[FF/S/4] The SORROW TWILIGHT

kkangrii18.wordpress.com

 

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 4 [ 2845 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

==================================


-Author POV-

“Bagaimana? Lukanya… apa bisa disembuhkan?” tanya Nicole khawatir.

“Masalah luka, tentu bisa disembuhkan. Tapi memang cukup dalam sehingga kami perlu menjahitnya. Dan memang penyembuhannya agak lama karena ada factor garam dalam luka itu. Untuk seminggu ini jangan membebani tangan adik anda dengan aktifitas yang berat.”

Nicole mengangguk.

“Kalau boleh tahu, kenapa adik anda melakukan hal macam ini? Selama saya menjadi dokter, kasus seperti ini belum pernah saya temui. Adik anda sengaja merobek kulitnya dan dengan sadar menggunakan tangan yang terluka untuk membersihkan kuah. Pada beberapa kasus memang ada pengguna obat-obatan yang sengaja melukai dirinya sendiri, tapi adik anda bukan pecandu obat. Apa ada kemungkinan dia mengalami depresi atau…?”

“Dia hanya kelelahan.” Nicole mencoba mempersempit lingkup perkiraan sang dokter.

“Sepertinya bukan.”

“Lalu kenapa?”

“Ada satu hal lagi yang jauh lebih parah dari luka di tangannya.”

Nicole meneguk air ludahnya.

“Apa adik anda pernah mengalami benturan di kepalanya?” tanya dokter itu lirih.

“Itu sudah lama sekali.” Jawab Nicole lebih lirih.

“Kecelakaan itu terjadi sepuluh tahun yang lalu. Dia memang sempat mengalami masa kritis dan hampir tidak dapat diselamatkan. Dia mengalami koma selama satu bulan. Tapi setelah itu, tak ada masalah lagi.” Lanjut Nicole.

“Koma selama satu bulan pasti akan ada efeknya. Tidak mungkin tak ada masalah sama sekali.”

“Tapi sepuluh tahun ini yeon-ah tidak pernah ada masalah dengan kesehatannya.”

“Apa belakangan dia mengeluh mengalami sakit kepala?”

“Yeon-ah tidak banyak bicara di rumah. Kalaupun dia merasa sakit, jika sakit itu masih bisa ditahan ia tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

“Apa ia tertekan akhir – akhir ini?”

Nicole terdiam dan menarik napas panjang.

“Sepertinya.” Jawab Nicole dengan suara berbisik.

“Apa prestasinya menurun drastis?”

“Ia memang kurang menonjol di bidang pelajaran sejak dulu.”

“Apa terkadang ia bertingkah aneh?”

“Tidak. Dia normal.”

“Adakah sesuatu yang berubah dalam dirinya? Seperti perubahan sikap mendadak, suka melamun sendiri, berbicara tidak jelas…” , “Yeon-ah bukan orang gila.” Potong Nicole cepat.

“Park yeon-ah memang tidak gila. Tapi ada sesuatu di otaknya yang mungkin bisa membuatnya menjadi gila.” Lanjut dokter.

“Benturan itu merusak beberapa system koordinasi saraf. Dia tidak mampu berpikir terlalu lama. Daya konsentrasi menurun. Ingatan melemah. Perubahan sikap mendadak juga mungkin akan segera anda temui. Dia akan menjadi amat labil, mudah emosi. Semacam semi disorder (Disorder : gangguan jiwa yang mengakibatkan penderitanya mengalami rasa bahagia atau sedih yang ekstrim.). Terkadang dia tidak mampu menggerakan bagian tubuhnya atau lebih tepatnya kaku seketika. Yang mana jika dibiarkan pada tingkat yang lebih parah akan menjadi lumpuh permanen. Dan akhir yang biasa terjadi adalah kematian.”

“Apa yang dokter katakan? Kecelakaan itu sudah begitu lama.”

“Adik anda begitu beruntung bisa bertahan hidup sepuluh tahun setelah benturan itu. Semoga saja adik anda masih bisa bertahan hidup lebih lama lagi.”

“Jadi, yeon-ah akan… mati?”

Dokter mengangguk lirih.

“Kira – kira berapa lama waktu yang ia punya?”

“Sangat sulit untuk diprediksi. Adik anda sudah jauh melewati batas perkiraan kami dengan bertahan hidup hingga hari ini. Hal ini tergantung dari adik anda sendiri. Jika ia berada dalam kondisi yang bagus, mungkin ia bisa melewati sepuluh tahun lagi. Atau mungkin malah lebih. Tapi bisa saja ia langsung meninggal hari ini.”

Yeon-ah POV…

Dimana aku? Begitu tersadar kudapati diriku tertidur di suatu tempat yang tidak kukenal. Tempat yang bersih. Sinar mentari pagi menyelusup masuk dari sela tirai yang berkibar tertiup angin. Terasa hangat di wajahku. Tubuhku terasa lebih ringan kini. Biarpun ada rasa lelah sedikit. Namun, tangan kananku terasa agak sakit. Kuangkat telapak tangan kanan tersebut hingga tepat di depan mukaku. Ada balutan perban disini. Pasti merupakan pekerjaan seorang yang ahli melihat betapa rapinya balutan ini. Siapa gerangan yang melakukannya? Nicole-kah?

Kuturunkan lagi telapak tangan kananku. Baru kusadari ternyata di telapak tangan kiriku pun terdapat banyak luka kecil. Apa yang terjadi padaku? Kenapa ada banyak luka begini?

“Yeon-ah…” Nicole melangkah masuk dan duduk di sampingku.

Nicole… Apa yang dia lakukan disini?

“Gwaenchana?” tanya Nicole menggenggam tangan kananku erat. Refleks segera kutarik tangan kananku dari genggamannya. Genggaman Nicole menekan luka di tangan kananku. Ngilu sekali rasanya. Nicole yang tidak menyadarinya Nampak terkejut dengan reaksi spontanku.

Nicole menunduk tanpa tahu harus berbuat apa.

“Apa yang terjadi?” tanyaku serak.

Nicole mengangkat wajahnya tak percaya.

“Kau… tidak ingat?” tanyanya.

Aku melempar tatapanku ke luar jendela.

Nicole tersenyum lega.

“Kau… jatuh.” Dusta Nicole.

Aku balik menatap Nicole.

“Jatuh?” ulangku.

“Iya. Kau jatuh di dapur dan tanganmu terluka karena pecahan gelas. Tapi tidak ada luka serius.” Jelas Nicole.

Aku tetap menatapnya seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

Nicole mendekatkan wajahnya padaku.

“Tidak terjadi apapun, yeon-ah. Percayalah padaku.” Bisik Nicole lirih.

Ingin aku mempercayai Nicole. Bahwa aku hanya terjatuh. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa mengganjal. Ada sesuatu yang belum Nicole katakan. Tapi… apa itu? Apa benar ada sesuatu yang ia sembunyikan? Ucapan Nicole memang begitu meyakinkan. Begitu meyakinkan seluruh indra-ku. Namun hatiku ternyata ada pendapat lain. Dan kata hati, siapa yang dapat melawan? Biarpun bisa sesaat berpura – pura tuli, namun tak akan bisa selamanya berpura – pura tak ada hati.

Nicole tersenyum lagi padaku. Biarpun senyum itu datang dari diri Nicole yang kubenci. Namun kuakui, senyumnya begitu manis dan menenangkan jiwa. Bahkan mungkin untuk sejenak… Jika Nicole tersenyum aku bisa sekejap melupakan benciku padanya.

Nicole bangkit berdiri dan keluar dari kamarku. Meninggalkanku yang masih menatapnya lekat – lekat. Nicole… Onnieku yang sempurna… bisakah kau membantuku menghilangkan kebencianku padamu?

Author POV…

Nicole berjalan lurus menyusuri koridor rumah sakit.

“Benturan itu merusak beberapa system koordinasi saraf. Dia tidak mampu berpikir terlalu lama. Daya konsentrasi menurun. Ingatan melemah.” Ucapan dokter kembali terngiang.

Nicole menghentikan langkahnya sejenak dan menunduk.

“Ternyata… secepat itu muncul gejalanya…” desisnya.

Diangkatnya kepalanya dan melanjutkan langkahnya. Nicole belum ingin Yeon-ah mengetahuinya. Nicole belum ingin seorangpun tahu mengenai hal itu. Belum untuk saat ini… Nicole belum siap untuk mengatakannya. Dia tahu menundapun tidak akan ada efeknya. Namun mempercepat sepertinya justru akan lebih buruk. Langkahnya membawanya ke suatu tempat. Kamar yang sama bersihnya dengan kamar yeon-ah. Tapi bukan yeon-ah penghuninya. Melainkan seorang wanita dewasa yang tak lain adalah umma-nya sendiri. Nicole juga kurang tahu mengapa. Saat ia kembali setelah menelpon dokter, umma dan yeon-ah sudah terbaring di lantai. Mungkin umma terkejut hingga pingsan. Atau mungkin…

“Bagaimana kondisi yeon-ah?” tanya umma.

“Baik.” Jawab Nicole singkat.

“Sangat baik. Mungkin nanti sudah bisa pulang ke rumah.” Lanjutnya.

“Baguslah. Berarti besok senin kalian sudah bisa masuk sekolah.” Ucap umma.

Nicole tersenyum. Senyum yang sangat efektif untuk menenangkan hati setiap orang. Entah ada semacam unsur magis dalam senyumnya atau apa. Tapi senyumnya memang dapat menenangkan jiwa. Mungkin itu adalah karunia dari Tuhan. Karunia bagi ‘gadis yang paling sempurna’.

Esok harinya di sekolah (Kibum pov)…

Aku berdiri setengah bersandar pada tembok dekat pintu kelas Nicole. Kakiku terus diketuk-ketukan ke lantai, seperti orang gugup. Bel pulang berbunyi keras. Menghentikan irama ketukan kakiku.

Segerombolan anak perempuan yang keluar paling awal langsung tertegun melihat aku yang berdiri tepat di sebelah pintu. Aku memaksakan sebuah senyum formalitas.

“Kibum, siapa yang kau tunggu? Apa aku?” tanya seorang gadis tak percaya.

Gadis lain menyikut lengan gadis pertama.

“Apa yang kau katakan!? Pasti kibum datang untuk menungguku.”

Segerombolan anak lelaki ikut menambah keramaian di depan pintu.

“Kibum-ah. Latihan basket dilaksanakan di lapangan. Bukan di depan kelas.” Ucap seorang anak lelaki.

“Arraseo! Aku hanya ada perlu sebentar dengan Nicole.” jawabku cepat.

Gerombolan anak perempuan langsung berteriak histeris.

“Ternyata Nicole!”

“Kita berharap terlalu muluk. ‘Pria yang paling tampan’ pastilah berjodoh dengan ‘gadis paling sempurna’.”

“Ada apa sebenarnya? Bisakah kalian melanjutkan obrolan kalian di tempat lain? Kalian mengganggu orang yang ingin keluar.” Ucap Nicole dari dalam kelas dengan suara yang cukup keras sehingga terdengar hingga ke luar.

Rupanya ia belum bisa keluar dari ruang kelasnya karena gerombolan anak yang merubung di pintu. Gerombolan anak tersebut langsung membuyarkan diri hingga yang tersisa hanya Nicole dan aku.

Nicole berjalan perlahan mendekatiku.

“Jadi ternyata ini penyebabnya.” Desis Nicole.

“Ani. Aku hanya berdiri disini. Mereka mengumpul sendiri tanpa aku minta.” Aku mencoba membela diri.

“Arasseo. Aku hanya bercanda.” Nicole tertawa kecil.

“Candaanmu itu keterlaluan.” Gerutuku.

“Kau yang menanggapinya berlebihan.” Balas Nicole.

Sejenak kami terdiam tanpa tahu harus berbuat apa.

“Jadi?” lanjut Nicole.

“Jadi apa?” aku tidak mengerti.

“Kau tidak mungkin menunggu disini tanpa sebab kan?” tebak Nicole.

Aku tersenyum simpul. Tanganku mulai menggaruk belakang kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Ah.. itu…” aku mulai salah tingkah.

“Apa pulang sekolah kau ada acara?” tanyaku langsung.

Nicole Nampak terkejut.

“Apa kau sedang mengajakku berkencan?” tebak Nicole.

“Tidak. Tidak.” aku mengibaskan tangan kananku.

“Umm… Apa kau mau datang ke latihan basket hari ini? Aku tahu, pasti akan sangat membosankan melihat sekelompok anak laki-laki berlarian kesana kemari hingga senja. Dan kau mungkin hanya bisa duduk di pinggir lapangan. Dan… mungkin juga aku tidak akan memperhatikanmu sama sekali karena aku harus focus pada bola basket.” jelasku gelagapan.

“Aku suka melihat permainan basket.” Ucap Nicole.

“Kau suka basket? Wow! Itu sangat keren. Maksudku, tidak banyak perempuan yang suka basket. Kebanyakan perempuan yang kutemui hanya menyukai pemain basketnya saja. OK! Satu jam lagi, di lapangan basket. Kau akan datang, kan?”

Nicole mengangguk. aku berbalik dan melangkah pergi.

Tidak jauh dari ruang kelas Nicole ternyata jinki sudah menunggu.

“Kau puas?” tanyaku pada jinki.

Jinki mengerling nakal.

“Aigoo… sekarang kau juga cassanova rupanya.” Timpal jinki.

“Terserah kau lah.” Desahku.

Dua jam yang lalu…

Kelasku sedang jam kosong. Guru kami sedang ada keperluan. Jinki menghampiri bangkuku dan menepuk pundakku.

“Bosan sekali! Ayo kita main.” Ajak jinki.

“Main apa?” tanyaku.

“Benar juga. Tidak adakah yang bisa kita lakukan? Aku benar – benar bosan!” keluh jinki.

“Ah! Bagaimana kalau kita bertaruh?” jinki mengeluarkan sebuah uang logam.

“Apa yang akan kita pertaruhkan?”

“Kalau kau kalah, kau harus mengajak Nicole melihat latihan basket kita hari ini.”

“Kalau aku menang?”

Jinki balik melihatku.

“Aku akan berlari mengelilingi lapangan basket sepuluh kali.” Usul jinki.

“Terlalu ringan. Untuk hukumanku pasti efeknya akan terus terasa setelah satu bulan. Semua orang akan menganggapku ada hubungan dengan Nicole.”

“Bukankah kalian memang ada hubungan?”

“Aku dan Nicole hanya teman biasa.” Balasku.

“Tapi kalian begitu dekat akhir – akhir ini.”

“Lee jinki, kita sedang membicarakan mengenai hukumanmu. Dan kau terus mengalihkan topic pembicaraan.”

“Baik. Aku mengerti. Jadi apa yang kau inginkan?”

Aku berpikir sejenak. Hukuman untuk jinki harus setimpal dengan hukumanku. Hukumanku pasti akan meinmbulkan persepsi salah akan aku dan Nicole. Dan itu akan berlangsung sekitar satu bulan. Atau mungkin malah hingga kelulusan. Ah, benar! Bagaimana kalau…?

“Bagaimana kalau push-up 50 kali di tengah lapangan basket dengan pakaian wanita setelah latihan?” usulku dengan senyum nakal.

“Kau ingin aku depresi ya!?” jinki terkejut.

“Tidak. Hanya ingin kau malu saja.” Jawabku enteng.

“Push up aku tidak ada masalah. Sampai seratus kalipun aku terima. Tapi, pakaian wanita … rasanya terlalu memalukan.” Keluh jinki.

“Meminta Nicole melihat latihan basket juga memalukan.”

“Oh ya? Ayo kita bertukar! Aku mengajak Nicole dan kau menggunakan pakaian wanita.”

“Mana mungkin! Jika kau yang menggunakan pakaian wanita, paling hanya anggota basket akan tahu. Tapi jika aku, seisi sekolah akan menunggu hingga akhir latihan untuk melihatku melakukannya. Mungkin malah akan masuk youtube.” Protesku.

“Lagipula… kau belum pernah sekalipun bicara dengan Nicole. Aku bahkan tidak yakin Nicole tahu bahwa kau satu sekolah dengan dia.” Aku tersenyum nakal.

“Yaak! Aku ini kapten team basket. Kau ini Cuma anggota. Secara pangkat seharusnya Nicole jutru lebih mengenalku. Tapi… kau benar juga. Aku merasa dipermalukan sebagai kapten. Masa popularitas kapten kalah oleh popularitas anggota!? Ah, saat ini aku benar – benar haus akan popularitas.”

“Berusahalah lebih keras lagi.” Aku menepuk pundak jinki.

“Lalu bagaimana masalah hukumanmu?” aku mengembalikan topic pembicaraan.

“Aku tidak mau menggunakan pakaian wanita. Cari alternative lain saja.” Saran jinki.

Aku berpikir lagi.

“Aaah… Begini saja. Push up 100 kali di tengah lapangan setelah latihan basket. Setiap kelipatan 10 kau teriakan ‘AKU HAUS POPULARITAS’. Bagaimana?” usulku.

“Sama-sama memalukan.”

“Pakaian wanita atau popularitas?” aku memberikan pilihan.

Jinki berpikir sebentar.

“Popularitas.” Putus jinki. Raut wajahnya Nampak tidak rela. Tapi, ini adalah game. Hukuman bagi yang kalah memang seharusnya tidak enak kan?

Jinki menyiapkan koinnya.

“Aku pegang angka.” Ucapku.

“Berarti aku gambar.” Jinki mengambil kesimpulan.

Jinki sudah bersiap melempar koin.

“Ah, maksudku gambar!” aku mengganti pikiranku.

“Jika kau mengganti pikiranmu lagi, kau akan kalah sebelum game dimulai.” Ancam jinki. Aku hanya tersenyum sambil bergidik ngeri.

Koin dilempar ke atas. Jinki dengan cepat menangkapnya dan menelungkupkannya di punggung tangan kirinya. Perlahan dibukanya. Gambar! Jinki menyeringai ke arahku. Aku mengacak rambutku. Kenapa aku mengubah pilihanku? Sial!

“Padahal aku sudah menyiapkan rencana cadangan jika aku kalah.” Ucap jinki.

Aku mengangkat kepalaku.

“Rencana cadangan?”

“Jika aku kalah, aku akan meliburkan latihan basket hari ini. Tapi ternyata aku menang. Hahaha!!!” jinki tertawa senang.

“Liburkan saja. Aku tidak mau Nicole melihat permainan basketmu yang payah.” usul kibum.

“Oh? Jadi permainanku payah? Baik! Hari ini kau MVP kami! Kau main single saja. Aku dan anggota lainnya akan menonton dari bangku saja.” Usul jinki.

“Kapten, mana ada basket yang hanya dimainkan satu orang? Sudah berapa lama kau kenal basket?” cibirku.

“Sudahlah. Akui itu. Kau kalah. Cepat temui Nicole!” jinki mendorongku keluar kelas.

“Tapi belum bel pulang.” Protesku sambil menahan dorongan jinki di punggungku.

“Sebentar lagi juga bel. Sudah. Kau tunggu saja di depan kelasnya.”

Jinki mendorongku dengan keras dan akhirnya aku mengalah. Dengan setengah hati aku melangkah ke kelas Nicole.

Tapi di tengah jalan…

“Kenapa kalian berkeliaran disini? Sekarang masih jam pelajaran.” Ucap seorang guru yang tanpa sengaja berpapasan dengan kami di lorong.

“Mati kita sekarang.” Bisikku pada jinki.

“Sonsaengnim sendiri, bukankah sedang jam pelajaran… kenapa sonsaengnim berkeliaran disini?” jinki balik bertanya pada guru itu.

Segera kuinjak kaki jinki. Aigoo… Apa sih yang dia pikirkan? Berani sekali dia berkata seperti itu pada seorang sonsaengnim. Jinki meringis kesakitan dan menatapku tajam seolah berakta ‘Jangan ikut campur’.

“Aku ini guru piket.” Jawab sonsaengnim.

“Oh… Jadi ini pekerjaan guru piket.” Jinki tersenyum licik sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kalian sendiri sedang apa disini?”

Jinki sudah membuka mulutnya untuk melanjutkan debatnya. Tapi aku segera menginjak kaki jinki lagi. Kali ini lebih keras. Jinki menjerit agak keras. Jinki balik menyikut perutku dengan keras juga. Aku ikut menjerit. Lalu membungkuk dan memegangi perutku sambil meringis kesakitan.

“Kami harus ke kamar kecil. Kibum sakit perut.” Ucap jinki cepat sambil berpura – pura memegangi punggungku seolah khawatir akan keadaanku.

“Sakit perut?” tanyaku.

Jinki menundukan kepalaku dan menahannya dengan tangannya supaya aku tak lagi bertatap muka dengan sonsaengnim. Jinki memaksakan sebuah senyum di bibirnya.

“Dia sakit?” sonsaengnim Nampak tak percaya dan mencoba menunduk untuk melihat wajahku.

Tapi usahanya gagal karena jinki segera menundukan wajahku lebih ke bawah lagi hingga tengkukku terasa ditekuk kini.

“Ne, sonsaengnim. Kibum terkena diare hari ini. Kemarin dia makan makanan basi.” Jinki mencari alasan.

Aku ingin ikut membela diri. Tapi tenaga jinki terlalu kuat. Hal yang bisa kulakukan hanya melihat lantai dan sepatu jinki.

“Tapi kalian tidak boleh keluar kelas begitu saja.”

“Sonsaengnim, kita sedang berbicara mengenai harga diri seorang pria.”

“Maksudmu?”

“Bayangkan jika flower guy macam kibum melakukan ‘itu’ di dalam ruang kelas.” Jinki setengah berbisik.

Biarpun tidak ada cermin, tapi aku yakin pasti wajahku sudah merah padam saat mendengar jinki mengatakan hal macam ini. Apa jinki ingin menjatuhkan harga diriku di depan guru ini?

“Tapi…” , “Sonsaengnim! Sebagai sesama pria pastinya kau juga bisa mengerti perasaan kibum saat ini!” tegas jinki.

“Apalagi di kelas yang sama, ada kekasih kibum. Apa sonsaengnim bisa membayangkan bagaimana jika hal ‘itu’ sampai terjadi?” bisik jinki lagi.

Sungguh aku tak menyangka jinki akan benar – benar menjatuhkan harga diriku sampai sejatuh ini. Tubuhku langsung lemas. Bagaimana jika guru ini bercerita pada guru lainnya? Bagaimana jika hal ini tersebar luas? Astaga! Apa lebih baik aku bunuh diri saja?

“Lalu apa yang kau tunggu!? Demi harga diri temanmu, cepat pergi ke kamar kecil! Tidakkah kau lihat keadaan temanmu ini!?”

“Ne, sonsaengnim.” Jinki membungkukan badan dan dengan gerakan secepat kilat menarikku pergi.

Setelah kami berada dalam yang cukup jauh dari guru itu, aku segera melepaskan tangan jinki.

“Aman kan?” Jinki tersenyum puas.

“Yaak! Lee jinki, apa kau tahu seberapa gawat akibat dari perbuatanmu itu?” protesku.

“Memang apa yang bisa terjadi?” jinki balik bertanya.

Aku menarik napas panjang dan mengacak rambutku. Tetapi setelah menyadari bahwa di sebelah kami ada cermin besar, aku segera mengambil posisi tegak dan merapikan rambutku lagi.

“Kim kibum!” panggil jinki.

Aku segera menghentikan proses merapikan rambutku.

“Ne?” tanyaku gugup.

Mendadak aku teringat akan topic yang sedang aku bicarakan dengan jinki.

“Oh, iya! Masalah itu! Bagaimana kalau guru itu bercerita pada guru – guru lainnya? Bagaimana kalau akhirnya seisi sekolah tahu akan hal itu? Bagaimana kalau berita ini muncul di internet?” aku meminta pertanggung jawaban jinki.

“Mana mungkin berita macam ini muncul di internet?”

“Mungkin saja!” jawabku yakin.

“Ayolah! Semua orang pernah diare. Bahkan Britney Spears juga pernah diare.” Ucap jinki enteng.

“Darimana kau tahu?” aku terkejut.

“Kau tidak tahu? Aku pikir kau fans beratnya.”

“Memang kapan dia diare?” tanyaku penasaran.

“Dalam rentang waktu 1990 – 2010 pasti setidaknya dia sudah diare satu kali.” Jawab jinki yakin.

Aku melengos kesal dan kembali merapikan rambutku.

“Ayo kita tuntaskan tugasmu!” jinki menarik tanganku.

“Tapi, aku belum selesai. Rambutku masih berantakan.” Aku memprotes.

Tapi jinki tetap menarikku.

=================T.B.C=================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on January 2, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Aku baru tau ada penyakit kayak gt. See, pantas aja kdg yeon ah udh lupa sama yg di lakuin, trnyata itu efek dr pnyakitnya toh. Ok di tunggu lanjutannya!
    *jangan bosen2 ya liat comment dr id ini xD

  2. jinki pasti orangnya asik dijadiin teman…hohohoooohohooooho ^^

  3. ne cntax trjdi ma yeon ah ato ma cole..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: