[FF/S/5] The SORROW TWILIGHT

kkangrii18.wordpress.com

 

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 5 [2852 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

==================================

“Ayo kita tuntaskan tugasmu!” jinki menarik tanganku.

“Tapi, aku belum selesai. Rambutku masih berantakan.” Aku memprotes.

Tapi jinki tetap menarikku.

—————————————————————————-

Jinki terus menarikku dan akhirnya menghempas tubuhku ke tembok dekat pintu kelas Nicole.

“Kau tunggu disini. Aku tunggu disana.” Ucap jinki sambil menunjuk sela tembok yang tidak begitu jauh dari tempat kami berada saat ini.

“Tunggu. Bagaimana kalau kau tunggu disini dan aku tunggu disana?” usulku seraya menunjuk tempat yang baru saja ditunjuk jinki.

Jinki memukul kepalaku.

“Ara. Ara.” Aku mengusap kepalaku dengan bibir mengerucut.

Jinki mengacak rambutku lagi dan segera berlari sebelum aku sempat membalas.

“Aiiissh… rambutku! Bocah itu benar – benar…” aku merapikan rambutku lagi.

@@@

POV yeon ah…

Mana onnie? Dia bilang akan pulang bersama hari ini. Huhh… Entah apa yang ada terjadi padaku. Perlahan aku mulai bisa menerima Nicole. Dia tidak sejahat yang kupikir. Dia memang sempurna. Tapi… terlalu egois jika aku membencinya karena ia sempurna. Kemarin dia terus ada disampingku semenjak aku keluar dari RS. Bahkan ia mengajakku pulang bersama. Tapi, sekarang dimana dia? Apa dia lupa akan janjinya?

Dari kejauhan kulihat Nicole berlari ke arahku. Kenapa ia berlari?

“Mianhe, yeon-ah… Aku terlambat.” Nicole terengah – engah.

“Gwanchana, onnie. Apa kita bisa pulang sekarang? Aku lapar.” Ucapku.

“Ooh.. Mianhe, yeon-ah. Onnie ada janji untuk melihat latihan basket.”

“Umm… Latihan basket ya?” ulangku kecewa.

Nicole merasa tidak enak.

“Begini saja. Aku belikan kau makanan di market dekat sini. Lalu kau tunggu aku sebentar. Setelah latihan basket selesai, kita pulang bersama.” Usul Nicole.

“Umma tidak akan marah?” tanyaku polos.

“Tentu saja tidak. Aku yang akan mengatakannya. Tenang saja.” Nicole tersenyum.

Senyum itu lagi. Aku selalu luluh melihatnya.

Aku mengangguk.

Mendadak terdengar suara ribut dari dua orang pria. Namun begitu mereka melihatku obrolan mereka langsung berhenti seketika. Ah, bukan. Bukan karena melihatku. Tapi karena melihat Nicole. Tidak mungkin mereka menghentikan obrolan mereka hanya karena melihatku.

“Apa ini adikmu?” tanya kibum sambil menunjukku.

“Ne.” jawab Nicole.

Aku membungkuk dan kibum balas membungkuk juga.

“Ah, apa aku bisa minta tolong sebentar?” tanya Nicole.

“Aku harus membeli sesuatu. Bisakah kau jagakan adikku untuku?” pinta Nicole.

“Onnie, aku bukan anak kecil.” Tolakku.

“Hanya sebentar.” Ucap Nicole seraya melangkah pergi.

“Tolong ya.” Pinta Nicole dari kejauhan.

Suasana langsung berubah setelah Nicole pergi. Kami hanya terdiam tanpa menyapa satu sama lain.

“Jinki! Kemana saja kau? Ayo kerjakan tugasmu!” panggil seorang anak laki – laki yang melongok dari jendela.

“Ah, benar juga! Aku ada piket hari ini. Kau tidak apa kutinggal sebentar?” tanya jinki.

Kibum mengangguk tidak rela.

“Adik kecil, oppa pergi sebentar lagi ya.” Jinki melangkah pergi.

Astaga. Apa aku benar – benar seperti anak kecil!? Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?

“Aku kim kibum.” Kibum mengulurkan tangannya.

Aku membalas uluran tangannya. Tangannya hangat. Dan mendadak kehangatan dari tangannya terkonduksi ke seluruh tubuhku. Apalagi setelah aku ingat bahwa pria ini adalah pria yang sama yang kulihat sore itu. Mendadak wajahku jadi panas. Apa karena aku malu? Tak dapat kubayangkan bagaimana ekspresi wajahku saat ini. Sangat kacaukah? Aiissh… Dan kenapa mataku tak bisa lepas dari wajahnya? Seolah ada magnet dalam dirinya yang menarikku.

“Oh, mata itu…” Kibum menatap mataku lekat.

Aku segera mengedipkan mataku. Kenapa dengan mataku? Apa dia menyadari bahwa warnanya berbeda? Apa ia akan menganggapku berbeda juga? Perlahan kibum mendekatkan wajahnya pada wajahku. Mata kami saling beradu dalam jarak yang begitu dekat.

“Matamu cantik sekali.” Puji kibum.

Aigoo!! Aku yakin pasti pipiku sudah semerah tomat saat ini. Aku seolah terbang ke langit ketujuh. Baru pertama kali ini ada orang yang memuji mataku. Haruskah aku bahagia? Jantungku berdetak kencang seakan bom waktu yang hampir meledak. Atau mungkin sudah meledak? Tanpa sadar, sebuah senyum mengembang di bibirku. Senyum yang sangat lebar.

“Matamu juga… cantik.” Aku ganti memuji kibum.

Cantik? Apa yang kukatakan? Bukankah dia namja? Cantik bukan kata yang tepat untuknya. Apa dia akan marah? Ooh… Yeon-ah pabo!!

Perlahan kuberanikan diri menatap matanya. Matanya memang cantik. Bukan. Bukan. Bukan. Maksudku, matanya tampan. Mata yang tampan? Rasanya janggal. Matanya indah. Ya, itu maksudku! Matanya indah. Dan, kenapa wajahnya begitu dekat? Belum pernah ada namja mendekatkan wajahnya sedekat ini padaku. Dan… bibirnya… Bibirnya… Aigoo.. Apa aku akan pingsan sekarang? Tidak. Tidak boleh pingsan. Hanya akan membuatmu malu, park yeon-ah.

“Tuhan, apa yang telah kupikirkan?” tanyaku spontan seraya menggeleng-gelengkan kepalaku.

Kibum segera menjauhkan wajahnya dariku. Detak jantungku sedikit demi sedikit kembali normal.

“Kenapa?” tanya kibum yang tidak mengerti dengan ucapanku.

“Eh? Tidak ada apa –apa. Mendadak ada hal aneh terlintas di benakku.” Ucapku seraya menunduk malu.

“Jangan lihat wajahnya. Jangan lihat wajahnya, park yeon-ah. Lebih baik menunduk saja sampai Nicole kembali.” Ucapku dalam hati.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya kibum.

Aku mengangkat wajahku.

“Benarkah?” aku mencoba berkelit. Tidak mungkin aku menjawab bahwa aku adalah orang yang menabraknya waktu itu.

“Ah… Gadis yang pergi bersama mentari…” ucap kibum lirih.

“Ne?”

“Kibum-ah!!” Nicole tiba – tiba datang tergopoh – gopoh.

“Kalian menunggu lama ya? Lho? Jinki dimana?” tanya Nicole.

“Kau kenal jinki?” tanya kibum yang sebelumnya mengira Nicole tidak mengenal jinki.

“Dia kapten team basket pria kan?”

Kibum menangguk – anggukan kepalanya.

“Ternyata popularitas jinki sudah cukup meningkat. Padahal aku sudah sengaja menentukan hukuman itu supaya popularitasnya meningkat. Yaah… lagipula dia juga menang.” Pikir kibum.

Nicole masih menanti jawaban dari kibum.

“Jinki sedang piket sebentar.” Jawab kibum cepat begitu ia sadar bahwa Nicole masih menunggu jawaban darinya.

“Ooh… Yeon-ah, kau makan ini ya. Onnie ada keperluan sedikit dengan team basket. Kau tidak apa kan onnie tidak menepati janji hari ini?” Nicole menyerahkan sekotak makanan siap makan padaku.

“Apa kau ada rencana dengan adikmu? Kalau kau ada rencana, kau tidak perlu menonton latihan kami. Toh, itu hanya latihan.” Kibum merasa tidak enak.

“Gwaenchana, op… ppa.” mendadak terasa tidak enak bagiku memanggilnya oppa. Ini adalah pertama kalinya aku memanggil oppa pada orang lain. Well, aku tidak punya oppa dan aku belum ada teman lelaki sebelumnya.

“Aku tidak apa. Aku juga sedang malas pulang ke rumah. Lagipula onnie berjanji untuk mengantarku pulang. Biarpun terlambat, yang penting ditepati kan?” Lanjutku.

“Benar tidak apa?” kibum mencoba mengkonfirmasi.

Aku mengangguk kuat – kuat. Sebenarnya, justru malah aku yang ingin melihat latihan basket. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku tertarik pada basket. Seingatku prestasi olahragaku cenderung menengah ke bawah dan aku tidak pernah berhasil sekalipun memasukan bola ke ring. Tapi… aku ingin melihat orang ini lebih lama lagi. Oh,tidak. Pemikiranku ini… kenapa makin mirip dengan gadis – gadis yang berteriak – teriak di pinggir lapangan basket? Apa aku juga akan menjadi seperti mereka? Tidak! Tidak!

“Kibum-ah! Latihan sudah hampir dimulai. Cepat ganti baju.” Panggil jinki dari kejauhan.

“Kapan kau ganti baju?” kibum terkejut melihat jinki yang sudah siap dalam seragam basketnya.

Jinki menunjukkan jam tangan digitalnya mengisyaratkan kibum bahwa waktu terbatas. Kibum melihat kea rah Nicole seolah meminta persetujuan. Nicole mengangguk untuk memberikan ijin. Kibum bergegas berlari kearah jinki. Nicole kini balik menatapku.

“Onnie juga harus kesana. Apa kau mau ikut?” Nicole menunjuk lapangan basket.

“Tentu saja. Umm… maksudku, aku akan kesana sebentar lagi.” Jawabku gelagapan.

Kenapa kau jadi begini park yeon-ah? Sangat memalukan.

“Aku tunggu.” Nicole tersenyum dan meninggalkanku.

Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan. Kemarin aku masih menanggap tabu semua hal yang baru saja kulakukan hari ini. Tapi sekarang aku melakukannya tanpa beban seolah hanya rutinitas biasa semacam makan, minum dan lain – lain. Apa aku sudah berubah? Apa kepalaku ada gangguan karena jatuh kemarin? Atau aku sudah gila? Aiissh…

“Kakak dan adik ternyata memang sama saja ya.” Haejin menatapku sinis.

Kim haejin? Apa lagi yang akan dia lakukan?

“Kenapa kau mendekati oppa juga? Ternyata kau sama genitnya dengan kakakmu.” Sindir haejin.

Aku hanya menatapnya dingin. Percuma beradu debat dengan kim haejin. Hanya akan membuat telinga panas. Lebih baik biarkan dia bicara hingga lelah lalu tinggalkan dia.

“Ingat, park yeon-ah. Jangan dekati kibum oppa. Lagipula… apa kau pikir oppa akan tertarik padamu? Jika kakakmu, aku masih menaruh sedikit simpati. Tapi, pada park yeon-ah… Ciiih!” cibir haejin.

Setelah puas memakiku, haejin pergi meninggalkanku. Tempat berikut yang ia tuju sudah dapat kutebak. Lapangan basket. Semua anak perempuan di sekolah ini pasti sekarang sedang berada disana. Termasuk Nicole. Apa aku juga harus kesana? Menggabungkan diri dengan gadis – gadis itu. Atau tidak?

Kuputuskan untuk melihat sebentar ke lapangan. Riuh teriakan gadis memenuhi tempat itu. Kibum Nampak begitu lihai memainkan bola basket di tangannya. Dioper kesana kemari dengan berbagai macam gerak tipu. Nicole duduk manis di pinggir lapangan. Namun matanya lincah mengikuti arah gerak bola.

Kurasakan seorang terus mengamatiku. Dan setelah kutemukan, segera aku menyesal bahwa aku menyadari mata itu. Sepasang mata milik Kim haejin menatapku tajam dari pinggir lapangan, tidak jauh dari tempat Nicole berada. Huh, mulai muak aku dengan gadis itu. Lebih baik aku pergi dari tempat ini. Biarpun aku masih ingin melihat ‘dia’.

Langkahku kembali mambawaku ke tanah kosong di belakang sekolah. Masih sama seperti saat terakhir aku meninggalkannya. Sepi… Tenang… Aku duduk di tempat yang sama dengan tempatku duduk dua hari lalu. Aku teringat dulu aku pernah meninggalkan sesuatu disini. Masih adakah? Atau sudah di ambil orang lain?

Masih…

Kertas itu masih ada di tempat yang sama. Lebih baik kuambil balik saja. Akan sangat memalukan jika ada orang yang membacanya. Tapi… sepertinya ada yang berbeda dengan kertas ini. Kubuka sedikt – demi sedikit lipatannya. Tulisan ini… bukan tulisanku. Dan isinya juga sudah berubah.

Semasa rasa tak selalu cahaya bersinar bagi jiwa

Ada kala musuh malam dilalap habis raksasa hitam

Namun hitampun tak mutlak kuasanya

Kala pula hitam mati jadi abu sisa api

Dan cahaya kembali asal api dari abu si hitam

Aku tersenyum sendiri membacanya. Isinya ternyata sangat sesuai dengan keadaanku saat ini. Tapi, siapa yang membalasnya? Setahuku hampir tidak ada orang yang mengunjungi tempat ini. Apa dia anak sekolah ini? Atau orang yang kebetulan sedang berada di sekitar sekolah ini?

“Tidak ada salahnya untuk bertanya.” Pikirku.

Tanganku kembali menari di kertas.

Tutur terbukti kini

Sungguh ajaib teori jadi fakta

Namun tanya muncul di kepala

Siapa gerangan manusia sudi membalas papa?

Begini mungkin sudah cukup. Singkat dan jelas. Aku hanya ingin tahu siapa dia. Apakah pria atau wanita? Berapa usianya? Kenapa dia membalas tulisanku? Karena ia orang baik? Karena iseng? Atau karena kurang kerjaan?

Lalu.. apa yang akan kulakukan sekarang? Aku malas ke lapangan. Pasti haejin akan menatapku dari kejauhan dengan sinis. Dan saat Nicole tidak ada di sebelahku, ia akan mulai mencaciku lagi. Tanganku ternyata masih memegang makanan dari Nicole. Apa aku makan saja? Ah, nafsu makanku sudah hilang. Akhirnya aku memutuskan duduk manis sambil sesekali tersenyum sendiri mengingat ‘dia’.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Dia… mungkin adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Mengingat tidak banyak pria yang kutemui sebelumnya. Senyumnya mungkin tidak seajaib senyum Nicole. Senyum Nicole mampu membuatku tenang. Tapi senyum kibum membuat jantungku berdetak seribu kali lebih cepat. Membuat wajahku memerah. Membuat mataku membulat memandang wajahnya. Baru kali ini aku merasakannya.

Tunggu! Apa ini yang namanya cinta? Aku jatuh cinta? Benarkah? Agak geli aku mengakuinya.

Tapi… park yeon-ah jatuh cinta pada kim kibum? Apa kata dunia? Gadis yang hanya dianggap angin lalu jatuh cinta dengan ‘pria yang paling tampan’. Apa mungkin?

Ah, kembalilah pada kenyataan! Mungkin kepalaku terbentur sesuatu dan mengalami gangguan. Lagipula, pikirkan secara logis. Jika aku menyukai kim kibum, itu berarti aku harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan gadis lain. Aku tidak pernah suka persaingan. Aku lebih suka mundur sebelum perang. Bukankah lebih aman tanpa luka? Toh aku juga tidak mungkin menang.

“Yeon-ah…” suara seorang pria membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh.

Ternyata kibum.

Kibum berjalan perlahan dan duduk di sebelahku. Wajahnya Nampak letih namun tetap bercahaya. Apa bermain basket begitu melelahkan? Keringatnya benar – benar banyak. Rambutnya basah. Bajunya sampai melekat dengan tubuh karena keringat. Napasnya masih memburu.

“Kenapa bersembunyi disini?” tanya kibum.

“Apa latihannya sudah selesai?” aku balik bertanya tanpa memperdulikan pertanyaan kibum.

Kibum mengangguk. Butir keringat di pelipisnya ikut mengalir karena gerakan kepala kibum.

“Nicole pasti khawatir mencarimu. Ayo kita temui dia.” Ajak kibum.

“Cepat sekali latihannya.” Ucapku yang masih ingin berada disini.

“Sekarang sudah jam setengah lima. Matahari juga sudah hampir tenggelam. Latihan basket biasa selesai saat matahari hampr tenggelam.” Kibum menunjuk ke atas.

Benar juga. Langit sudah berwarna orange pucat dengan busur merah yang perlahan turun ke bawah.

“Sepertinya aku baru sebentar berada disini.” Gumamku dengan tatapan masih ke atas.

Kibum nampaknya mengerti akan maksudku.

“Ok! Kita duduk disini sepuluh menit lagi. Lalu kita temui kakakmu.” Putus kibum.

Aku menatap kibum tak percaya. Apa dia bisa membaca pikiranku? Kibum mengambil handuk yang dikalungkan di lehernya dan mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Sungguh, kini tak sedikitpun aku bisa melepas mataku dari wajahnya. Setiap gerak – geriknya akan kurekam jelas dalam otakku. Tak dapat kupercaya, aku tengah duduk berdampingan dengan kim kibum.

Kibum yang menyadari bahwa aku sedang mengamatinya menoleh ke arahku. Membuatku langsung salah tingkah. Aku lagsung mengganti arah pandangku ke langit atas.

“Warna langitnya cantik ya.” Aku mencoba berkelit.

Kibum tersenyum geli melihat tingkahku.

“Umm… cantik. Tapi, terasa sedih.” Kibum ikut menatap ke atas.

“Sedih?”

“Ne. Menurutku warnanya sedih sekali.”

“Bukankah orange adalah warna yang ceria bagi kebanyakan orang?”

“Bukan. Bukan orange. Warna ini… menurutku adalah merah darah dengan campuran putih pucat. Warna yang sedih.” Raut wajah kibum berubah menjadi begitu dalam dan sendu.

“Bukankah merah dicampur putih akan jadi orange?” balasku tak mau kalah.

“Yah, campuran dua warna yang sedih akan jadi satu warna yang ceria. Tapi, tetap saja… unsur merah darah dan putih pucat itu akan tetap ada dalam orange.” Kibum mengambil kesimpulan.

Aku menatap wajahnya lekat. Ternyata pemikirannya dalam juga. Aku pikir kibum hanya anak basket biasa. Tapi mungkin dia lebih dari sekedar pria biasa.

Kibum balik menatapku. Mata kami kembali bertemu. Namun kali ini aku tidak berkelit seperti biasa. Apakah pada akhirnya aku berani menatap matanya? Jantungku berdetak lebih cepat lagi. Ah, kenapa selalu begini setiap aku menatapnya? Kibum mendekat. Jarak wajah kami kini tidak sampai sejengkal. Mungkin lebih dekat dari saat kibum mendekatkan wajahnya padaku terakhir kali. Kali ini sungguh dekat. Hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya tepat di wajahku. Hangat rasanya. Sama hangat dengan tangannya saat kami bersalaman waktu itu. Apa yang akan ia lakukan kini? Mengatakan mataku indah lagi. Atau…?

Kibum mendekat lagi dan agak memiringkan kepalanya. Kini puncak hidungnya sudah menyentuh pipiku. Mataku spontan menutup tanpa kuperintah. Dan perlahan bibirnya pun menyentuh bibrku. Yeon-ah pabo. Kenapa tidak menyadarinya sejak awal? Jika seorang pria mendekatkan wajahnya pada seorang wanita dan dalam tiga detik dia tidak mengatakan ‘matamu indah’ itu berarti dia akan… menciummu…

Beberapa detik kemudian (pov kibum)…

“Mianhe…” yeon-ah bangkit berdiri dan membungkukan tubuhnya di hadapan aku yang masih duduk.

Dan segera berlari untuk mencari Nicole.

Aku yang masih terduduk meraba bibirku sendiri. Lalu terdiam sejenak melihat matahari yang sekarang sudah sepenuhnya tenggelam.

“Benar, kan? Dia pergi bersama mentari…” gumamku seraya tersenyum tipis.

Lalu aku bangkit berdiri, namun mataku mendadak tertuju pada celah pohon tempatku bersandar tadi.

“Apa masih kertas yang sama?”aku mengambil kertas itu.

Ternyata sudah berganti. Aku membacanya.

“Jadi dia ingin tahu siapa aku. Beritahu atau tidak ya?” aku mulai ragu.

Dan akhirnya aku kembali menulis sesuatu dan meletakannya di celah itu lagi.

Yeon-ah pov…

“Onnie!” aku berlari kearah Nicole yang masih sibuk mencariku.

“Yeon-ah, kemana saja kau?” Nicole berjalan mendekatiku.

“A… aku… Aku, aku tadi ada di kamar kecil.” Aku member alasan.

“Ke kamar kecil sampai selama itu? Aku mencarimu hampir setengah jam.”

“Hehe… Kamar kecilnya penuh. Aku harus mengantri.”

“Maksudmu kamar kecil yang ada di sekolah? Bukankah sekarang jam pulang sekolah sudah lama berlalu, masa masih sepenuh itu?”

“Aku tidak menggunakan kamar mandi sekolah. Kamar mandi sekolah agak kotor. Aku menggunakan kamar mandi di supermarket.” Aku terus berkelit.

“Jauh sekali. Apa kau tidak lelah?”

“Tidak. Umm… Maksudku, tentu saja lelah! Maka dari itu, ayo kita pulang onnie. Aku sudah lapar.” Ajakku.

“Kenapa makanan yang aku belikan tidak kau makan dulu?” Nicole melihat makanan yang masih kupegang.

“Aku ingin makan masakan rumah. Makanan ini sepertinya mengandung bahan kimia yang tidak baik untuk tubuh. Sudahlah onnie. Aku lapar. Ayo pulang.” Aku menarik tangan Nicole.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Akhirnya aku dan Nicole tiba di rumah. Apa umma akan marah karena kami pulang terlambat? Jika aku pulang terlambat sendirian, pasti umma akan marah besar. Tapi jika aku pulang terlambat dengan Nicole…

“Umma, aku pulang.” Ucap Nicole begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Nicole, kenapa kau pulang terlambat?” umma Nampak cemas.

“Aku melihat latihan basket sebentar. Ada teman yang mengajakku.” Jawab Nicole jujur.

Umma mengangguk – anggukkan kepalanya. Lalu mendadak menatapku tajam.

“Dan kau?” tanya umma dingin.

“Dia menonton bersamaku.” Nicole mencoba melindungiku.

“Baguslah.” Jawab umma singkat.

“Ayo Nicole ganti bajumu lalu kita makan.” Umma setengah menarik Nicole.

Aku yang masih berada di dekat pintu hanya dapat melihat mereka dengan mata coklatku. Ada sedikit rasa iri memang melihat hubungan ibu dan anak itu. Mengingat hubunganku dengan umma yang tidak begitu baik. Tapi, aku mengerti umma. Umma membenciku karena appa kan? Karena umma terlalu mencintai appa. Dan aku menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa appa. Tenang umma. Aku mengerti. Aku sungguh mengerti sekarang.

Dan aku melakukan hal yang sama lagi. Berjalan masuk ke kamarku sendirian. Menaiki tangga sendirian. Memasuki kamar sendirian. Sudah terbiasa aku dengan semua ini. Aku mengganti pakaianku dengan kaos yang nyaman di pakai. Lalu melihat ke cermin. Dia masih ada disana. Dia yang dulu begitu aku benci. Bayanganku sendiri…

“Sampai kapan kau akan ada disana? Tidak bisakan kau menghilang saja?”

=================T.B.C=================

©2010 Reann’s Story

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on January 2, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Hai author. Btw enak nya panggil siapa nih?🙂
    wah kayak nya key suka nih ma yeon ah. Udah kliatan dari gelagat nya *sok tahu*
    key lucu bgt di sini, suka ma chara nya. Dan deskripsi ttg warna itu bgs loh. Ok, lanjut

  2. yang gg aku mengerti isi surat itu apaan sih?? *dasar babo nih anak* hehehe

  3. apa benih2 cinta mulai tmbuh d dlm hti kibum bwt yeon ah.. rda ga ngrti mkzud suratx, aq bkn anag sastra sih..

  4. annyeong..
    author numpang baca ya kekeke, awalnya gara2 ini di posting di shinnendonesia forum, gak dilanjutin lagi kan ya? jadi penasaran banget😦 untung ada link blog ini yang jadi sigggy author, jadi bisa baca lanjutannya yeee

    lompat ke chapter lainnya ya misiii😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: