ohh, mengenalnya pun tidak sama sekali. Pertanyaan demi pertanyaan terbesit dalam benakku, namun tidak kuutarakan dalam situasi yang tidak pas seperti ini. Aku berhutang budi padanya. Jika dia tidak datang menolongku saat ini, mungkin…

Kudengar suara gebrakan keras saat kami hendak berbalik. Suara yang terbentuk karena Eunhyuk menendang pintu toilet dengan satu kakinya.
Ia – pria yang tadi menolongku segera memegang bahuku, bermaksud untuk membantuku berjalan.

Kuhempaskan tangannya pelan, menolak niat baik yang lagi ia tawarkan. Aku masih bisa berjalan meski sedikit pincang.

“Aku bukan pria jahat.” Ia memajukan bibirnya beberapa centi.
Aku hanya tersenyum melihatnya, menahan tawa dan sakit yang kini kurasakan.

Kini ‘kami’ telah keluar dari toilet dan berjalan keluar club. Aishh…! Kakiku mendadak kram, aku tak lagi sanggup berjalan.

“Kau memang keras kepala,” ujarnya seraya menangkap tubuhku yang hendak roboh. Ia kembali memapahku dengan satu tangan kanannya memegang pinggangku dan tangan kirinya memegangi tangan kiriku yang menggelayut di pundaknya. Kurasakan tubuhku bergetar saat tangannya yang kokoh memegang pinggangku.

“Biar kuantar kau pulang. Kali ini kau tak boleh mengelak atau aku akan menyerahkanmu pada pria tadi.”

Ia memapahku menuju ke dalam mobilnya. Well.. Aku hanya menurut saja, tanpa sedikit rasa curiga yang kupendam.
Aku tak bisa mengelak akan sesuatu, bahwa tidak semua pria buruk perangainya. Aku bisa merasakan aura baik yang terpancar dalam diri pria yang kini duduk di sampingku, memfokuskan konsentrasinya pada jalanan.

“Di mana rumahmu?” tanyanya, membuyarkan lamunanku akan dirinya.

“Di sebelah appartement itu..” ucapku seraya melayangkan telunjuk ke appartement yang kini mulai nampak.

“HAH?! Kau tidak berbohong kan?” tanyanya nampak terkejut seraya menatapku heran.

Aku balik menatapnya. Sebelah alisku terangkat.
“Memangnya kenapa?” aku balik bertanya.

“Hh… Tidak, terlalu dekat,” ujarnya seraya memarkir mobil tepat di depan rumahku. Sudah sampai ternyata. Segera aku beranjak turun dari mobil.

“Biar kubantu, kau bisa terjatuh,” ujarnya yang sudah berada di luar mobil. Ia kembali memapahku hingga ke dalam rumahku.

Kami terduduk di ruang tamu. Hening sesaat, sebelum ia akhirnya mulai berkata.
“Lihat kakimu,”
“Eh?”
Ia langsung jongkok di depanku dan memegang kakiku yang terkilir.
“Awww…”
“Tahan sakitnya,” ia terus memijit kakiku perlahan selama kurang lebih 10 menit.
“Bagaimana? Apakah masih sakit? Coba kau berdiri..”
Ia menatapku penuh harap.

“Lihat!! Sudah tidak sakit lagi. Yaa, kau hebat!” ucapku girang seraya menepuk-nepuk bahunya.
“Tunggu sebentar, akan kubuatkan minum untukmu..”

“Hei! Tidak usah, aku hendak pulang..”

Aku mengurungkan niatku dan segera mengantarnya hingga halaman depan rumahku. Entah kenapa, aku sedikit kecewa saat ia mengutarakan ingin cepat pulang. Mungkin karena aku belum sempat membalas jasa-jasanya.

“Song Hyena, kau benar-benar benalu bagi orang lain.” Aku merutuki diriku sendiri.

Tampak pria itu menurunkan jendela mobilnya dan menatapku dengan senyum manisnya.

“Senang bertemu denganmu. Sampai jumpa..,”

“Sampai jumpa?” aku mengulangi kata-kata yang baru saja terucap olehnya dengan intonasi bertanya.

“Memangnya kita akan berjumpa lagi? Kalau iya, kapan?” sambungku.

“Tentu saja. Aku bisa bertemu denganmu kapanpun. Jadi kau tunggu saja..”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Terdengar suara mesin mobilnya mulai menderu-deru.

Ia mengakhiri perjumpaan kami malam ini dengan 4 patah kata dari 2 patah kata yang telah ia ucapkan.

“Sampai jumpa, Kim Haejin..” ujarnya seraya menekankan intonasi suaranya pada namaku.

Aku mengawasi mobilnya yang bergulir perlahan, dan segera tersadar akan sesuatu saat kata-katanya kembali terngiang di benakku.

“Astaga, aku belum menanyakan namanya..”

Namun kini pria itu sudah mulai menginjak gasnya lebih dalam dan melambaikan tangannya padaku. Aku berdiri tak bergerak untuk waktu lama, dan akhirnya memutuskan untuk kembali memasuki rumah dengan membawa semua kenangan buruk malam ini, dan rasa penasaranku terhadap pria itu.

————————

– AUTHOR POV –

The Next Night, 1 Januari 2011 …

Hyena melangkah keluar rumah dengan membawa harapan akan lebih baiknya kenangan yang ia bawa pulang malam ini dibanding malam kemarin.

Hyena menghentikan langkahnya saat sebuah mobil mencegatnya. Tampak dari jendela yang diturunkan, seorang pria yang kemarin telah membantunya.

“Hai.. Selamat berjumpa kembali, Haejin-ah…” ujarnya tersenyum. Ia segera membukakan pintu mobil dan mengisyaratkan Hyena untuk segera masuk.

“Kau ini stalker ya?” tanya Hyena memulai pembicaraan.

Pria itu hanya terkekeh mendengarnya dan lagi tersenyum menatap Hyena.

‘Yaa.. Sepertinya memang hanya ada senyuman di raut wajahnya.’ pikir Hyena.

“Bukti apa yang kau punya hingga menuduhku seorang stalker?”

“Aku tidak punya bukti, tapi alasan..” tukas Hyena.

“Lalu utarakan alasanmu itu,”

“Baik,” Hyena menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. “Pertama, kau tau namaku padahal kita belum pernah berkenalan sebelumnya. Kedua, kau muncul di saat yang tepat – saat aku sedang membutuhkan bantuan seseorang. Ketiga, kau tau jam kerjaku dan sengaja menjemputku malam ini,” jelas Hyena.

“Hanya itu?” tanyanya lagi.

“Apa maksudmu?” Hyena semakin bingung dibuatnya.
Pria itu mengusap kepala Hyena pelan dengan tangan kirinya.

“Kau bilang aku ini stalker. Tentunya aku tau lebih banyak tentang dirimu. Tidak sekedar yang kau jelaskan tadi..”

Hyena terhenyak mendengarnya. Benar-benar di luar dugaan. ‘Misterius sekali,’ pikirnya. Namun kini sedikit kecemasan membayangi wajahnya. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang diketahui pria itu tentang dirinya.

“Dia hanya sedang mempermainkanku,” batin Hyena mengingat raut muka pria itu saat berkata tadi terlihat mengajak bermain-main.

“Jadi, kau benar seorang stalker? Dan ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Namaku? Apakah penting bagimu?” Pria itu balik bertanya.

Hyena mendengus kesal. Ia merasa harga dirinya sedang ditantang dengan pertanyaan yang terlontar dari pria itu. “Yah, mungkin memang tidak penting. Tapi.. bagaimana aku bisa memanggilmu sedangkan aku tidak tahu namamu. Haruskah aku memanggilmu ‘stalker’ seumur hidup?”

Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum, kali ini bukan senyum manis yang terpampang. Namun, senyum yang membuat Hyena merasa jengkel.

Pria itu segera turun mobil setelah memarkirnya di depan club. Ia membukakan pintu bagi Hyena, membuatnya berasa bak seorang puteri raja.

“Menyebalkan!” dengus Hyena lirih seraya berjalan meninggalkan pria itu. Dan tanpa ia sadari pria itu mendengar apa yang baru saja Hyena ucapkan.

“Namaku Lee Donghae..” ujarnya setengah berteriak, namun sepertinya sia-sia. Haejin telah lenyap dibalik pintu masuk club.

——————–

Donghae mengamati sosok Hyena yang nampak sibuk dengan pekerjaan yang ia geluti, sambil sesekali tersenyum simpul mengingat kejadian tadi.

“Song Hyena… Aku yakin itu kau!” ujarnya lirih.

Sementara Hyena sedang was-was, takut akan sosok Eunhyuk muncul kembali di Club ini. Pandangannya tak pernah lepas dari pintu masuk club, meski tangannya sedang sibuk meracik minuman.

“Heii… Haejin-ah, apa kau mengenal pria yang duduk di sana?” tanya Yeon-ah, merasa ada sesuatu yang aneh.

Hyena mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Yeon-ah.

“Hmm, stalker itu. Dia masih di sini,” batin Hyena.

“Tidak,” jawab Hyena.

“Haejin-ah, tolong jangan bercanda! Katakan padaku bahwa kau mengenalnya.” Yeon-ah kesal dengan jawaban yang Hyena berikan.
“Yaa! Kau ini kenapa sih? Aku sungguh tidak mengenalnya,” sungut Hyena.

“Kau..yakin?”

Hyena menatap Yeon-ah sebal. “Iya, aku tidak kenal. Memangnya kenapa? Kau menyukainya? Akan kubantu kau.. Oke?” ucapnya seraya mengerlingkan matanya pada Yeon-ah.
“Ani… Pria itu… Dia..,”
“Dia siapa? Kau mengenalnya?” potong Hyena. Yeon-ah nampak ragu mengungkapnya.

“Aku mengenalnya. Dia …”

================TBC==================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on January 2, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. Kogh A.K.A REader????
    itu namaku…!!!!!!!!!

  2. Laki2 mencurigakan~.~
    haha:D
    Lanjutt y susi, cepatt *bletakk* #minta d lempar sendal XP#
    masih menebak2 nii😦

  3. OK,,,lumayan jugaa,,,,lanjutanya jangan lama2 yaaa

  4. Author. Keren. Cepet lanjutkan.
    Ga sabar.
    Btw next kan pasti di protect.
    Minta pw ny gmn? Aku new reader ni.
    Dm aja ke twitter aku @beastwd. Okay?🙂

  5. huee..yg ini crita na bgus, sist😀
    suka ! suka ! #meimei mode : on
    sering2 bwt yg kyk gne, hehe

  6. annyeong aku reader baru,
    ffnya bagus, penasaran ni ma sosok hae tu sebenarnya siapa,
    lanjut baca k part 2

  7. annyeong, aku reader baru
    andrea imnidaa~
    salam kenal *bow*

    ceritanya bagus
    awalnya bikin penasaran

    mo lanjut ke part selanjutnya deh !
    buat author HWAITING *tereakbawapom2*

  8. astagaaaaa…
    Kenapa lee hyuk jae selalu jadi bad boy?
    Hahaa ;D
    keren nih ceritanya!
    Ohya kenalin, saya reader baru disini!
    Saya cuma mau ijin baca ff yang castnya donge aja thor!
    Arigatou! ;D

  9. Kyaaa. . . Donghae q muncuL jg . . .🙂

  10. Aaaaah dia siapa!??
    Langsung lanjuuuut

  11. Kok yeon kenal donghae sih , emang donghae siapa sih ??

  12. Annyeong chingu.. Aku ijin baca ff mu ya..
    Hyejin aka hyena hidupnya berat bgt apalagi dgn masa lalu nya. Hyukjae nampaknya msh ngarep sm dia. Tp untunglah ada donghae sang penyelamat! Klo gk ada… Who knows..what happen to hyena.
    Aku penasaran krn nampaknya hae sdh lama ‘mengincar’ hyena.
    Lanjut ya..

  13. Woaaa ffnya menarik,,, annyeong akuu reader baru

  14. Donghae..miss u, lanjut

  15. Keren, aku suka ceritanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: