[FF/S/4/PG-15] Don’t Cry My Love – End

TITLE : DON’T CRY MY LOVE

AUTHOR : Areta Annora a.k.a “REANN”

GENRE : Romance

LENGTH : Part 4 [1730 words]

RATE : STRAIGHT

CAST :

– Song Hyena/Kim Haejin a.k.a YOU-Readers

– Lee Donghae

– Park Yeon-ah

– Kim Jonghyun

– Lee Hyukjae

DISCLAIMER : I ONLY HAVE THE PLOT STORY, Steal it? You die… xDD

===================================


eringain lebar tercipta saat Donghae mendapati wajah Hyena berwarna keperakan itu. Oh, betapa anggunnya. Dengan cepat Donghae melepas baju dan kaos yang membalut tubuhnya dan melemparnya asal hingga nampaklah dadanya yang bidang dan lekukan di perutnya yang seksi.

Hyena amat terkesiap saat Donghae memegang bahunya erat dan merebahkan tubuhnya pelan diranjang. Terlebih saat Donghae menindih tubuhnya.

-SKIP-

*******************************************************

Pagi hari ~~~~

Donghae dan Hyena masih tertidur lelap dibalut oleh selimut. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, namun mereka masih belum terjaga. Donghae masih tertidur dengan memeluk Hyena erat. Hingga akhirnya alarm handphone Donghae yang tergeletak di atas buffet berbunyi nyaring. Donghae pun terbangun. Ia membuka matanya perlahan kemudian menatap sosok wanita yang tengah tertidur pulas di hadapannya.

“Uhh, kepalaku! Pening sekali,” keluh Donghae. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalaman. Tapi percuma, tak terbayang apapun dalam benaknya. Yang Donghae ingat hanyalah ia melarikan diri dari rumah orang tuanya kemudian menyewa kamar hotel dan meminum terlalu banyak alkohol. Selebihnya, ia sama sekali tak tau apa yang terjadi.

Donghae melihat ke arah di balik selimut.

“Oh my God!!” kagetnya. Jelas saja ia kaget. Ia melihat tubuhnya naked tak tertutupi sehelai benangpun. Begitu pula tubuh wanita di sampingnya. Ditatapnya wajah Hyena. Ia nampak pucat di dalam tidurnya.

“Argghhh!!! Kau gila Lee Donghae!! Aissshhh… Bagaimana ini?” panik Donghae. Ia bergegas mengambil pakaiannya yang tergeletak tak karuan itu dan buru-buru memakainya sebelum Hyena terbangun.

“Ya Tuhan… apa yang harus kukatakan nanti?? Lee Donghae kau benar-benar bodoh! Kenapa kau melakukannya? Pasti dia akan sangat… Argghhh!!”

Semenjak tadi Donghae hanya mondar mandir di kamar hotel. Ia semakin panik ketika menatap wajah Hyena. Dan akhirnya, orang yang ditakutinya sekarang sudah terjaga. Hyena membuka matanya perlahan dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Kemudian ia terduduk di tepi ranjang dengan selimut yang masih membalut tubuhnya. Donghae terdiam. Hyena menatap Donghae dengan aura kebencian yang begitu mendalam. Tanpa berkata-kata, spontan Hyena beranjak dari ranjang kemudian mendekat ke arah Donghae dan…

“PLAKKKK!!!”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Donghae. Donghae hanya bisa meringis dan memegangi pipinya yang habis kena tampar. Ia merasa ia pantas mendapatkannya.

Hyena menatap Donghae begitu tajam dan berkata, “Donghae-ssi, ingin sekali aku memarahimu, membentakmu sekeras yang kubisa, memakimu sekencang-kencangnya, memukulmu. Tapi aku sadar, aku Song Hyena. Dan itu bukan sifatku. Aku begitu menyesal Lee Donghae. Aku menyesal telah mengkhawatirkanmu. Aku menyesal telah mengantarmu. Aku menyesal telah menolak kembali pernyataan cinta Eunhyuk hanya karenamu. Dan satu lagi penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku menyesal karena terlanjur mencintaimu dan tak mungkin bisa melupakanmu. Puas kau menghancurkan hidupku, huh? Puas kau dengan apa yang telah kau dapatkan?” Hyena terisak. Air mata mengalir begitu derasnya tanpa kuasa ia bendung lagi.

“KAU GILA LEE DONGHAE! KAU GILAA!!” pekik Hyena dengan suara paraunya.

“Kau akan menikah nanti malam. DAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN, BODOH?!” tangis Hyena semakin menjadi-jadi. Mendadak tubuhnya melemas. Pikirannya teramat kacau, tertekan beban yang begitu berat. Ia muak melihat sosok di hadapannya. Segera

Ia bergegas hendak mengambil pakaiannya namun Donghae menariknya dan memeluk tubuh Hyena. Hyena berteriak meronta-ronta masih dengan isak tangisnya yang tak kunjung berhenti.

“Lepaskan aku! Jangan pernah sentuh aku lagi!” Hyena memberontak, namun Donghae malah mendekapnya lebih erat dan mengusap pelan puncak kepalanya.

“Dengarkan aku, Hyena.. aku mohon!” pinta Donghae.

“Apalagi? Apa kau masih belum puas, HUH?”

“Tidak, Hyena. Aku tidak ada maksud untuk melakukan hal ini, Hyena. Semua yang terjadi ini benar-benar diluar kesadaranku. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Jadi aku mohon jangan menangis lagi. Berhentilah. Jangan pernah menangisi kebahagian yang ada di hadapan kita. Kau adalah wanita terkuat yang pernah kujumpai. Sekuat apapun badai berusaha menumbangkanmu bahkan kau tidak menangis dan terus tetap bertahan. Jangan pernah menangis lagi, aku akan selalu ada untukmu.”

“Kebahagian apa yang kau maksud, huh?” tanya Hyena dengan suara paraunya.

“Kita akan pergi dari tempat ini. Pergi dari Korea. Jauh… menuju suatu tempat, di mana mereka tak akan bisa menemukan kita,”

“Donghae, jangan bercanda!. Nanti malam adalah acara pernikahanmu,” tukas Hyena.

“Aku tidak peduli, Hyena! Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku hanya mencintaimu! Aku tidak bisa menikahi perempuan selain dirimu…..,”

Hyena terdiam. Kau bisa membayangkan betapa sulitnya berada di posisi Hyena. Apa yang akan kau lakukan jika kau menjadi Hyena? Apa kau akan menuruti ucapan Donghae dan pergi dari Korea tanpa meninggalkan jejak sedikitpun? Kau pikir hal tsb akan semudah itu? Kau pikir orang tua Donghae tidak akan berusaha mencarinya? Lalu bagaimana dengan nasib wanita yang menjadi calon istri Donghae? Ayolah Hyena, pikirkan baik-baik.

“Donghae-ssi, bagaimana dengan Haerin? Apa kau tidak memikirkan bagaimana nanti perasaannya?”

“Ayolah sayang, kau lebih membutuhkanku. Dan kurasa meninggalkan Haerin lebih baik dibanding harus menikahinya karena keterpaksaan…,”

“Tidak ada waktu lagi. Cepatlah kau bergegas mandi. Aku sudah menyiapkan 2 tiket pesawat kemarin. Jangan sampai orang tuaku menemukan keberadaanku,” Donghae melepas dekapannya dan menatap Hyena dalam.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Percayalah padaku, takdir mempertemukan kita bukan untuk memisahkan kita, tapi untuk membuat kita bersama. Jika memang ini jalan satu-satunya, mengapa tidak?”

“Tapi mereka orang tuamu? Dan kau adalah putera satu-satunya, apa kau tega?”

“Mereka akan mengerti suatu saat,” Ucap Donghae seraya mengecup kening Hyena, meyakinkannya.

**********************************************************

Waktu menunjukkan pukul 07.o0 pagi. Satu jam lagi pesawat menuju Shanghai akan lepas landas. Kini Hyena tengah membersihkan diri di kamar mandi. Begitu pula dengan Donghae yang memilih kamar mandi hotel yang berada di dekat dining room.

Hyena membiarkan wajahnya tersapu oleh segarnya air yang mengalir dari shower. Ia kembali memikirkan keputusannya matang-matang. Benarkah melarikan diri adalah jalan yang terbaik? Hanya ada 2 pilihan yang dihadapkan padanya. Tetap di Korea, yang artinya mau tidak mau ia harus merelakan Donghae menikahi perempuan selain dirinya.

Lalu bagaimana dengannya? Bagaimana dengan janin yang mungkin akan dikandungnya nanti? Hyena hamil, itu sudah pasti. Apakah ia akan membiarkan sang ayah dari anak yang dikandungnya menikahi perempuan selain dirinya? Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga Donghae harus bertanggung jawab. Dan satu-satunya cara adalah melarikan diri bersama Donghae. Seperti pengecut memang. Tapi mereka pergi untuk memperoleh kebahagiaan mereka. Untuk membebaskan cinta di antara mereka yang terkurung dalam sangkar. Membiarkan sepasang sayap cinta terbang bebas, mengarungi langit nan indah. Menjalin kehidupan baru mereka, itu akan terasa lebih indah dari kehidupan pahit yang Hyena dan Donghae alami selama ini. Namun, pastilah ada pihak yang akan tersakiti nantinya. Pihak yang merasa ditinggalkan.

Hyena memejamkan matanya, berusaha meninggikan egonya. Untuk kali ini saja ia ingin mengacuhkan segalanya. Ia begitu yakin dengan keputusan yang di ambilnya.

“Mereka akan mengerti suatu saat,” ucapan Donghae kembali terngiang jelas dalam benak Hyena.

******************************************************

Donghae dan Hyena bergegas keluar kamar menuju parkiran mobil. Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak membawa koper yang berisikan baju ataupun barang lainnya. Begitu pula dengan Hyena yang tidak terlebih dahulu kembali ke rumahnya untuk mengemasi barang-barangnya.

Hanya dengan 2 tiket, dompet, dan handphone yang Donghae bawa. Hyena pun masih mengenakan blouse kerjanya dipadu dengan rok. Juga tas yang tergenggam ditangannya yang hanya berisi dompet dan handphone.

“Mengapa kau nampak cemas begitu, sayang?” tanya Donghae di sela aktifitasnya yang sedang mengemudikan mobil.

“Aku hanya bingung. Bagaimana nanti kita akan hidup di Shanghai, di tempat yang bahkan sama sekali belum pernah kita kunjungi,” jawab Hyena.

“Aku mempunyai saudara di sana. Mereka pasti akan membantu kita, dan jangan khawatir tentang biaya hidup. Aku masih memiliki tabungan juga pub yang dipegang oleh orang kupercayai. Kita bisa memulainya dari awal. Kau pun bisa melanjutkan studymu yang tertunda. Kita suami istri sekarang Haejin. Meskipun kita belum menikah, namun aku adalah ayah yang sah dari anak yang akan kau kandung. Dan kau adalah ibunya,” ucap Donghae disertai dengan satu kali kerjapan mata.

Hyena mencibir mendengarnya. Sempat terpikirkan olehnya bahwa Donghae sengaja melakukan tindakan semalam. Namun segera tertepis mengingat kondisi Donghae yang sedang mabuk. Apakah semua orang yang mabuk berat juga akan melakukan hal yang sama dengan Donghae jika berhadapan dengan gadis yang dicintainya? Entahlah…

“Donghae-ssi, bagaimana jika orang tuamu mengetahui keberadaan kita?” tanya Hyena cemas.

Donghae menatap Hyena serius seolah berusaha meyakinkan gadis sampingnya hanya dengan sorot mata yang terpancar dari bola mata milik Donghae.

“Lantas, apa yang sanggup mereka lakukan? Mereka tidak akan pernah bisa memisahkan kita. Sesampai di Shanghai, aku akan langsung menikahimu!” tukas Donghae.

Hyena merasa mendapatkan kekuatan baru

setelah mendengarnya. Well, hanya ucapan Donghae yang bisa membuatnya begitu yakin. Juga ucapan Donghae lah yang senantiasa menguatkannya di saat ia merasakan apa yang dinamakan ‘rapuh’.

“Kita akan hidup bahagia, sayang. Percayalah… Karena aku tak akan pernah membiarkanmu menangis lagi, meski sebutir air matapun,” ujar Donghae tersenyum seraya menatap Hyena dalam, seolah ingin menelusup masuk ke dalam matanya.

Hyena hanya membalas tatapannya dengan sebuah anggukan juga gumaman yang sangat lirih, hampir tak terdengar.

“Aku percaya.. Donghae-ssi!”

Kemudian Hyena mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, dan nampak mengetikkan sebuah pesan singkat dan mengirimkannya. Sebentar lagi mereka akan sampai di bandara.

*****************************************

Donghae dan Hyena benar-benar akan pergi meninggalkan Korea. Mereka sudah sampai di Seoul Airport. Dan kini mereka melangkah menuju pesawat yang 10 menit lagi akan lepas landas.

“Hyena, ayo.. Tunggu apa lagi?” ujar Donghae saat langkahnya terhenti, karena langkah Hyena yang juga terhenti. Hyena hanya menggigit bibir bawahnya cemas. Pandangannya ia sapukan ke seluruh sudut bandara seolah sedang menanti kedatangan seseorang.

“Siapa yang sedang kau tunggu?” tanya Donghae ingin tahu.

Nampak dari pintu masuk, 2 orang tengah melambai-lambaikan tangan pada Hyena dan Donghae.

“Nah, itu dia..,” ucap Hyena tersenyum.

“Jonghyun? Yeon-ah?” ucap Donghae tak percaya.

“Yaakk! Kalian ini, kenapa pergi terlalu mendadak sih?” protes Yeon-ah disela nafasnya yang memburu. Yeon-ah dan Jonghyun buru-buru menyusul mereka ke bandara setelah mendapat pesan singkat dari Hyena.

“Kisah cinta kalian sungguh mengharukan. Lebih mengharukan dari kisah Romeo dan Juliet,” cetus Jonghyun.

“HUH? Tapi kisah kami berakhir dengan kebahagiaan?” timpal Donghae.

“Apa kalian akan kembali ke Korea lagi?” tanya Yeon-ah, mengubah suasana dalam sekejap.

“Tentu saja. Jika keadaan memungkinkan kami pasti akan kembali kemari,” jawab Hyena.

“Oh, aku lupa. Ini, kutitipkan padamu. Tidak mengapa kan?” ucap Hyena seraya menyerahkan sebuah kunci rumah. Yeon-ah menerimanya dan menatapnya heran.

“Pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Kami pamit dulu. Annyeong…,” ujar Donghae seraya menggandeng tangan Hyena, mengisyaratkan padanya agar cepat menuju pesawat.

“Hiduplah bahagia di sana! ! ” samar-samar teriakan Yeon-ah terdengar. Hyena dan Donghae melambaikan tangannya satu kali lagi sebelum akhirnya tubuh mereka lenyap dibalik pintu masuk pesawat.

Kini mereka duduk berdampingan dan memasang seatbelt. Entah mengapa air mata bergulir perlahan dari kelopak mata Hyena. Ia merasa seperti akan meninggalkan segala kehidupan yang selama ini ia bangun. Dan memulai segalanya dari awal. Mungkin akan ada tangis juga tawa di kehidupan barunya. Dan inilah tangisnya untuk mengakhiri kehidupannya sekaligus mengawali kehidupan barunya. Hyena tidak menginginkan kehidupan barunya diawali dengan tawa dan diakhiri dengan tangis sebagaimana kehidupan yang ia jalani sebelumnya. Kehidupan baru yang ia dambakan adalah di awali dengan tangis dan diakhiri dengan tawa kebahagiaan.

*FIN

About kkangrii

| Moslem |

Posted on February 10, 2011, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. ckckck, mesumnya dicut. Baguslah, kasian yg mau baca. Ribet. Hrus minta pw segala. Kurang panjang nih, mesti kebut bikinnya? Kata2 bagian akhrnya aku suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: