[FF/PG-15] Last Story #2 “Boy Meet Girl, Again”

CAST :
* Kusuma Boedi – KEY SHINee
* Bernadette Van Heutsz – Fina
* John Whittaker – Jonghyun SHINee
* Juffrow Marie – AUTHOR
* Jefri – Onew SHINee

LENGHT : Part 2 (3240 words)

GENRE : Romance, Mistery,

RATE : STRAIGHT/PG-15

SETTING :

Purworejo tepatnya di desa Bagelen. Desa yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

A.N :
Finaaaa… babykyuu.. mian yah kelamaan ngepost part 2 nya -,- Part ini udah kubuat lebih jelas kok. Jadi Insya Allah gak bingungin lagi =D, happy reading ^^ Kalo masih bingung, tanyain aja bagian mana yang bingung. kwkwkwkwk

________________________________________________________________

LAST STORY That I TOLD TO YOU – Part 2

(Boy Meet Girl, Again)

 

BERNADETTE masih sulit untuk percaya meski ia sedang menggenggam bukti. Bukti di mana keberadaannya di sini memang tidaklah salah.

**Flash Back

Potongan koran itu berasal dari sebuah surat kabar di rumah orangtuanya tiga minggu yang lalu. Kala itu, ia sedang berada di dapur untuk membuat secangkir kopi. Dan saat Bernadette kembali ke meja makan, ibunya tersenyum menatapnya seraya menunjuk sebuah gambar kecil. “Kau ingat ini, minnaar (sayang) ?”
Ibunya menyodorkan koran itu padanya, dan setelah melirik sekilas, sesuatu dalam gambar itu menarik perhatiannya. Bernadette memperhatikan gambar itu dengan lebih detil. “Tak mungkin,” desahnya. Ibunya menatapnya heran, namun ia tidak memberikan tanggapan. Bernadette duduk dan mulai membaca artikel itu dengan serius. Akhirnya ia menyingkirkan koran itu setelah selesai membacanya. Ia menatap ibunya lagi, dan di dapatinya ibunya sedang menatapnya dengan ekspresi yang sama beberapa saat sebelumnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya ibunya. “Kelihatannya kau agak pucat.”
Bernadette tidak menjawab, tangannya gemetar.

**END of Flash Back

Ia melipat potongan kertas itu untuk disimpan kembali. Setelah kejadian itu, Bernadette senantiasa membaca ulang artikel tersebut, terutama saat sebelum tidur. Ia selalu mencoba menghayati unsur kebenarannya untuk memastikan bahwa semua itu bukan hanya sekedar mimpi.
Harus ia akui, semenjak Bernadette membaca artikel tsb, perasaannya menjadi gelisah. Dan inilah alasan mengapa ia datang kemari.

**Flash Back

Nampaknya kala itu, John, tunangannya mendapati raut kegelisahan dalam wajahnya. Saat John menanyakan apa pikiran yang sedang meganggunya, Bernadette hanya menjawab bahwa ia sedang sedikit stress. Karena itu, John tidak protes ketika Bernadette menyatakan keinginannya untuk pergi beberapa hari. John mengira, Bernadette memang sedang membutuhkan liburan. Menjauhkan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan persiapan pernikahan mereka yang karena alasan inilah kemungkinan Bernadette mengalami stress – menurut pikiran John. Bagaimana tidak? Pernikahan mereka akan diadakan secara besar-besaran. Banyak bangsawan Belanda dan Inggris yang akan hadir. Bahkan berita pernikahan mereka nanti, kabarnya akan mendominasi halaman depan dalam beberapa surat kabar. Oleh sebab itu John mengijinkan Bernadette liburan, tanpa menaruh curiga sedikitpun apa yang sebenarnya akan dilakukan Bernadette. Sayangnya, John mengungkapkan pada Bernadette bahwa ia tidak bisa menemaninya liburan karena kesibukan John. Tidak mengapa, Bernadette justru merasa senang karenanya.

** END Of Flash Back

Bernadette menarik nafas dalam-dalam, kemudian bangkit dari duduknya.
“Sekarang? Atau tidak sama sekali,” desahnya. Bernadette melangkah keluar kamar. Sesampai di lantai dasar, ia berpapasan dengan manager penginapan. Bernadette terus melangkah menuju parkiran mobilnya. Ia merasakan goncangan keraguan yang hebat saat melangkah masuk dalam mobilnya.

Namun toh,akhirnya ia terduduk juga di belakang kemudi. Ia menatap spion untuk yang terakhir kali, kemudian menyalakan mesinnya, dan berbelok ke arah jalan raya yang menuju suatu desa. Desa yang terletak di ujung paling timur kota Purworejo, berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

Setelah melintasi sebuah jembatan kuno, Bernadette membelokkan mobilnya menuju suatu jalan berbatu yang lebih kecil dan penuh kerikil. Ternyata kondisi desa ini tidak jauh berbeda dengan yang diingat Bernadette ketika ia meninggalkan tempat ini, tiga belas tahun yang lalu.

Hmm, malah menurut Bernadette tidak ada yang berubah sama sekali. Ia menatap pada beberapa petani yang berlalu lalang, hendak pulang ke rumah masing-masing karena matahari sudah berada pada garis cakrawala. Kehidupan tidak pernah berubah, meskipun Indonesia telah merdeka. Hamparan lahan pertanian di kanan kiri jalan berlapis batu itu masih sama dengan yang dulu. Tidak menyempit, ataupun membesar. Tidak adanya perubahan suasana di daerah ini, membuka lembaran-lembaran kenangan yang begitu banyak bagi Bernadette. Kenangan yang tak akan sirna ditelan waktu.

Berikutnya, nampak pohon ek yang menjulang tinggi di tepian sungai, dan kenangan-kenangan itu nampak semakin jelas dalam benaknya. Dirinya merasa terlempar ke masa lalu dengan berbagai kenangan yang melambungkannya ke langit ke tujuh. ** Ia ingat betul, saat ia duduk di bawah pohon itu, bersama seseorang yang menatap matanya penuh kasih. Dan saat itulah, ia jatuh cinta untuk kali pertama. **

Satu belokan lagi, dan akhirnya ia melihat rumah itu dari kejauhan. Perubahan yang betul-betul dramatis, pikir Bernadette. Seingatnya, rumah joglo itu benar-benar dalam keadaan yang mengenaskan, tiga belas tahun yang lalu. Banyak tonggak yang rusak, genting nya tidak rapat. Dan kini, jika Bernadette di suruh menilai dan diberi rentang nilai antara 6 – 10, maka ia akan memberikan nilai 9,9. Nyaris sempurna bukan? Sejauh ini, bagi Bernadette, rumah joglo yang ada di hadapannya kini adalah rumah termewah di desa ini. Juga satu-satunya yang berubah di daerah sini.

Bernadette memperlambat laju kendaraannya, dan menghentikannya tepat di depan pagar rumah tsb. Ia menarik napas dalam-dalam saat melihat seorang laki-laki berdiri di teras, mengawasi mobilnya. Penampilannya terkesan santai, juga anggun dengan wajahnya yang tersaput cahaya matahari. Sosoknya seakan melebur dalam panorama senja.

Laki-laki itu menuruni anak tangga teras rumahnya dan bergerak ke arah Bernadette dengan lankah yang santai, sesantai penampilannya. Namun betapa terhenyaknya laki-laki itu saat Bernadette keluar dari mobilnya. Lama mereka hanya saling menatap, tanpa bergerak sedikit pun.

Bernadette Van Heutsz , yang berusia dua puluh sembilan tahun dan sudah bertunangan, seorang wanita terpandang yang mencari jawaban yang ia butuhkan. Dan Kusuma Boedi, si pemimpi berusia tiga puluh satu tahun, yang saat ini sedang dikunjungi oleh kenangan yang selama ini telah mendominasi seluruh kehidupannya.

************************************************

Mereka sama-sama tak bergeming dari posisinya saat berdiri saling berhadapan.

Kusuma belum mengucapkan sepatah kata pun, otot-ototnya menegang. Untuk sesaat, Bernadette mengira Kusuma tidak mengenalinya. Bernadette merasa bersalah dengan kemunculannya yang mendadak itu, dan ternyata justru semakin mempersulit keadaan. Semula ia mengira, ketika bertemu Kusuma segalanya akan lebih mudah. Namun nyatanya tidak. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.

Akhirnya Bernadette memutuskan untuk menyapa Kusuma terlebih dahulu.

“Hai, Kusuma. Senang sekali bisa melihatmu lagi.” Kusuma terkejut, ia menatap Bernadette dengan tatapan tak percaya.

“Sama-sama,” sahutnya terbata-bata.

“Benarkah ini kau, Kusuma? Aku masih belum bisa mempercayainya…,”

Bernadette menangkap nada shock-nya saat ia berbicara. Perasaannya mendadak tidak keruan. Ia sudah berada di tempat tujuan- pun bertemu dengan pria ini. Namun serasa ada sesuatu yang menggeliat di dadanya. Suatu perasaan yang begitu dalam.

Bernadette berusaha mengendalikan diri. Ia tak ingin hal yang dikhawatirkannya sampai terjadi. Dia sudah bertunangan sekarang. Ia tidak datang kemari untuk ini…
Tidak…

Tanpa sepatah kata pun mereka saling mendekat. Kusuma mengulurkan tangannya, dan menarik Bernadette ke dalam pelukannya. Mereka saling memeluk erat untuk menjadikan pertemuan ini nyata; membiarkan perpisahan selama tiga belas tahun itu melebur bersama senja. Cara Kusuma memeluknya, membuat Bernadette sadar betapa ia sangat merindukan pria semenjak pertemuan terakhir mereka.

Mata Bernadette berkaca-kaca saat mereka akhirnya saling melepas pelukan. Ia tertawa gugup, seraya mengahapus air mata di kedua sudut matanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kusuma, masih dengan ribuan pertanyaan lain dalam benaknya.

Bernadette melangkah mudur, sambil mencoba kembali menguasai dirinya.
“Tak apa,” sahutnya, sambil tersenyum.

“Aku juga masih tak bisa percaya bahwa kau benar-benar di sini. Bagaimana kau dapat menemukan aku?” tanya Kusuma.

“Aku melihat liputan mengenai rumah ini di koran ‘Indonesia Merdeka’ beberapa minggu yang lalu, dan aku merasa harus datang untuk menemuimu lagi.”

Kusuma tersenyum lebar. “Aku senang kau datang.” Ia mundur selangkah. “Kau bahkan lebih cantik sekarang daripada dulu.”

Bernadette merasa wajahnya memerah.
“Terima kasih,”

“Ngomong-ngomong
bagaimana kabarmu? Mengapa kau datang kemari?”

Pertanyaan Kusuma membuat Bernadette tersadar mengenai apa yang mungkin terjadi jika ia tidak cukup berhati-hati. Jangan biarkan dirimu lepas kendali, ia mengingatkan diri.

Namun, ya Tuhan, matanya itu. Gadis mana yang akan tahan jika Kusuma menatapnya seperti itu.

Bernadette memalingkan wajahnya, menarik napas dalam-dalam dan mencoba merangkai kata.
“Kusuma, aku tidak ingin kau salah tangkap. Aku memang ingin bertemu denganmu. Begitu ingin, namun situasinya tidak sesedarhana itu.” Bernadette terdiam beberapa saat dan kembali melanjutkan,
“Aku datang kemari untuk suatu alasan. Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.”

“Apa?” tanya Kusuma.

Bernadette mengalihkan pandangannya dan tidak langsung menjawab. Ia tak menyangka bahwa ia tak dapat mengatakannya langsung sekarang. Dalam keheningan itu, Kusuma merasakan sesuatu yang tidak mengenakan. Apa pun yang hendak disampaikan Bernadette, pasti bukan sesuatu yang menggembirakan.

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Tadinya aku mengira aku tahu, tapi sekarang aku tidak begitu yakin…,”
Bernadette kembali terdiam. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada sesuatu di belakang Kusuma, ke arah rumah itu. “Kau sudah banyak melakukan pemugaran. Hasilnya betul-betul persis yang pernah kubayangkan dulu.”

Kusuma ikut menoleh ke arah yang sedang ditunjuk Bernadette, sambil mempertanyakan maksud basa-basi ini, dan apa yang sebenarnya terpendam dalam hati Bernadette.

“Terima kasih,” jawab Kusuma singkat. Kemudian Kusuma berpaling ke arahnya, sehingga Bernadette terpaksa menatapnya. Pertanyaan itu kembali menggelitik benak Kusuma, dan akhirnya ia melontarkannya,
“Ada apa sebetulnya, Bernadette?” tanya Kusuma ragu.

“Aku memang sedikit konyol, bukan?” ujar Bernadette, sambil berusaha tersenyum.

“Apa maksudmu?”
“Mengenai semua ini. Tahu-tahu muncul, tanpa tahu apa yang sebetulnya ingin kusampaikan. Kau pasti mengira aku tidak waras.” Bernadette tertawa lirih.

“Ah tidak, tidak. Jangan begitu,” sahut Kusuma lembut. Ia meraih tangan Bernadette, dan menggenggamnya.

“Meskipun aku tidak tahu alasannya, aku bisa melihat bahwa ini tidak mudah bagimu untuk mengatakannya. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?”

“Seperti yang biasa kita lakukan dulu?” tanya Bernadette ragu.

“Hmm, bagaimana? Kurasa itu akan lebih baik untuk kita berdua dibanding harus berdiam diri tanpa kata.”

Bernadette nampak ragu, namun akhirnya ia mengangguk, menyetujui usul Kusuma.

Mereka mulai berjalan ke arah Sungai, menyusuri jalanan di pinggiran Sungai. Bernadette melepaskan genggaman tangannya membuat Kusuma tercengang. Mereka terus melangkah, sengaja membuat jarak yang cukup agar tidak saling menyenggol.

“Sejak kapan kau kembali ke Indo?” tanya Kusuma memecah keheningan.

“Uh? Kau tahu?” kaget Bernadette.

“Bukannya pemerintah Belanda memang ditarik kembali ke negerinya? Tentu saja aku tahu, lagi pula Marie juga kembali ke sana kan?” jawab Kusuma enteng, masih menyembunyikan kebenaran bahwa ia pernah mencarinya ke Semarang.

“Ah, iya. Aku lupa. Aku kembali satu tahun yang lalu. Kau sendiri? Sejak kapan kau kembali dari Yogyakarta?” tanya Bernadette.

“Kau, kau juga tahu?” tanya Kusuma, dengan ekspresi yang lebih kaget dibanding dengan ekspresi kaget Bernadette sebelumnya.

“Tentu. Namamu sangat disegani di kalangan kami, kau benar-benar seorang Tentara yang hebat,” ujar Bernadette seraya menepuk-pundak Kusuma.

“Keluargamu pasti sangat membenci…,”

“Tidak. Mereka justru kagum padamu,” potong Bernadette.

“Kau senang kembali kemari?” tanya Bernadette.

“Ya. Memang sudah seharusnya aku berada di sini.” Kusuma terdiam sebentar, “Tapi bagaimana denganmu? Mengapa kau kembali kemari?” Kusuma mengajukan pertanyaan itu dengan hati-hati, siap menerima jawaban terburuk.

Lama barulah Bernadette menjawab.
“Aku.. kembali kemari karena tunanganku. Aku sudah bertunangan.”

Kusuma menunduk saat Bernadette mengatakan hal itu padanya. Tiba-tiba ia merasa lemas. Jadi, itulah alasannya. Itulah yang ingin disampaikan Bernadette padanya?

“Selamat,” ujar Kusuma dengan suara berat, terkesan dipaksakan.

“Kapan kau akan menikah?” tanya Kusuma.

“Tiga minggu lagi. John ingin menikah di akhir Oktober.”

“John?” Kusuma memastikan nama tunangannya.

“John Whittaker, tunanganku,” jawab Bernadette.

Kusuma mengangguk. Ia bisa memakluminya. Keluarga Whittaker termasuk salah satu keluarga terpandang dan berpengaruh di provinsi Jawa Tengah. Bermodal perkebunan kopi. Sangat berbeda dengan ayahnya, kematian Robert Whittaker (ayah John) mengisi halaman muka surat kabar.

“Aku pernah mendengar tentang mereka. Ayahnya mendirikan kerajaan bisnis yang besar. Apa John meneruskan bisnis ayahnya itu?”

Bernadette menggeleng. “Tidak, dia malah menjualnya. John seorang pengacara. Dia punya kantor sendiri di Semarang.”

“Dengan popularitasnya, sepertinya dia sibuk sekali.”

“Benar. Dia memang selalu sibuk.”

Kusuma merasa menangkap sesuatu dari nada suara Bernadette, dan pertanyaan berikutnya terlontar begitu saja.

“Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

“Ya. Dia laki-laki yang baik, Kusuma. Kau pasti akan bersimpati kepadanya setelah bertemu dengannya.”

“Aku belum melihat ayahmu. Bagaimana keadaannya?” tanya Bernadette mengalihkan pembicaraan.

Kusuma terus melangkah beberapa saat sebelum menjawab. “Ayahku sudah meninggal. Aku tidak tahu kapan tepatnya. Aku kembali kemari, ia sudah tiada.”

“Aku ikut sedih,” ujar Bernadette pelan. Ia tahu betapa sayangnya Kusuma pada ayahnya itu.

Kusuma mengangguk, dan mereka berdua terus berjalan dalam keheningan.

Sesampai dibawah pepohonan ek yang berada di tepi Sungai, mereka berhenti.

“Banyak kenangan yang tersimpan di sini, Bernadette.”

Bernadette tersenyum. “Aku tahu. Apa kau masih ingat hari yang pernah kita lewatkan bersama di sini?”

“Ya,” sahut Kusuma tanpa menambahkan apa-apa.

“Apa kau pernah mengenangnya kembali?”

“Kadang-kadang,” sahutnya lagi. Bernadette tertawa lirih, tersenyum tepatnya. Entah mengapa ia selalu merasa tenang saat mengingat kenangan itu.

“Kau masih suka baca puisi?”

Kusuma mengangguk. “Ya, aku tidak pernah berhenti membaca puisi. Kurasa kebiasaan ini sudah mendarah daging dalam diriku.”

“Kau tahu? Kau adalah satu-satunya penyair yang pernah kukenal,” ujar Bernadette.

“Aku bukan penyair. Aku hanya suka membaca puisi. Tapi aku tak bisa menyusun syair. Bahkan aku pernah mencobanya,” Kusuma terkekeh.

“Namun kau toh seorang penyair bagiku, Kusuma Budi.” Nada suara Bernadette melembut.

“Aku masih sering membayangkan saat-saat itu. Saat kau membacakan puisi untukku, dibawah pohon ini.”

Ucapan Bernadette membuat mereka kembali hanyut dalam kenangan masa silam. Perlahan-lahan mereka sama-sama beranjak dan memutar kembali ke rumah, mengikuti jalan setapak yang mengarah ke dermaga di belakang rumah Kusuma. Saat ini matahari sudah berada di garis cakrawala, dan langit berubah menjadi jingga. Batas waktu antara siang dan malam sudah berakhir. Mulai terdengar bunyi jangkrik, seperti biasanya.

“Jadi, berapa lama kau akan tinggal di sini?”

“Aku tidak tahu. Tidak lama. Mungkin sampai besok atau lusa.”

“Kau pasti kemari bersama tunanganmu kan? Apa dia ada urusan pekerjaan di sini?”

Bernadette menggeleng. “Tidak, aku sendirian. John masih di Semarang.”

Kusuma menaikkan alisnya. “Apa dia tahu kau ada di sini?”

Bernadette menggeleng lagi, kemudian perlahan menjawab. “Tidak. Aku bilang padanya bahwa aku ingin liburan sambil mencari barang-barang antik. Dia tidak akan tahu maksud kedatanganku kemari.”

Kusuma tercengang menanggapi jawaban Bernadette. Datang berkunjung bisa dimaklumi, tapi menyembunyikan maksud dibaliknya dari tunangannya merupakan hal lain, pikirnya.

“Kau tidak perlu datang kemari untuk menyampaikan padaku bahwa kau sudah bertunangan. Kau kan bisa menulis surat,” ujar Kusuma.

“Aku tahu. Tapi entah mengapa, aku merasa harus memberitahumu secara langsung.”

“Kenapa?”

Bernadette nampak ragu. “Aku tidak tahu….,” sahutnya. Suasana menjadi hening sebelum Kusuma kembali bertanya,

“Bernadette, apa kau mencintainya?”

Spontan Bernadette menjawab, “Ya. Aku mencintainya.”

Kata-kata itu menyakitkan bagi Kusuma. Namun kata-kata itu bagi Kusuma lebih terdengar seperti untuk meyakinkan diri Bernadette. Bukan pengakuaannya yang sebenarnya.

Kusuma berhenti melangkah, kemudian dengan lembut memegang bahu Bernadette hingga saat ini mereka saling berhadap-hadapan.

“Kalau kau memang bahagia, Bernadette, dan kau mencintainya, aku tidak akan berusaha menahanmu untuk kembali padanya. Namun jika masih ada sebagian dari dirimu yang tidak begitu yakin sebaiknya kau tidak meneruskan hubunganmu dengan John.”

“Aku sudah mengambil keputusan yang tepat, Kusuma.” jawab Bernadette seketika itu. Kusuma menatapnya selama beberapa saat, kemudian mempertanyakan apakah dirinya sungguh-sungguh mempercayai jawaban itu. Tentu saja, ini terasa tidak adil baginya.

“Aku tidak membuat situasinya menjadi lebih mudah, bukan?” tanya Kusuma seraya tersenyum getir.

“Tak apa. Aku tak bisa menyalahkanmu.”

“Aku tetap minta maaf.”

“Tak usah. Tak ada alasan bagimu untuk minta maaf. Seharusnya, akulah yang minta maaf. Mungkin seharusnya aku menulis surat, dibanding menemuimu seperti ini.”

Kusuma menggeleng. “Sejujurnya, aku senang kau datang. Apa pun alasannya. Menyenangkan sekali bisa melihatmu lagi,” aku Kusuma.

“Terima kasih, Kusuma.”

“Menurutmu, apakah mungkin kalau kita memulai lagi dari awal?” tanya Kusuma.

Bernadette menatap Kusuma dengan was-was.

“Kau teman terbaik yang pernah kumiliki, Bernadette. Aku masih ingin kita berteman, meski hanya untuk dua hari saja, dan meskipun kau sudah bertunangan. Bagaimana kalau kita mencoba untuk kembali saling mengenal? Sudah 13 tahun kita tidak bertemu. Dan itu bukanlah waktu yang singkat,” jelas Kusuma.

Bernadette nampak menimbang-nimbang ucapan Kusuma, apakah sebaiknya ia tinggal di sini atau kembali. Dan akhirnya, memutuskan memilih untuk tetap tingga di sini untuk beberapa waktu, mengingat Kusuma sudah tahu mengenai pertunangannya.

“Baiklah,” jawab Bernadette seraya tersenyum kecil.

“Bagus. Bagaimana kalau kita makan malam sama-sama? Aku tahu tempat yang menyajikan ikan bakar paling enak di kota ini.”

“Kedengarannya asyik. Di mana?”

“Di rumahku. Aku memancing ikan tadi sore dan masih ada di dermaga. Bagaimana? Apa kau keberatan?”

“Tidak. Sepertinya menyenangkan.”

Kusuma tersenyum, kemudian mereka berjalan menuju dermaga. Langit telah berubah menjadi gelap. Kusuma bergegas mengambil tangkapan ikannya tadi sore, dan mereka berjalan memasuki rumah Kusuma, namun langkah mereka terhenti saat di depan pagar.

Kusuma menunjuk ke arah mobil Bernadette. “Apa kau meninggalkan sesuatu di dalam sana yang perlu kauturunkan?”

“Tidak, aku tiba tadi siang di kota ini dan aku sudah menurunkan bagasiku.”

Mereka mulai memasuki rumah. Kusuma langsung menuju ke dapur dan menyiapkan bumbu-bumbu yang diperlukan untuk membakar ikan.

“Boleh aku melihat-lihat?” tanya Bernadette.

“Tentu silahkan.” Mata mereka bertemu sesaat, dan Bernadette tahu Kusuma tengah mengawasinya saat ia meninggalkan ruangan itu. Hatinya kembali terasa terpilin.

Bernadette menjelajahi rumah itu, menelusuri kamar-kamar demi kamar – mengamati betapa menyenangkan suasananya secara keseluruhan. Ia merasa takjub sekali mengingat betapa reyotnya kondisi rumah ini yang ia lihat tiga belas tahun lalu. Ia menuruni tangga dan kembali menuju kearah dapur.

“Luar biasa, Kusuma. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk pengerjaan itu?” Kusuma mengalihkan perhatiannya dari bumbu yang sedang diraciknya. “Nyari satu tahun,” jawabnya singkat.

“Kau kerjakan sendiri?”
Kusuma tersenyum kecil menahan tawanya. “Tidak. Dulu, waktu muda aku memang berkata padamu aku akan mengerjakannya sendirian. Awalnya, rumah ini kukerjakan sendiri. Namun ternyata proyek itu terlalu berat. Bisa makan waktu bertahun-tahun. Karena itulah akhirnya aku memperkejakan orang-orang, malah banyak orang. Tapi dengan adanya mereka pun masih banyak yang perlu dilakukan. Sering kali aku berhenti sesudah lewat tengah malam.”

“Kenapa kau bekerja begitu berat?”

Kusuma terdiam. Ingin sekali ia menjawab ‘Karena aku terus dihantui oleh kenangan kita,’ namun hal itu tidak ia utarakan.

“Entahlah. Yang pasti, aku begitu ingin mengerjakan rumah ini.”

“Ada yang bisa kubantu?” tawar Bernadette.
Kusuma mengangguk, “Kau teruskan membuat bumbu ini. Aku akan mencuci ikannya sebentar,” jawab Kusuma.

15 menit berlalu…

“Bagaimana Kusuma? Aku sudah selesai,” ujar Bernadette.

“Kau tunggu saja di balkon. Aku sudah menyiapkan teh di sana. Aku yang akan membakar ikannya.”

“Oke,” sahut Bernadette.

20 menit berlalu, Bernadette hanya menikmati pemandangan sungai dari balkon rumah Kusuma, sambil sesekali meneguk teh. Pemandangan sekitar sini begitu indah dan alami. Kemudian Kusuma datang dengan membawa 2 piring nasi serta ikan bakar.

“Kau sedang duduk di sini saat aku datang, bukan?” tanya Bernadette.

Kusuma menjawab sambil mencari posisi duduk yang nyaman. “Ya. Aku biasa duduk di sini setiap malam. Sudah menjadi kebiasaanku sekarang.”

“Aku bisa menebak sebabnya,” ujar Bernadette seraya melayangkan pandangan ke sekeliling.

Mereka mulai melahap makanan masing-masing. Tidak ada lagi percakapan, hanya desir angin dan arus sungai yang terdengar begitu menyejukkan di telinga. Hanya 15, waktu yang mereka butuhkan untuk menghabiskan makan malam itu.

“Masakanmu enak sekali. Ternyata kau lebih hebat dari aku yang seorang wanita,” puji Bernadette.
Kusuma tersenyum mendengarnya, kemudian ia membawa piring yang sudah kosong itu juga teko teh yang sudah habis ke dapur.

Kusuma kembali ke balkon, membawa teko yang sudah penuh berisi teh lagi.

Bernadette memulai pembicaraan, “Biaya yang kau habiskan untuk memugar rumah pasti sangat besar,”

“Tapi aku sangat menyukai hasilnya. Aku hampir menggunakan seluruh uang yang kudapatkan saat menjadi tentara,” jawab Kusuma.

Bernadette tertawa dalam nada tertahan. “Dulu kau pernah bilang padaku bahwa kau akan menemukan cara apa pun untuk memugar rumah ini.”

Mereka sama-sama duduk selama beberapa saat, mengenang masa yang sudah berlalu. Bernadette menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Apakah kau masih ingat saat kita menyelinap kemari menjelang malam? Setelah kuceritakan padamu tentang tempat ini?” tanya Kusuma.

Bernadette mengangguk. Kemudian ia menambahkan,
“Aku pulang agak terlambat malam itu. Dan kedua orangtuaku marah sekali ketika aku pulang. Aku masih bisa membayangkan ayahku berdiri di ruang tamu sambil menghisap rokok, ibuku duduk di sofa, menatap lurus ke mataku. Aku berani bersumpah bahwa tampang mereka seperti orang baru mendengar ada keluarga yang meninggal dunia. Itulah pertama kalinya kedua orangtuaku tahu bahwa aku serius mengenai dirimu. Sesudahnya, ibuku sempat berbicara lama denganku malam itu. Dia mengatakan ‘Aku yakin kau menganggap aku tidak mengerti apa yang kau lakukan, tapi kau keliru. Cuma, kadang-kadang, masa depan kita ditentukan oleh siapa kita sesungguhnya, meskipun itu bertentangan dengan apa yang kita inginkan.’ ”
Bernadette menghela napas sejenak, “Aku juga masih ingat betapa terlukanya perasaanku ketika dia mengatakan itu.” ujar Bernadette.

“Kau menceritakan hal itu padaku keesokan harinya. Perasaanku juga terluka waktu itu. Aku suka pada kedua orangtuamu, seperti aku menyukai orangtua Marie. Dan aku sama sekali tak menyangka bahwa orangtuamu tidak suka padaku.” ucap Kusuma.

“Bukannya mereka tidak suka padamu. Mereka cuma menganggap kau tidak pantas untukku.” ujar Bernadette.

“Apa bedanya?” tanya Kusuma.

“Memang, mungkin kau benar. Aku juga beranggapan begitu. Mungkin karena itulah antara ibuku dan aku sepertinya selalu ada jarak saat kami berbicara.”

“Bagaimana perasaanmu mengenai hal itu sekarang?” tanya Kusuma.

“Masih sama seperti dulu. Bahwa itu salah dan sangat tidak adil. Benar-benar menyakitkan bagi seorang gadis untuk menerima kenyataan bahwa orang tuanya lebih mementingkan status ketimbang perasaan anaknya sendiri,”

Kusuma tersenyum lembut mendengar jawabannya, namun ia tidak mengatakan apa-apa.

“Aku masih terus memikirkanmu sejak satu malam yang kita lewatkan bersama, juga ketika aku berada Semarang,” ujar Bernadette.

“Oh ya? Benarkah?”

“Kenapa reaksimu begitu?” Bernadette nampak tercengang.

Kusuma menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya, “Kau tidak pernah menjawab surat-suratku,” ucap Kusuma. Nada suaranya terdengar berat.

“Kau pernah menulis surat padaku?” tanya Bernadette kaget.

To Be Continued…

******************************************************************************

About kkangrii

| Moslem |

Posted on March 4, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. UNNIE,, PENASARAN!!! TBC NYA GAK NGENAKIN BANGET,,,
    CEPET DILANJUT YA? KALO GAK, AKU BSA LUPA (CAPS JEBOL!!)

    Aku gak bisa nebak bener, nanti Bernadette akhirnya sama Kusuma atau John . DAEBAK!!

  2. WOW WELL DONE!
    Bener sus, yg ini lebih jelas hehehehe
    wah gapapa kok sus, gaterlalu lama kok hehehe
    jeongmal gamsahamnida!
    Penasaran sama lanjutannya…
    Pas awal memang keliatan ya suratnya kusuma memang ganyampe ke bernadette…ckckck
    wehehehehehe nice! :DDD

  3. saeng, cepet dilanjut. bener tuh, TBCnya gak enak beud. bagus kok yang ini. keren lah pokoke.. siip2

  4. Aku bingungg ma ceritanya ..
    —“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: