[FF/S/2] Don’t Cry My Love

TITLE : DON’T CRY MY LOVE

AUTHOR : Areta Annora a.k.a “REANN”

GENRE : Romance

LENGHT : Part 2 [3093 words]

RATE : STRAIGHT/NC

CAST :

– Song Hyena/Kim Haejin a.k.a YOU-Readers

– Lee Donghae

– Park Yeon-ah

– Kim Jonghyun

– Lee Hyukjae

DISCLAIMER : I ONLY HAVE THE PLOT STORY, Steal it? You die… xDD

================================================

“Aku mengenalnya.. Dia…”

Seseorang mendeting-detingkan bel meminta pesanan minuman membuat ucapan Yeon-ah menggantung di udara.

“Apa aku bisa bicara sebentar denganmu?” tanya pria di depan mereka yang kini duduk di kursi konter bar.

“Huh? Aku?” Yeon-ah menunjuk dirinya sendiri.

“Iya pabo, siapa lagi?” pria itu berbalik.

“Yaa.. Kim Jonghyun, tidak bisakah kau berlaku lebih lembut pada seorang wanita?”

“No!! I can’t..,” ujarnya seraya menyunggingkan senyum, hampir terlihat menyeringai. Yeon-ah mencibir dan beranjak dari konter bar, meninggalkan Hyena yang masih menunggu jawaban darinya.

“Nanti saja, oke?”

Hyena mengangguk lemah dan kembali menuangkan sebotol minuman berwarna pekat ke dalam gelas yang telah berisi beberapa es batu.

“Kau tidak bilang apa-apa pada Haejin tentang Donghae-ssi kan?” tanya Jonghyun mengawali pembicaraan mereka.

Yeon-ah memicingkan sebelah matanya.

“Sebenarnya ada apa antara Haejin dan Donghae?” Yeon-ah balik bertanya dan menatap Jonghyun dengan tatapan curiga.

Sementara

Jonghyun hanya mengedikkan kedua bahunya, sebagai jawaban atas pertanyaan Yeon-ah.

“Donghae hanya menyuruhku agar tidak membeberkan identitasnya di depan Yeon-ah,” ujarnya.

“Dan lagi… “, Jonghyun mendekatkan wajahnya – beberapa centi lebih dekat dari wajah Yeon-ah. Hyena tidak sengaja tengah mengamati mereka, merasa bergidik melihatnya.

“Dia memintaku agar menyampaikan ini padamu. Karena kaulah yang akrab dengan Hyena..,” bisik Jonghyun tepat di telinga Yeon-ah. Yeon-ah menjauhkan wajahnya dari wajah Jonghyun dan menatapnya bingung.

“Katakan pada Haejin, bahwa Donghae ingin dia yang mengantarkan minuman,” sambung Jonghyun. Ia berbalik ke konter bar, mengambil nampan dengan beberapa gelas yang terletak di dalamnya dan menghilang entah ke mana.

“Sudah selesai?” tanya Hyena saat mendapati Yeon-ah tengah menuangkan sebotol vodka ke dalam gelas. Yeon-ah hanya mengangguk seraya meletakkan gelas tsb di atas nampan.

Kini tatapan Haejin tepaku pada Hyena dan tersenyum saat didapatinya Hyena juga tengah menatapnya seolah menantikan jawaban yang ia janjikan.

“Namanya Lee Donghae…. dan ini, tolong kau antarkan padanya ya?” Yeon-ah menyodorkan sebuah nampan pada Hyena.

“Uhh?? Donghae? Minuman ini? Padanya?” kaget Hyena seraya menunjuk ke arah Donghae yang sedang menatapnya. Donghae terheran saat menyadari Hyena yang tengah menunjuk-nunjuk ke arahnya.

“Iya, antarkan padanya. Kulihat tadi kau berangkat bersamanya. Kalian pasti teman karib kan? Asal kau tau saja, teman karibmu itu pelanggan setia kita,” jelas Yeon-ah.

“Tapi aku seorang bartender. Bukan tugasku untuk mengantar minuman!” timpal Hyena kesal.

“Apa boleh buat? Jika pelanggan meminta, maka kita harus melayaninya dengan sebaik mungkin. Kepuasan pelanggan adalah kepuasan kita juga kan?” Yeon-ah mengerjapkan matanya berkali-kali pada Hyena, berharap Hyena segera sadar apa yang ia maksud.

“Baiklah…” Hyena menyerah dan membawa nampan itu menuju bar di mana pria bernama Donghae sedang duduk manis di sana.

Hyena meletakkan nampan itu sedikit kasar hingga terdengar tumbukan antara nampan dan meja.

“Kau mengganggu pekerjaanku, LEE DONGHAE!!!” tukas Hyena.

“WOW.. Kau sudah tahu namaku rupanya.”

“Haejin-ah, tolong bawa nampan ini ke lantai atas, oke? Aku ingin meneguknya seraya menikmati pemandangan Seoul di malam hari. Ini akan lebih menyenangkan dibanding dengan minum di sini diiringi hingar bingar musik yang bisa memekkakan gendang telingaku,” ujar Donghae seraya berjalan menuju tangga. Hyena pasrah mengikuti di belakangnya.

Hyena terkejut saat mendapati lantai atas yang terbuka, tanpa sebuah atap. Suasana yang benar-benar berbeda dengan di lantai bawah. Ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya, menyibakkan beberapa helai rambutnya. Hyena meletakkan nampan itu di sebuah meja kaca yang mengkilat dibawah pantulan sinar rembulan. Tempat yang menjadi pilihan Donghae untuk meneguk minuman yang ia pesan. Cukup strategis, terletak di sudut dengan 2 kursi yang menghadap ke arah pagar. Memudahkan bagi siapa saja yang duduk di sana untuk menatap ke luar pagar, di mana kerlap kerlip lampu di pinggiran jalan dapat tertangkap jelas oleh sudut mata.

Donghae meneguk vodka, kemudian menarik lengan Hyena hingga ia terduduk di kursi yang berdekatan dengannya.

“Kau mau?” tawar Donghae. Haejin menatapnya dengan sebelah alisnya yang terangkat.

“Ahh, tidak tidak. Jam kerjamu masih lama. Bisa-bisa kau dipecat karena mabuk saat sedang bekerja,” sambung Donghae seraya kembali meneguk vodka. Hyena hanya bergumam lirih menanggapi ucapan Donghae.

“Heii, Haejin-ah.. Mengapa kau diam saja? Ayolah bicara sesuatu…” pinta Donghae.

“Hmm… sepertinya aku harus kembali ke konter bar. Kau bisa mengobrol denganku nanti saat jam kerjaku usai, bagaimana?” tawar Hyena.

“Tidak bisa. Aku telah menyewamu, jadi kau harus menemaniku sampai waktu yang akan ku tentukan nanti..” Donghae tersenyum penuh arti pada Hyena yang sedang menatapnya sebal.

“Menyewaku? Apa maksudmu?” Nada suara Hyena meninggi.

“Iya, aku menyewamu dengan biaya yang cukup membuat kantongku mengering. Aku meminta pada atasanmu agar kau dibebaskan dari pekerjaanmu malam ini! Sebagai gantinya, aku harus membayar sebesar gajimu selama seminggu. Benar-benar menyebalkan!” sungut Donghae.

“Tapi aku tidak pernah memintamu melakukannya. Dan lagi, untuk apa kau melakukan semua ini? Seperti orang bodoh saja…” Hyena tertawa kecil kemudian mengalihkan pandangannya pada benda langit berbentuk bulan sabit di kelilingi benda-benda lainnya yang nampak ukurannya lebih kecil namun berkelap-kelip memancarkan cahaya. Berbeda dengan rembulan yang hanya memantulkan cahaya.

Hyena beranjak dan berjalan mendekati pagar. Kedua tangannya menggenggam erat pagar. Perlahan ia menutup kelopak matanya dan menghirup udara dalam-dalam. Merasakan kesegarannya… dan menghembuskannya. Begitu berkali-kali ia lakukan hingga ia merasakan pikirannya jernih, sejernih udara yang ia hirup. Penat yang tadi ia rasakan

tak lagi ia rasakan kini. Dan beban pikiran yang sering memberatkannya akhir-akhir ini tersapu begitu saja oleh udara yang ia hirup dan menghilang bersama dengan udara yang ia hembuskan. Hyena membuka kelopak matanya perlahan, kemudian kembali memandang rembulan. Ia menyadarinya kini, meski Hyena tak lagi bisa menikmati hangatnya sinar mentari di pagi hari namun ia masih bisa menikmati hangatnya pantulan sinar matahari oleh sang rembulan. Pendar cahaya yang sempurna… Hyena yakin betul, jika pendar cahaya berwarna keperakan tsb mengenai wajah seseorang, maka ia akan terlihat sangat anggun.

“Kau benar. Namun lebih tepat jika kau mengatakan bahwa aku adalah orang bodoh bukan seperti orang bodoh,” ucap Donghae tiba-tiba yang kini telah berdiri di samping Haejin, membuyarkan angannya.

“Asal kau tahu, aku bodoh juga karenamu Song Hyena. Kau telah membuatku menyukaimu, membutakan segalanya. Aku bisa mendengar, tapi hakikatnya aku tuli. Sama sekali tak ingin kudengarkan anggapan buruk mereka tentangmu. Aku bisa melihat, tapi aku buta. Aku tak ingin melihat gadis di sisiku, selain dirimu. Kau, karena kau aku seperti ini Song Hyena!!” Donghae menerawang langit yang bertaburan bintang, sementara Hyena terlampau kaget dengan apa yang baru saja Donghae ucapkan.

Hyena memejamkan matanya sekali lagi, sama seperti sebelumnya. Namun kali ini dengan tujuan untuk memastikan apakah ia sedang berada di alam mimpi atau nyata. Dan ketika kelopak matanya terbuka perlahan-perlahan… ia sadar sepenuhnya… Ini bukan mimpi!

“Kau mengenalku?” tanya Hyena lirih, namun cukup untuk bisa didengar lawan bicaranya.

“Ya, sangat mengenalmu. Aku mengenalmu melebihi aku mengenal diriku sendiri.” Donghae tersenyum tipis kemudian memainkan matanya untuk melihat ekspresi Haejin setelah mendengar ucapannya. Tidak berubah. Gadis itu benar-benar sulit ditebak ekspresinya, pikir Donghae.

“Bagaimana bisa?”

“Huh? Ternyata kau sama bodohnya denganku,” ujar Donghae seraya mengusap pelan puncak kepala Hyena. Senyumnya melebar, tawanya siap meledak ketika melihat ekspresi bodoh Song Hyena.

Tangannya memegang kedua bahu Hyena, memaksanya untuk mengubah posisi berdirinya hingga kini, mereka saling berhadapan juga bertatapan.

“Gadis dengan perolehan nilai terbaik, pemegang peringkat paralel, merupakan mahasiswi Hanguk University, seorang aktifis, pemerhati kesehatan orang-orang di sekitarnya, seorang relawati ketika terjadi musibah yang memakan banyak korban. Gadis itu, tak lain dan tak bukan adalah Song Hyena. Siapa mahasiswa Hanguk University yang tak mengenalnya?”

“Jadi .. kau…”

“Benar, aku mahasiswa Hanguk University. Mengambil jurusan yang sama denganmu. Bedanya aku satu tingkat lebih atas darimu…” potong Donghae cepat. “Satu lagi, pertama kali aku bertemu denganmu adalah saat seminar. Saat itu kau benar-benar membuat jantungku berdetak tidak normal, rasanya jantung ini ingin meloncat keluar dari rongga dada.”

Hyena hanya berdiri terpaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Entah mengapa, ia merasa seperti baru saja mendapatkan tekanan beban yang memberatkan pikirannya.

“Donghae-ssi.. Sejujurnya aku tidak tau apa yang harus kukatakan padamu. Aku hanya ingin kau membuang jauh-jauh perasaanmu padaku. Aku tidak ingin kau…”

Donghae meletakkan jari telunjuknya di bibir Hyena, membuat gadis itu tak lagi meneruskan kalimatnya.

“Aku mencintaimu, Hyena. Tulus.., aku sanggup menerima konskuensi apapun. Aku tidak pernah memaksamu untuk juga mencintaiku. Pernah aku sakit hati dengan kenyataan bahwa kau pernah memiliki seorang kekasih. Dan yang lebih menyakitkan lagi bahwa pria itu tak bisa membuatmu cukup bahagia, tak bisa mengukir senyuman indah di wajahmu.”

Donghae merengkuh Hyena dalam dekapannya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak seirama dengan jantung Hyena, seolah memang diciptakan sepasang untuk saling bersatu.

“Akhirnya aku bisa menemukanmu, Song Hyena dan memastikan bahwa kau baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup bagiku. Jangan pernah letih menanggung beban cobaan hidup, tetaplah tersenyum menjalaninya. Aku akan selalu ada di sisimu, bersama kita hadapi cobaan ini…”

“Tidak Donghae..” Hyena mendongakkan kepalanya. Matanya yang sayu menatap sepasang mata milik Donghae. “Cobaan yang diberikan Tuhan kepadaku, biarlah aku yang menjalaninya. Sekuat apapun badai berusaha menumbangkanku aku akan tetap bertahan, hingga takdir memanggilku untuk kembali pada-Nya.”

Hyena melepaskan dekapan Donghae yang memberi kehangatan pada tubuhnya.

“Aku harap kau bisa merahasiakan identitasku Donghae-ssi,” harap Hyena

“Tidak bisa,” jawab Donghae membuatnya terkena tatapan sengit dari Hyena.

“Aku tidak bisa membiarkanmu seorang diri menanggung semua cobaan ini. Aku tidak bisa, tak akan pernah bisa. Jadilah wanitaku Hyena, dengan begitu semua rahasiamu aman. Dan kita bisa memulai semua ini dari awal untuk terus menggapai impian, tanpa menoleh kebelakang di mana masa lalu yang akan menjadi hambatannya…”

Donghae tersenyum penuh arti memicu emosi Hyena.

“Apa maksudmu? Kau bilang…” ucap Hyena dengan intonasi nada yang cukup tinggi, namun terputus karena Donghae segera menimpali ucapannya.

“Hmm, memang benar. Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku. Tapi kali ini aku memaksamu untuk menjadi kekasihku. Aku hanya ingin melindungimu Hyena, tidak lebih. Sampai nanti kau temukan pendamping hidupmu.. maka aku akan melepasmu. Bagaimana?” tawar Donghae

“Ingat! Kau berhutang budi padaku. Dan lagi, dengan keberadaanku sebagai kekasihmu maka hal tsb membuatmu aman dari gangguan pria yang bernama Lee Hyukjae.” Donghae kembali duduk dan meneguk segelas vodka sampai habis.

“Pikirkan baik-baik, Hyena. Dan eumm… jangan khawatir. Untuk kedepannya aku akan terus memanggilmu dengan nama, Kim Haejin.”

“Maafkan aku telah mengganggu jam kerjamu. Kau bisa kembali bekerja sekarang. Rasanya semua hal sudah kukatakan padamu, jadi tak perlu hingga jam kerjamu usai. Annyeong..” Donghae melangkah pergi meninggalkan

Hyena yang masih berdiam diri di antara kebimbangan yang melandanya. Segera ia tersadar dan berjalan membawa nampan dengan gelas kosong di atasnya. Ia kembali meyibukkan diri dalam pekerjaannya sebagai seorang bartender. Namun rasanya tak mudah melakukan hal tsb, tawaran Donghae tadi terus saja terngiang-ngiang dalam benaknya.

“How jerk you are, Lee Donghae!” batinnya.

————————

Sebulan telah berlalu… Itu artinya, sudah 31 hari Hyena bekerja sebagai bartender di ‘mASS’ Club. Dan sudah sebulan tepat Hyena menjalin hubungan kontrak dengan pria bernama Lee Donghae. Well… Hyena menerima tawaran Donghae untuk menjadi kekasihnya. Awalnya ia ragu dengan keputusan yang dibuatnya. Namun, ketika segala sesuatunya telah berjalan.. dan Hyena merasa nyaman, ia semakin yakin bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang paling tepat.

Donghae pria yang baik, Hyena tau akan hal itu. Dan karena alasan itulah Hyena juga mau menerima Donghae sebagai kekasihnya.

Meski Hyena menjalin suatu hubungan karena sebuah keterpaksaan, namun ia merasa nyaman seiring berjalannya waktu. Terkadang ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan. Rasa yang hanya dapat dipahami oleh kalbunya, sedangkan akal hanya bisa tertegun kebingungan. Akalnya berusaha untuk mengungkapkan rasa dalam bentuk kata-kata, tetapi ia tidak mampu.

Maka, bagaimanakah Haejin harus mengartikan perasaan yang bergejolak dalam kalbunya? Terkadang ia menyukai sisi Donghae yang selalu memberikan kenyamanan padanya. Pria itu bahkan rela menjadikan dirinya sendiri sebagai batang yang kokoh, tempat untuk Hyena bersandar… sebagai buku diary, tempat untuk mendengarkan segala keluh kesah Hyena.

Terkadang Hyena juga merasa tak nyaman di buatnya. Donghae overprotective terhadapnya. Ia tak akan membiarkan Hyena berjalan di malam hari saat berangkat kerja maupun pulang kerja, meski hanya selangkahpun tanpa Donghae di sisinya. Dengan kata lain, Donghae senantiasa mengantarnya baik berangkat kerja maupun pada saat pulangnya. Hal yang membuat Hyena merasa dirinya menjadi orang yang paling menyusahkan bagi orang lain. Pernah ia meminta Donghae untuk tidak lagi melakukan hal bodoh tsb. Mengantar Hyena dan menunggunya hingga jam kerjanya usai lalu mengantarnya pulang. Siapapun akan menganggap hal tsb tidak wajar. Siapa yang rela menunggu seseorang berjam-jam hingga larut malam, dan dengan tulusnya menjadi sopir pribadi bagi orang yang ditungguinya? Sekalipun orang yang ditungguinya adalah kekasihnya.. Namun Donghae… pria itu mengatakan bahwa menunggu memang hal yang amat membosankan, namun menunggu untuk sesuatu yang pasti dan kebahagian yang akan diperolehnya ketika ia mengakhiri penantiannya adalah hal yang amat menyenangkan. Tak peduli berapa lama waktu yang ia lewatkan hanya untuk menunggu hal semacam itu baginya. Dan lagi, karena ia mengambil jam kuliah pada malam hari. Tak mengapa bagi Hyena jika memang itu alasannya.

*

“Haejin-ah.. Apa kau tau?” tanya Donghae, masih memfokuskan pandangannya pada jalanan

Hyena tidak menjawabnya melainkan dengan sebuah tarikan napas yang dalam dan tatapan yang menghujam mata Donghae.

“Sebenarnya appartment di mana aku tinggal berada di samping rumahmu,”

ujar Donghae.

“Tidak kusangka sebelumnya, aku tengah mencarimu kemana-mana. Dan keberadaanmu ternyata sangat dekat denganku, tanpa kucaripun bahkan aku bisa menemukanmu,”

“Haejin-ah, kuharap kau tidak marah karena tidak kukatakan hal ini padamu sebelumnya..” sambung Donghae.

“Tidak, aku sama sekali tidak marah padamu. Justru aku senang karenanya. Dengan begitu, kau tidak akan menghabiskan banyak biaya bensin untuk mengantarku pulang pergi,” tutur Hyena.

“Benarkah? Kukira kau senang mengingat kau bisa dengan mudahnya bertemu denganku.” Donghae melirik Hyena sekilas, berjaga-jaga apabila gadis itu hendak mencubitnya atau memukulnya. Tapi nyatanya tidak, Hyena lebih memilih untuk mengawasi jalanan yang nampak dari jendela mobilnya. Ia menurunkan kaca mobil, ingin merasakan udara segar yang berhembus di malam hari. Begitu akrab dengannya, berbeda saat ia merasakan hembusan udara di pagi hari ataupun siang hari di mana ia tak lagi sering merasakannya. Ia hanya bisa menikmati suasana alam di malam hari, tidak di siang hari waktu baginya untuk beristirahat. Pekerjaan ini benar-benar mengubah pola hidup Hyena. Ia bagai terlempar dalam suatu tempat terasing di dunia, namun dengan mudahnya ia bisa menyesuaikan diri dengan habitat barunya.

Hyena membenamkan bola matanya dibalik kelopak matanya, menikmati setiap desiran angin yang menerpa kulit wajahnya. Kembali ia membuka kelopak matanya saat seseorang menggenggam jemarinya lembut, diiringi senyuman yang nampak menghiasi kedua sudut bibirnya. Senyuman yang menyingkap perasaan yang tak dapat dimengerti oleh akalnya.

“Sudah sampai,” ujar Donghae singkat. Hyena mendesah kesal begitu pub tempat ia kerja berada di hadapannya.

*

“Ting… ting..,” sebuah dentingan suara, seperti lonceng membuat Hyena mengalihkan tatapannya pada sosok yang tengah membunyikannya. Namun ia memilih untuk tidak peduli, kembali memusatkan konsentrasi pada gelas yang tergenggam di tangan kirinya dan lap di tangan kanannya. Kembali terdengar bunyi yang sama untuk kali kedua.

“Yaa, Jonghyun-ah.. Kau ini tidak sabaran ya?” ujar Yeon-ah seraya mendekati Jonghyun yang hendak menyampaikan sesuatu.

“Aku tidak bermaksud menyampaikan pesanan minuman,” tukas Jonghyun.

“Lalu?” tanya Yeon-ah tak mengerti dengan sebelah alisnya yang terangkat.

“Memanggil seseorang..” jawab Jonghyun singkat seraya melayangkan pandangannya pada sosok yang tengah sibuk menata gelas.

“Seseorang? Apa..”

“Bukan dirimu,” Jonghyun menatap Yeon-ah, berusaha menebak-nebak ekspresi yang akan membayangi wajah gadis itu tatkala ia kembali berkata, “Aku memanggil Haejin. Tapi… mengapa malah kau yang datang?” ucapnya memasang tampang seolah kecewa.

“Ohh, Begitu? MAAFFF Aku tidak tahu!!”

“Heyy kau… Mengapa seperti orang marah begitu? Apa aku membuatmu marah?”

Atau..” Jonghyun memiringkan kepalanya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yeon-ah. “Emm.. kau cemburu kan?” ledeknya. Seketika itu, rona merah menghiasi wajah Yeon-ah. Bukan karena malu, tapi karena kekesalannya terhadap Jonghyun.

“Ciihh, siapa bilang?” ketus Yeon-ah.

“Pabo!! Seorang anak kecil pun jika melihat raut wajahmu akan menilai bahwa kau sedang dilanda cemburu sosial..”

“Tenanglah Jagi. Cintaku hanya untukmu semata…” ujar Jonghyun masih dengan intonasi yang terdengar meledek.

“Hmm.. Kalian ini, sepasang kekasih yang aneh!” timpal Hyena sudah terduduk di samping Yeon-ah tanpa mereka sadari.

“Kau dan Donghae juga!!” sahut Jonghyun dan Yeon-ah bersamaan. Kemudian mereka saling memandang heran sesaat sebelum kembali memutuskan untuk mengacuhkan satu sama lain.

“Seorang pelanggan memintamu mengantar pesanannya,” ucap Jonghyun pada Hyena.

“Katakan pada Donghae! Jangan mengganggu pekerjaan Haejin..” Yeon-ah menimpali.

“Sayangnya dia bukan Donghae,” nada suara Jonghyun terdengar menyesal, meski sedikit dibuat-buat.

“Cepatlah, dia menantimu di sana,” ujar Jonghyun menunjuk pada sofa di mana sosok pria tengah menikmati hingar bingar musik dalam duduknya.

“Haejin-ah, bukankah pria itu… Err… Jangan-jangan dia memang menyukaimu. Ya sudah, kau antarkan saja. Dan cepatlah kembali setelah urusanmu selesai…” ujar Yeon-ah menasehati.

*

Eunhyuk tersenyum penuh arti saat ia mendapati Hyena yang sedang melangkah mendekatinya dengan membawa minuman pesanannya.

Hyena meletakkan gelas itu tanpa rasa takut sebagaimana biasa ketika ia berhadapan dengan Eunhyuk.

“Gomawo, Kim Haejin,” ujar Eunhyuk menekankan nada pada ‘Kim Haejin’.

“Akhirnya, aku memanggil namamu dengan Kim Haejin. Meski aku masih ragu hingga saat ini, namun…” ucapan Eunhyuk terpotong saat dengan cepat Haejin menyelanya, “Pelanggan yang terhormat, pesanan anda sudah saya antarkan. Begitu pula dengan keinginan anda agar saya mengantarkan pesanan ini, sudah terpenuhi. Demikian, hingga sekarang saya harus kembali bekerja..” Hyena sedikit membungkukkan badan sebelum akhirnya ia berbalik meninggalkan Eunhyuk. Namun langkahnya terhenti ketika Eunhyuk kembali berkata, “Ini mengenai pria bernama Lee Donghae. Akan kukatakan padamu apa yang kuketahui tentangnya. Duduklah jika kau memang ingin mengetahuinya. Aku tidak akan melukaimu, percayalah.. Aku memang pria yang buruk perangainya, Kim Haejin. Tapi kau tak perlu khawatir karenanya. Meski begitu, aku adalah sosok pria yang bertanggung jawab atas segala tutur katanya yang terucap…”

Hyena mencoba menatap Eunhyuk, mencari-cari kebenaran yang terpancar dari wajah pria itu. Dan akhirnya Hyena memutuskan untuk mendengarkan apa yang akan Eunhyuk ceritakan mengenai kekasihnya, Lee Donghae.

“Duduklah sejenak. Ini tidak akan memakan waktu lama…” ujar Eunhyuk.

**

“PARK YEON-AH!! Jika kau memang mengakuiku sebagai sahabatmu, maka katakanlah padaku! Apa semua ini benar?” Hyena mencengkeram kedua bahu Yeon-ah erat, seakan tak ingin membiarkannya pergi sebelum ia menjawab pertanyaan Hyena.

Malam semakin larut, pub pun sudah akan ditutup. Hanya tersisa bartender, waiters, dan pegawai pub lainnya. Kini Hyena tengah mencegat niat Yeon-ah yang hendak pulang, tepat di depan pintu kaca – pintu masuk club.

“Aku… Aku…” Yeon-ah tergagap. Ia benar-benar bingung dengan jawaban apa yang akan diberikannya pada Hyena.

“Jawab Yeon-ah!! Katakan ya benar atau tidak, maka aku tidak akan memaksamu lagi untuk menjawab pertanyaanku..” Hyena terus mendesak sahabatnya dengan tatapan yang menghujam tajam.

“Ya.. Benar, itu memang benar. Tapi kuharap kau bersikap dewasa Haejin-ah. Donghae mencintaimu dengan tulus, bahkan semua orang di pub ini tahu akan hal itu. Haejin-ah… aku pulang dulu. Sudah larut, annyeong…” Yeon-ah meninggalkan Hyena yang tengah berdiri mematung di depan pintu masuk pub. Tak lama setelah itu, suara klakson mobil menyadarkan dirinya dari ketertegunan. Segala macam pikiran berkecamuk dalam benaknya saat melihat sosok pria yang turun dari mobil tsb.

“Maafkan aku jagi, aku sedikit terlambat. Aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji, tak akan terulang lagi hal ini…”

===================TBC===================

A.N :

Hehehehe, maaf yakk updatenya lama… Mohon dicheck juga ya? Coz blm smpet ngedit FF ini udah buru2 di post. Di ketik pas ngantuk pula #gapen

Buat yang gag komen gag bkalan dapet pw buat ngakses last chapternya … LoL

——————————————————-

©2011 Reann’s Fan Fiction

Please comment.. ^^ If you have trouble just comment at my other account Facebook or Twitter

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on January 16, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 20 Comments.

  1. huh,jonghyun ngerecokin .. !
    donghae siapa sih ??
    org gk waras ?? *donghae:ambil golok*
    atau pemilik pub tmpat hyejin kerja ??

    kok aneh bget sih donghae .. T.T
    yeon-ah donghae siapa sih ?? hah ? *pelototin yeon-ah*
    jonghyun .. ! *gantian pelototin jjong*
    *ditendang author,krn kbnykan protes*

  2. ternyata udah di update!!
    Yey! Jjong muncul!!
    Jadi penasaran Donghae itu siapa sih? Misterius banget! Trus Eunhyuk tadi cerita apa ke Hyena? Eunhyuk benar2 mencurigakan nih!

    Update soon

    • Hehehe, aku updatenya seminggu sekali .. #gubrak.. Maaf bgt ya kalo terlalu lma buat chingu, mksh bgt dah baca n koment😀

  3. Halah,,bnyk slh ketik tuwh. Admin ga bnr :p

    oia,mobilnya donghae msti gda ACnya ya?

    Btw,,disini ad Sm*sh blast ga? Jng lupa, kunjungi http://www.smash.com ya? Gomawo, salam cenatcenut.,muaaachh.

    • Ni mesti kerjaannya uzi ama Fany? Dasar, kalian ini emang duo nyampah xP Mentang2 di group gag bsa nyampah lg larinya ke blogku -,-

  4. Aku suka!
    Hihi…

    Duh,kok ada smashblast sih!
    Bkn gatel mata.
    Aku kan elf

  5. Q jg elf koq. Tp q jg sm*sh blast. Jd q elf blast.

    Salam cenat cenut,so 13elieve their prom15e..

  6. sistaa xDD
    aye ng-like aj y, soal na uda cmmen d grup sii, hoho
    ngmong2 tdi akk smpet cek k grup, trnyta yg cmmen epep mu bnyk #gapen
    oiaa..mumpung in malem uda ultah na kmu, akk ucpin slamat ultah lgi y, hoho😀

  7. Maaf ya telat komen ><
    cerita nya bagus dhe
    dong hae nya sweet, trnyata dia tulus ma hye na
    oke, update please

  8. makin penasaran ni sebenarnya hae tu siapa?

  9. sebenernya donghae itu siapa? Kenapa haejin ampe marah kayak gitu?

  10. eoh? donge siapa emang?
    Pemilik pub kah?
    Aduh hyukjae tampang.nya emang tampang badboy ;P
    cocok banget karakter dia disini hoho

  11. Ada apa Lagi ini thor ? Penasaran.
    Untng udh ada part 3 nya. . . Kekeke

  12. Kenapa tu hyena sampai marah ƍįıƭÛ
    Apa Ɣªήğ enhyuk omongin n sebenarnya siapa donghae !??

  13. Eunhyuk cerita apaa sih ke haejin tentang donghae , smpe bkin haejin esmosi ???

  14. Wah wah.. Apa yg eunhyuk bilang ttg donghae kepada hyena? Hyena kok jd ngamuk gtu?
    Tp sepertinya hae terlihat tulus kok.. Mungkin ini hanya salah paham aja.
    Keren ff nya.. Lanjut ya…

  15. Penasaran…sebenernya donghae itu siapa???…..yg punya pub kah??…

  16. Apa yg dikatakan hyukie ke hyena? Hinga buat hyena marah kek gitu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: