[FF/PG-15] Last Story #1 “Memories”

CAST :
* Kusuma Boedi – KEY SHINee
* Bernadette Van Heutsz – Fina
* John Whittaker – Jonghyun SHINee
* Juffrow Marie – AUTHOR
* Jefri – Onew SHINee

LENGHT : (3391 words)

GENRE : Romance, Mistery,

RATE : STRAIGHT/PG-15

SETTING :

Purworejo tepatnya di desa Bagelen. Desa yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

A.N :
Maaf banget. Dalam FF kali ini aku ga make nama asli member ;_; . Dikarenakan latar yang mendesak, hehehe.

 

—————————————————-

LAST STORY

Part 1

(Memories)

– September, 1957 –

Kusuma tengah duduk menikmati nuansa senja di balkon rumahnya. Begitulah kebiasaannya untuk menghilangkan rasa lelah di seluruh persendian tubuhnya setelah bekerja keras sepanjang hari, memugar rumah joglo-nya.

Rumah yang ia pugar kini, dibangun pada tahun 1728, sehingga termasuk salah satu rumah tertua juga paling besar di kawasan Purworejo. Kusuma membelinya persis setelah 10 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia sudah menghabiskan waktu selama setahun dan sejumlah uang untuk memugarnya kembali. Beberapa minggu yang lalu, seorang reporter dari harian ‘Indonesia Merdeka’ menulis artikel tentang rumah joglo ini. Menurut pendapatnya, hasil renovasi rumah joglo itu merupakan yang terbaik dari yang pernah ia lihat sejauh ini.

Rumah joglo (rumah adat Jawa) tsb terletak di tepi Sungai Bogowonto, dengan hamparan tanah seluas empat hektar. Dan Kusuma sedang menangani pengerjaan pagar kayu yang membatasi rumah tsb, dengan mengecek bagian-bagian yang sudah rapuh atau dimakan rayap, juga mengganti tonggak-tonggaknya bilamana perlu.

Kusuma bergegas masuk kemudian mandi. Baru setelah itu ia kembali ke balkon dengan mengenakan celana jeans lusuh dan sehelai kemeja biru berlengan panjang. Ia menuang lagi segelas teh manis dari teko dan kembali duduk termenung menikmati suasana malam yang menghangatkan.

Tiba-tiba sosok ayahnya muncul dalam benak Kusuma, dan ia menyadari betapa ia sangat merindukan ayahnya.

Ia mengalihkan pikirannya. Mulai menghitung di luar kepala berapa banyak tabungan yang telah dihabiskannya hanya untuk merenovasi rumah joglo ini, di mana kenangan indah berawal dari sini.

Kusuma Boedi – pria berusia tiga puluh satu tahun sekarang. Tidak terlalu tua, tapi cukup tua untuk merasa kesepian. Ia belum menikah. Well, karena ia belum menemukan seorang pun yang dapat menggugah minatnya. Ia tahu, itu karena kesalahannya sendiri. Ada sesuatu yang menimbulkan jarak antara dirinya dengan wanita mana pun yang mulai akrab dengannya. Sesuatu yang ia sendiri tidak yakin dapat ia ubah, meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga. Terkadang, ia suka mempertanyakan apakah memang sudah takdirnya untuk tetap sendirian selamanya?

Malam terus berlalu, tetap hangat dan menenangkan. Kusuma mendengarkan suara jangkrik, tokek (sejenis kadal), dan desir dedaunan yang tersapu angin. Ia menganggap suara-suara alam lebih bersahabat dibandingkan suara benda seperti mobil, motor, ataupun pesawat. Ada saat-saat selama pergerakan nasionalisme hingga perang dalam mempertahankan kemerdekaan RI, ia sangat mengangankan bunyi-bunyi sederhana ini.

“Suara-suara alam akan membuatmu berpikir lebih dewasa,” begitu pesan ayahnya sebelum Tuhan memanggilnya untuk kembali ke sisi-Nya. “Suara alam adalah musik anugerah Tuhan, dan akan membawamu kembali pulang pada-Nya.”

Ia meneguk tehnya hingga habis, lalu masuk ke dalam dan mengambil sebuah buku. Kemudian ia menyalakan lampu balkon sambil berjalan kembali keluar. Setelah duduk lagi, ia mengalihkan perhatian pada bukunya. Buku itu sudah tua, sampulnya sobek, dan di halaman-halaman tampak bekas lumpur dan air karena kebanjiran. Judulnya ‘Sayap Sayap Patah’ karangan Kahlil Gibran. Buku wangsit dari ayahnya ini selalu mengingatkannya pada seseorang.

Ia mengusap sampulnya, menepiskan debu di atasnya. Kemudian ia membukanya dan membaca kata-kata di hadapannya.

‘Sebuah pemikiran akan datang pada kalian di keheningan malam, yang akan mengangkatmu menuju kemegahan atau membimbingmu menuju kegilaan. Satu pandangan dari mata seorang perempuan membuatmu menjadi lelaki paling gembira atau paling nestapa di dunia. Satu kata yang terlontar dari bibir seorang lelaki akan membuatmu kaya sesudah miskin atau sebaliknya, membuatmu miskin sesudah kaya.’

Ia tersenyum dalam hati. Entah mengapa Gibran selalu mengingatkan dirinya akan Purworejo dan kenangan bersama seseorang. Ia bersyukur bisa kembali kemari setelah meninggalkan tempat ini selama empat belas tahun. Kusuma banyak mengenal orang di si, kebanyakan dari masa mudanya.

Teman dekatnya belakangan ini adalah Jefri (Jinki). Kusuma mulai menganggap Jefri sebagai keluarga. Ia memang tidak memiliki siapa-siapa lagi, setidaknya sejak ayahnya meninggal tahun lalu. Ia lahir sebagai sebagai anak tunggal; ibunya meninggal ketika melahirkannya. Dan ia juga belum menikah, meski dulu ia pernah menginginkannya.

Tapi ia pernah jatuh cinta, itu ia tahu. Dulu dan hanya satu kali. Sudah lama sekali tesjadi. Dan peristiwa itu telah mengubah dirinya selamanya. Cinta sejati memang meninggalkan efek seperti itu pada seseorang, dan yang pernah ia alami memang cinta sejati.

Awan-awan yang berarak dari arah pantai Gelagah perlahan-lahan mulai bergulung melintasi langit kelam, berubah menjadi warna perak terkena pantulan sinar bulan. Sementara langit semakin gelap, ia menyandarkan kepala pada punggung kursi goyangnya. Pikirannya mulai kembali ke suatu malam hangat seperti ini, sekitar empat belas tahun yang lalu.

Peristiwanya persis setelah mengunjungi pertunjukan wayang di alun-alun kota Purworejo. Ia tiba di sana sendirian, dan saat sedang menyusup di antara orang banyak, mencari teman-temannya. Ia melihat Jefri dan Marie (Author) sedang berbincang-bincang dengan seorang gadis yang belum pernah ia lihat. Gadis itu cantik, seingatnya. Ketika Kusuma memutuskan untuk bergabung, si gadis menyapanya dengan sepasang mata yang menatapnya lembut. “Hai.” Ia pun mengulurkan tangannya seraya kembali berkata “Marie sudah bercerita banyak padaku tentang kau.”

Sesuatu awal yang biasa, yang mungkin akan terlupakan seandainya gadis itu adalah orang lain. Tapi saat Kusuma menyambut uluran tangannya dan menatap mata birunya yang mempesona, ia menyadari sesuatu sebelum sempat menarik napas berikutnya. Bahwa ia boleh menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari gadis seperti ini. Begitu bagus, kesannya mengenai gadis itu.

Setelah kejadian itu, Marie yang tidak lain adalah seorang noni (nona Belanda) dan puteri dari tuannya karena ayah Kusuma bekerja pada ayah Juffrow Marie; Marie memberitahukan bahwa keluarga gadis itu sedang bertugas di kota ini sama seperti keluarga Marie. Bedanya keluarga Marie sudah lama tinggal di Hindia Belanda, begitu negara Indonesia ini disebut sebelum merdeka. Kusuma hanya mengangguk ketika Marie menjelaskan panjang lebar padanya tentang gadis itu. Dan Marie tertawa, karena mengetahui apa yang sedang terjadi. Kusuma jatuh cinta, begitu menurut prakiraannya.

Kusuma dan gadis itu bertemu lagi pada hari berikutnya, karena gadis itu sering mengunjungi rumah Marie. Mereka menghabiskan waktu bersama, namun lebih sering Kusuma dengan gadis itu ketimbang dengan Marie. Karena gadis itu orang baru di sana dan belum pernah melewatkan waktu di sana dan belum pernah melewatkan waktu di sebuah kota kecil, mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan dengan melakukan hal-hal yang sama sekali baru baginya. Kusuma mengajarinya memancing di perairan sungai dangkal untuk menangkap ikan bawal dan mengajaknya menjelajahi sungai Bogowonto hingga muara yang menghubungkan sungai tsb dengan Pantai Gelagah. Mereka menaiki gethek (sejenik kayak/perahu) dan ketika sampai di muara mereka mengawasi turunnya hujan meski hal tsb kedengarannya konyol karena saat itu sedang berlangsung musim kemarau.

Dan kenangan yang paling diingatnya benar, adalah saat mereka berdua mengunjungi pasar malam. Kemudian setelahnya, Kusuma mengantar gadis itu pulang dengan berjalan kaki. Untuk kali pertamanya, sesampai di teras rumah gadis itu, Kusuma menciumnya. Ia merasa heran kenapa ia harus menunggu sekian lama untuk itu. Menjelang akhir musim kemarau, Kusuma mengajak gadis itu ke rumah ini yang semulanya tak berpenghuni. Kusuma sama sekali tak mempermasalahkan kerusakannya dan mengatakan pada gadis itu bahwa kelak ia akan membeli rumah ini serta memugarnya kembali. Mereka melewatkan berjam-jam bersama, membicarakan impian mereka – impiannya sendiri untuk menjadi seorang pujangga – impian sang gadis untuk menjadi seorang seniman. Dan pada suatu malam di bulan September, mereka sama-sama menuangkan kenangan luar biasa yang mungkin tak kan pernah terlupakan oleh keduanya. Mereka saling mencintai, dan karena alasan itulah yang memungkinkan mereka untuk melakukannya. Kesucian dalam diri keduanya dipertaruhkan. Tak ada yang mengetahui hal ini selain mereka berdua, dan Tuhan mereka. Dan 3 minggu kemudian, keluarga si gadis kembali ke Semarang atas perintah atasan dari ayah sang gadis.

Kusuma tak dapat berbuat banyak selain merelakan gadis itu pergi dengan membawa sebagian dari diri Kusuma. Dan ia merasa harus pergi tempat ini, dan mencoba peruntungannya di Yogyakarta – kota besar yang menjadi tujuannya, terlebih dekat dengan Purworejo. Dan siapa sangka di sana Kusuma tergabung dalam TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang tentunya sangat menguntungkan baginya secara materi. Jabatan yang ia peroleh pun cukup tinggi, meski bukan seorang Jenderal.

Tiba-tiba Kusuma teringat perkataan Jefri tentang gadis itu.
“Jadi, itulah yang menghantuimu selama ini.” Ketika Kusuma menanyakan apa maksudnya, Jefri menerangkan “Kau tahu kenangan itu. Selama ini aku hanya mengawasimu bekerja siang malam, membanting tulang sampai tak sempat menarik nafas panjang. Orang biasanya melakukan itu karena tiga alasan. Entah karena mereka memang edan, atau bodoh, atau sedang berusaha melupakan sesuatu. Dan dalam kasurmu ini, aku tahu kau sedang berusaha melupakan sesuatu. Hanya saja aku tak tahu apa.”

Ia merenungkan apa yang dikatakan Jefri. Jefri benar, tentu saja. Purworejo memang dibayangi berbagai kenangan sekarang. Kenangan akan gadis itu.

Memang semuanya terasa aneh. Ia dibesarkan di Purworejo. Bertahun-tahun lamanya tinggal di sini. Namun jika berpikir tentang Purworejo, seperti yang terbayang olehnya hanyalah akhir musim kemarau, musim yang mereka lewatkan bersama. Kenangan-kenangan lain hanya berupa fragmen-fragmen belaka, dan sedikit yang dapat menggugah perasaannya.

Ia pernah mengungkapkan hal itu pada Jefri. Jefri bukan hanya mengerti, tapi juga orang pertama yang dapat menjelaskan alasannya. Ia berkata, “Ayahku pernah bilang bahwa begitu kau jatuh cinta untuk pertama kali, kehidupanmu akan berubah selamanya, dan betapapun kau berusaha, perasaan itu tidak akan bisa dihapuskan. Gadis itu adalah cinta pertamamu. Dan apapun yang kaulakukan, dia akan tetap di hatimu selamanya.”

Kusuma menggeleng-gelengkan kepala, dengan begitu bayangan gadis itu akan mulai memudar. Ia kembali memusatkan pada buku yang sedang di genggamnya. Sekitar pukul sembilan, ia menutup bukunya, menuju kamar tidurnya yang berada di lantai atas, kemudian mengisi buku hariannya dan mencatat hasil pekerjaan yang diselesaikannya untuk rumah ini.

*************************************************************

Menjelang malam itu, sekitar 20 km dari sana, sang gadis duduk menyendiri di teras rumah orang tuanya. Sedari tadi, ia hanya mempertanyakan apakah keputusan yang diambilnya sudah benar. Ia sudah mempertimbangkannya selama beberapa hari – juga sore tadi – namun ia juga menyadari bahwa ia takkan pernah bisa memaafkan dirinya kalau ia membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.

John tidak tahu alasan sebenarnya ia pergi besok pagi. Beberapa hari yang lalu ia memang mengatakan bahwa ia ingin mengunjungi beberapa toko antik di daerah pesisir pantai Gelagah “Hanya untuk beberapa hari,” ujarnya. “Selain itu, aku butuh istirahat setelah mengatur persiapan untuk upacara pernikahan kita.” Ia merasa tidak enak mengenai kebohongannya. Namun tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada John. Kepergiannya tidak ada sangkut-pautnya dengan John, dan tidak adil jika ia meminta John mengerti.

**

Perjalanannya dari Semarang berlangsung lancar, hanya sekitar dua jam. Ia memesan tempat di sebuah penginapan kecil di pusat kota. Ia makan siang dengan cepat, meminta informasi pada pelayan mengenai toko antik terdekat, kemudian menghabiskan beberapa jam berikutnya untuk berbelanja. Menjelang sore, ia baru kembali ke penginapannya.

Ia menghubungi John. Mereka tidak dapat berbicara lama karena John sedang sibuk. Bagus, pikirnya setelah menutup telepon. Percakapan tidak ada yang menyimpang. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi John untuk curiga.

Ia sudah hampir lima tahun mengenal John; mereka bertemu pada tahun 1942, dunia sedang dilanda perang, dan keadaan Indonesia sedang genting-gentingnya. Ketika ayahnya memperkenalkan John, seorang bangsawan Inggris, ia melihat dalam diri pria itu segala yang ia butuhkan. Orang yang memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi masa depan, dan humor yang mampu menghempaskan semua kecemasannya. John memang tampan, cerdas. Ia seorang pengacara sukses, yang 4 tahun lebih tua dari Bernadette. Dan John menekuni pekerjaannya dengan penuh dedikasi.

Meski Bernadette pernah mengencani beberapa anak muda yang bisa dikatakan urakan, ia toh merasa tertarik pada John dan lama-kelamaan jatuh cinta padanya. John tidak pernah mengecewakannya. Karena itulah ia menerima lamaran John.

Setelah selesai mandi, berpakaian, dan merias sedikit wajahnya, Bernadette meraih agenda dan kunci mobilnya. Beberapa kali ia membalik-baliknya di tangan, sambil menimbang-nimbang. ‘Kau sudah sampai sejauh ini, jangan mundur sekarang’. Ia hampir saja berangkat, namun akhirnya terduduk kembali di tepi ranjang tempat tidurnya. Ia melirik sekilas arlojinya. Hampir pukul enam. Ia merasa harus berangkat sebentar lagi – tak ingin tiba di sana setelah hari gelap.

“Sial,” desisnya. “Apa sih yang kulakukan di sini? Seharusnya aku tidak kemari. Tidak ada alasan bagiku untuk ini.”

Ia kembali menimbang-nimbang ucapannya. Dan merasa menyesal karena kenyataan yang sesungguhnya, tidaklah begitu. Memang ada sesuatu baginya di sini. Setidaknya ia harus segera mendapatkan jawabannya.

Ia membuka agendanya, membolak-balik halaman sampai ia menemukan potongan kertas koran yang terlipat. Setelah mengeluarkannya dengan hati-hati, agar tidak sobek, ia membuka lipatannya dan memandanginya, “Karena inilah,” ujarnya. “Inilah alasannya.”

*********

Kusuma bangun pukul lima, kemudian menyusuri Sungai Bogowonto dengan kayaknya selama dua jam seperti kesehariannya. Setelah itu, ia menikmati sarapannya dengan secangkir teh.

Ia melanjutkan menangani pengerjaan pagar rumahnya dengan mereparasi semua tonggak. Ia berhenti bekerja setelah pukul tiga lebih, kemudian menuju gubuk yang terletak dibelakang rumahnya di pinggir Sungai. Ia mengambil kail, beberapa lampung, dan cacing hidup yang selalu ada dalam persediannya.

Kemudian ia menuju dermaga yang dibuatnya untuk memasang umpan dan mengulurkan tali kailnya.

Memancing selalu memberinya kesempatan untuk merenungkan kehidupan yang telah dijalaninya. Dari mulai kecil hingga tumbuh dewasa sampai saat ini. Semenjak kembali dari Yogyakarta, ia melewatkan kembali hari-harinya dengan menyusuri Sungai Bogowonto sampai bermil-mil jauhnya. Ia teringat dulu, ketika remaja ia biasa menghabiskan waktunya, melakukan penjelajahan bersama Marie, menghabiskan waktu berjam-jam di bawah pohon ek yang terdapat di pantai Gelagah.

Ia juga teringat, ia pernah pacaran beberapa kali dengan gadis di desa ini, desa Bagelen. Bahkan ia pun pernah nekat berpacaran dengan Marie. Namun karena takut ketahuan ayah Marie, dan tidak dapat membayangkan bagaimana reaksinya, ia memutuskan untuk hanya bersahabat. Sekian banyak gadis yang menjadi kekasihnya, tidak seorang pun meninggalkan kesan yang mendalam. Kecuali satu.

BERNADETTE.

Ia masih ingat saat ia berbincang-bincang dengan Marie setelah mereka pulang dari pertunjukan wayang. Marie sempat tertawa saat membicarakannya. Dan ia membuat dua prediksi: pertama, bahwa mereka akan saling jatuh cinta. Dan kedua, bahwa hubungan mereka tidak akan langgeng.

Kusuma merasa ada entakan kecil di kailnya. Ia berharap mendapatkan ikan, namun entakan itu akhirnya mereda. Ia menggulung tali kali untuk memeriksa umpannya. Kemudian mengulurkannya kembali, mencoba sekali lagi.

Ternyata prediksi Marie tidak meleset. Hampir seluruh pertemuannya dengan Bernadette, gadis itu harus mencari alasan untuk orangtuanya. Bukan berarti orang tuanya tidak suka dengan Kusuma – hanya saja Kusuma berasal dari kelas yang berbeda. Seorang Jawa tulen, miskin, juga mereka tidak akan pernah setuju kalau puteri mereka terlibat serius dengan seseorang seperti dirinya. “Aku tidak peduli pendapat kedua orang tuaku, aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu,” ucap Bernadette. “Kita akan menemukan cara untuk selalu bersama.”

Namun kenyataan tidaklah berjalan demikian. Menjelang akhir September, masa pancaroba, Bernadette tidak punya pilihan lain selain kembali bersama orang tuanya ke Semarang. Selalu begitu, inilah resiko menjadi seorang puteri yang ayahnya adalah seorang bawahan langsung dari Pemerintah Jenderal Hindia Belanda, saat itu. Keluarga mereka harus rela ditempatkan bertugas di manapun.
“Hanya musim panas ini yang sudah berakhir, noni (panggilan nona dalam Bahasa Belanda), bukan hubungan kita,” ujar Kusuma sebelum keberangkatan Bernadette. “Hubungan kita tidak akan pernah berakhir.” Tapi nyatanya tidak begitu. Untuk satu alasan yang tidak dapat ia pahami, surat-surat yang ia tulis tidak pernah mendapatkan jawaban dari Bernadette.

Akhirnya Kusuma memutuskan untuk meninggalkan Purworejo, untuk melupakan Bernadette, juga karena ia sedikit depresi karena tidak mendapatkan mata pencaharian di sini. Ia mencoba peruntungannya di kota besar. Dan kota besar yang ia tuju adalah Yogyakarta.

Ia mendengar bahwa situasi ekonomi di sana cukup bagus ditengah kegentingan Indonesia pada awal mula kemerdekaannya.

Dan siapa sangka di sana, Kusuma justru tergabung dalam TKR. Mungkin alasannya karena markas besar TKR sendiri berada di Yogyakarta. Juga karena porsi tubuh Kusuma yang tinggi, lumayan kekar. Itu disebabkan kebiasaannya mendayung menyusuri Sungai Bogowonto. Tidak mudah ternyata menjadi seorang TKR. Mati adalah taruhannya. Namun Kusuma adalah seorang yang gigih. Karena kegigihannya ia mendapatkan jabatan yang istimewa. Kusuma merupakan bawahan langsung dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Berbagai perang gerilya telah mereka lewati bersama. Kusuma merasa sangat beruntung bisa bertemu, bahkan berjuang seatap dengan sosok Soedirman. Namun ada suatu hal yang mengancamnya karena pekerjaan ini. Keluarga Bernadette, jika mereka tahu bahwa Kusuma tergabung dalam TKR, bukankah itu berarti mereka saling bermusuhan. Van Heutsz ayah Bernadette sendiri adalah seorang penjajah, namun Kusuma tidak pernah memperdulikan hal itu. Menurutnya, negara ini dijajah juga karena kebodohan penduduknya. Dan mereka para penjajah tidak bersalah dalam hal ini, selain menjajah mereka juga berusaha memakmurkan negeri ini. Lihat saja, bukankah banyak bangunan Belanda atau peninggalan Belanda yang pada akhirnya menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Jalan Daendels yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan. Mereka tidaklah jahat, pada dasarnya. Itulah persepsi yang selama ini dibangunnya. Mungkin juga karena pikiran yang diturunkan dari ayah Kusuma yang mengabdi pada seorang Jenderal Hindia Belanda.

Meski tergabung dalam TKR, Kusuma sering memikirkan Bernadette, terutama di waktu malam. Ia menulis surat pada gadis itu, sekali dalam sebulan, namun tidak pernah mendapatkan jawaban. Akhirnya Kusuma menulis surat terakhirnya untuk Bernadette dan memaksa dirinya menerima kenyataan bahwa musim kemarau yang pernah mereka habiskan berdua adalah kenangan terakhir bersama gadis itu.

Namun kenangan akan Bernadette tetap hidup bersamanya. Tiga tahun setelah menulis suratnya yang terakhir, Kusuma pergi ke Semarang dengan harapan akan bertemu Bernadette. Ia pergi ke rumah gadis itu dan menemukan bahwa Bernadette dan keluarganya sudah kembali ke Belanda. Kenyataan sebenarnya bukan kembali, melainkan mengamankan diri untuk sementara. Karena kemerdekaan Indonesia telah diakui secara de facto. Pemerintah Belanda ditarik kembali ke negaranya. Namun toh pada akhirnya keluarga Van Heutsz kembali ke Indonesia, dan menetap di Semarang, untuk selamanya. Tentu ada alasan dibaliknya. Dan alasan yang sebenarnya adalah John Whittaker, seorang Bangsawan Inggris yang menetap di Indonesia. Van Heutsz telah menjodohkan puterinya dengan bangsawan itu. Toh puterinya juga mencintai John.

Perjalanan yang dilakukan Kusuma ke Semarang adalah upaya yang pertama sekaligus terakhir untuk menemukan Bernadette.

Setelah perjuangannya dalam TKR usai, dan upayanya yang tidak berhasil dalam menemukan Bernadette, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kota Purworejo, tepatnya desa Bagelen. Kusuma telah menjadi orang yang sukses, tentu saja. Mengingat pertempuran yang ia hadapi bersama pejuang TKR selalu membawa kemenangan. Pertempuran Ambarawa, dan pertempuran-pertempuran lainnya. Ia kembali ke Bagelen, dan berniat membeli rumah joglo, rumah yang ia janjikan pada Bernadette. Tentu saja Kusuma akan mempersembahkan rumah itu pada ayahnya. Ayahnya adalah segalanya baginya. Ia akan memugar rumah joglo itu menjadi sebuah istana. Jika takdir berkenan, ia juga ingin membawa Bernadette untuk tinggal dalam rumah itu bersamanya. Bukankah kini, Kusuma telah menjadi orang yang sukses? Namanya harum, ia tidak hanya di kenal di daerahnya saja. Juga di luar daerah. Mungkin embel-embel ‘pahlawan’ sangat cocok disandingkan dengan namanya pada waktunya. Juga namanya haruslah masuk dalam catatan sejarah Indonesia.

Namun, betapa terkejutnya Kusuma ketika di dapati, ayahnya telah meninggal dunia. Menurut tetangga sekitar, ayahnya terkena serangan jantung. Beliau dikuburkan oleh keluarga Marie di samping isterinya, di tempat pemakaman setempat. Kusuma hendak mengucapkan terima kasih pada keluarga Marie, namun ternyata mereka juga telah kembali ke Belanda.

Kusuma mencoba mengunjungi pemakaman setempat secara teratur untuk meninggalkan sedikit bunga. Dan setiap malam, tanpa absen, ia menyisihkan waktu untuk mengenang ayahnya, kemudian mengucapkan doa untuk lelaki ini, yang pernah mengajarkan padanya segala sesuatu yang sangat bermakna bagi Kusuma.

Kusuma tentu saja sedikit merasa frustasi mengenai kenyataan ini. Ia begitu kesepian kini. Tidak ada lagi yang akan mengajarkannya tentang makna kehidupan. Ternyata bayangan Bernadette juga masih menghantuinya. Kusuma mencoba melupakannya dengan mengencani seorang wanita yang lebih tua darinya. Meskipun berkencan selama setahun dan telah melewatkan waktu yang menyenangkan bersama-sama, perasaannya terhadap wanita itu tak pernah sama dengan perasaannya terhadap Bernadette.

Namun Kusuma juga tidak akan melupakan wanita itu. Dialah yang mengajari Kusuma cara-cara menyenangkan seorang wanita. Misalnya di mana mesti menyentuh dan mengecup, dan apa yang harus dibisikkan pada wanita yang dicintainya.

Wanita itu tahu bahwa mereka tidak akan terus bersama selamanya. Menjelang akhir hubungan mereka, ia pernah mengungkap pada Kusuma, “Andai aku dapat memberikan padamu apa yang kau cari, tapi aku tidak tahu apa yang kau dambakan. Ada bagian dirimu yang kau tutup untuk semua orang, termasuk aku. Kau seperti tidak benar-benar bersamaku. Pikiranmu melayang pada orang lain.”

Kusuma mencoba membantah ucapannya, namun dia tidak mempercayainya. “Aku seorang wanita – aku tahu hal-hal semacam itu. Sekali kau menatapku, aku tahu bahwa kau melihat orang lain. Sepertinya kau masih menanti dia muncul tiba-tiba untuk menjemputmu dan meninggalkan semua ini.”

Sebulan kemudian wanita itu datang ke rumah Kusuma dan memberitahukan bahwa ia telah menemukan orang lain. Kusuma mengerti. Mereka berpisah sebagai sahabat.

Kusuma tersadar dari lamunannya. Segera ia menggulung tali kailnya, menyimpan peralatan, lalu kembali ke rumah. Sempat ia terheran karena di dalam kamarnya terdapat sepasang kupu-kupu yang sedang berterbangan, saling berkejaran. Dalam hal ini, warga kampungnya atau mungkin penduduk pulau Jawa mengartikan bahwa akan ada tamu. Namun, entahlah, Kusuma tidak terlalu memperdulikannya meski ia masih bertanya-tanya dalam hatinya, “Siapakah gerangan yang akan berkunjung kerumahnya?” Ia segera menepis pikiran itu dan memutuskan untuk pergi mandi. Kemudian duduk di balkon dengan buku Khalil Gibran yang selalu menemaninya dalam rutinitas sore seperti ini.

** TBC **

P.S :

– Maaf kalo ada misstypong.. XDD

– Maaf kepanjangen jadi bosen… LOLOL

– Buat yang baca, komennya donkkk… Jangan pelit napa! Aku bisa mantau yang ngeviews FF ini dari dashboard home lohh… Jadi ketauan ada Silent READERS… Kalo terlalu banyak Silent Readers, bakal kuprotect part selanjutnya.. hohohohoho *ngancem

– Insya Allah part 2nya kupost besok, kalo nanti malem selesai ngetik ^^ Mumpung lagi liburan😀

About kkangrii

| Moslem |

Posted on February 15, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. cool! nice! kadang bingung bacanya, memang majumundur nih alur hehehe tapi 2thumbs up! d(“^^”)b
    ffmu yg ini beda sendiri sus. aku sebelumnya belum pernah baca yg tema nya indonesia gini. susi hebaaaaatt ;]
    gomawo susi :* *hug* *bow*

    • Hehehe.. sory ya fin.. maaf banget.. lagi tergila-gila alur maju mundur nih… hobinya membingungkan orang saya #plakk…
      iya Fin, kalo settingnya di luar negri, yang ada aku bengong sendiri, ga nguasain latarnya si.. hehehehehe

  2. unni, lanjut ayok… besok kutungu loh..

  3. unnie, bahasanya tingkat dewa beud. Aku harus baca ulang ni ff bru ngeh, tp pas ak tahu mksd crtanya, keren bgt sumpah unnie. Bca ff ini kya baca novel2 barat gtu, mana castnya jga org2 belanda gtu, unnie daebak!

    • Aduh saeng, lebay nian kau.😄 Mana ada bahasa dewa? Kwkwkw, yup. Mian ya saeng ._. Mian bgt, ff ini emang bingungin -,- aku jga bingung sndri pas baca ulang -.-v

  4. eonn, bagusss. indonesia banget. sedikit bingung mana yang alur maju mana yang mundur. tapi overall bagus eonn. lanjutan ny ditunggu🙂

  5. comment apa ya ? aku pusing .
    hahaha x)

    ini cerpen yak ?
    soal’a di sini kan gag pake nama asli member band manapun ..
    hem , memang agak membingungkan , apalagi waktu si marie menjelaskan ‘si gadis’ sempet kagak connect .
    hehehe , jadi makin penasaran , si kusuma bakalan jomblo atau balikan lagi ma si , si , siapa ya ? lupa , haha .. susah sih nama’a , #plaak# xp

    • Pusing yah? XDD Mau kubeliin oskadon? Hahahahaha, ya bisa dibilang gtu saeng, ini lbh mengarah ke cerita fiksi biasa. Tapi bukan cerpen, lbh panjang, hehehe. Onn pake gambaran member shinee biar lbh gampang dpet idenya😄. Bernadette saeng, LOL

  6. Keren unn .. jawa! purwokerto lgi! wkwkwk XDD
    jarang bget ada yg pke pwt ..
    tp asli ini ff bingung.in .. hehehe,,
    rada gk connet dikit tdi,,
    tp akhirnya mengerti juga,stelah diterangin sma jonghyun panjang lebar kali tinggi .. XDD *apadeh*
    tdinya kukira ini ff ratingnya yaoi loh .. soalnya namanya key itu kusuma .. XDD
    Lanjut unn .. kekeke

  7. Kusuma..seperti namaku XP
    *spammer

    • Gubrak!! Iya ya momm.. Aku bru sadar xDDD Ya udah kalo gtu Key jadi anak mommy aja, lagi pula marganya sama noh.. Kwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: