[FF/PG-15] Last Story #3 “Love Should Go On”

CAST :
* Kusuma Boedi – KEY SHINee
* Bernadette Van Heutsz – Fina
* John Whittaker – Jonghyun SHINee
* Juffrow Marie – AUTHOR
* Jefri – Onew SHINee

LENGHT : Part 3 (2699 words)

GENRE : Romance, Mistery,

RATE : STRAIGHT/PG-15

SETTING :

Purworejo tepatnya di desa Bagelen. Desa yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

 

LAST STORY That I TOLD TO YOU

– Part 3 –

(Love Should Go On)


“Kau tidak pernah menjawab surat-suratku,” ucap Kusuma lirih.

“Kau pernah menulis surat padaku?” kaget Bernadette.

“Puluhan surat. Aku menulis surat untukmu selama dua tahun tanpa menerima jawabannya satu pun.”

Bernadette hanya bisa terdiam. Ia menggeleng perlahan.

“Entahlah…,” ujarnya akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar. Kusuma menyadari bahwa hal tsb terjadi karena ulah ibu Bernadette, yang mengecek dan menyortir surat-suratnya tanpa sepengetahuan Kusuma.

“Aku tahu. Tidak seharusnya ibuku melakukan hal itu, Kusuma. Aku menyesal sekali hal tersebut sampai terjadi. Tapi cobalah mengerti. Begitu aku meninggalkan tempat ini, rupanya dia beranggapan akan lebih mudah bagiku untuk melupakanmu. Dia tak pernah mengerti betapa besar arti dirimu bagiku. Menurut pendapat ibuku, dia berusaha melindungi perasaanku dan masa depanku, dan mengira bahwa cara yang terbaik adalah dengan menyembunyikan surat-surat yang kaukirim.”

“Tapi dia tidak berhak melakukan itu,” ujar Kusuma dalam nada rendah.

“Ya, aku tahu.”

“Apa akan ada bedanya andaikata surat-surat itu sampai jatuh ke tanganmu?” tanya Kusuma.

“Tentu saja. Aku masih selalu mempertanyakan keadaanmu,” jawab Bernadette.

“Bukan itu. Maksudku mengenai kita. Apa menurutmu itu akan mempengaruhi kelanggengan hubungan kita?” tanya Kusuma hati-hati.

Bernadette terdiam sejenak sebelum menjawab,

“Aku tidak tahu, Kusuma. Sungguh. Dan kukira kaupun begitu. Kita sudah bukan lagi pribadi yang sama seperti dulu. Kita sudah berubah menjadi orang dewasa.”

Kusuma terdiam sesaat. Ia tidak menyuarakan pendapatnya.

“Tapi… ya, Kusuma, kurasa hubungan kita akan langgeng jika surat itu sampai jatuh ke tanganku. Setidaknya, aku berharap akan begitu.”

Kusuma mengangguk, kemudian memberanikan diri menatap Bernadette.

“Seperti apa John?” tanya Kusuma.

Bernadette nampak ragu. Ia tak menyangka pertanyaan itu akan terlontar. Mendengar nama itu disebutkan menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Bernadette, sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Bernadette kembali meraih cangkirnya.

“John tampan, simpatik, sukses, hampir semua teman-temanku iri padaku. Di mata mereka, dia betul-betul sempurna, dan dalam banyak hal memang seperti itu kenyataannya. Dia seringkali menghiburku dengan suaranya yang merdu. Dia baik padaku, bisa membuatku tertawa, dan aku tahu bahwa dengan caranya sendiri dia mencintaiku,” ujar Bernadette. Ia kembali terdiam untuk memusatkan pikirannya. “Tapi sepertinya akan selalu ada ruang di antara kami.” Bernadette menunduk. Ia terkejut sendiri ucapannya. Namun ia sadar bahwa seperti itulah kenyataannya. Dan Bernadette tahu bahwa Kusuma mengharapkan jawaban seperti itu, nampak sekali dari ekspresi di wajahnya.

“Kenapa?” tanya Kusuma.

Bernadette tersenyum tak berdaya, kemudian mengangkat bahu sebelum memberikan jawabannya. Suaranya nyaris terdengar berbisik.

“Kurasa aku masih tetap mencari cinta seperti yang pernah terjalin di antara kita.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Bernadette, “Pernahkah kau memikirkan tentang hubungan kita?”

“Selalu. Sampai sekarang,” jawab Kusuma.

“Apa kau sedang membina hubungan dengan seseorang?” tanya Bernadette lagi.

“Tidak,” sahut Kusuma sambil menggeleng. Mereka sama-sama merenungkan hal tersebut.

Bernadette sedang asyik melamun. Memikirkan Kusuma, dirinya, serta banyak hal lain. Ia bahkan sempat berandai-andai. Kalau saja ia belum bertunangan. Namun kemudian cepat-cepat Bernadette memarahi dirinya sendiri. Bukan Kusuma yang ia cintai, melainkan apa yang pernah mereka berdua miliki. Kenangan itu, semuanya, segalanya. Wajar jika Bernadette merasa seperti itu. Cinta sejatinya yang pertama, satu-satunya lelaki yang pernah begitu berarti baginya – bagaimana mungkin ia bisa melupakannya?

Namun normalkah jika Bernadette selalu merasa terkesiap setiap kali Kusuma menatapnya? Normalkah kalau ia menceritakan pada Kusuma hal-hal yang tidak pernah ia ungkapkan pada orang lain? Bahkan tunangannya sendiri. Normalkah bahwa ia datang kemari tiga minggu sebelum hari perkawinannya?

“Tidak, itu tidak normal,” batin Bernadette pada akhirnya. “Tidak ada yang normal mengenai semua ini,” akunya.

“Aku senang sekali kau mau mampir kemari meskipun sudah malam begini,” ucap Kusuma memecah keheningan.

“Aku juga. Tapi tadi aku hampir saja tidak jadi datang. Aku ragu,” sahut Bernadette.

“Lalu? Apa yang membuatmu akhirnya datang kemari?” tanya Kusuma.

Aku merasa harus datang, ingin ia berkata begitu, namun tidak ia suarakan.

“Untuk melihatmu, untuk tahu apa yang sedang kau kerjakan, untuk melihat keadaanmu. Dan tentunya untuk membenarkan berita mengenai rumah ini.”

“Ngomong-ngomong, dari tadi aku ingin menanyakan, apa kau masih melukis?” tanya Kusuma lagi. Memang terlalu banyak pertanyaan di benaknya yang ingin ia tanyakan pada Bernadette, hingga ia lupa sendiri mengenai pertanyaan itu.

Bernadette menggeleng. “Tidak lagi.”

Kusuma nampak tercengang. “Kenapa tidak? Kau begitu berbakat.”

“Aku tidak tahu…,” ucap Bernadette lirih.

“Tentu saja kau tahu. Kau berhenti melukis karena suatu alasan,” sanggah Kusuma.

Bernadette memikirkan kembali apa yang dikatakan Kusuma tadi. Dan ia menyadari bahwa hal tersebut benar adanya. Ia berhenti melukis karena suatu alasan.

“Ceritanya panjang,” ujar Bernadette singkat.

“Aku punya waktu sepanjang malam ini,” sahut Kusuma.

“Kau sungguh-sungguh menganggap aku berbakat?” tanya Bernadette pelan.

Kusuma tidak menjawab melainkan mengulurkan tangannya, “Ikut aku. Akan kuperlihatkan sesuatu padamu.”

Bernadette bangkit dan mengikutinya hingga ruang santai. Kusuma berhenti di muka perapian dan menunjuk ke sebuah lukisan yang tergantung di atas para-para. Bernadette menahan napas, tercengang bahwa ia tidak melihat lukisan itu saat menjelajahi ruangan ini. Dan lebih tercengang lagi karena lukisan ini masih ada.

Kau masih menyimpannya?” tanya Bernadette heran.

“Tentu saja. Lukisan ini bagus sekali,”

Bernadette menatap Kusuma dengan tatapan tak percaya, dan Kusuma mulai menjelaskan sesuatu,

“Aku merasa hidup setiap kali aku melihat lukisan itu. Perasaanku sangat tergugah, bahkan kadang-kadang aku berjingkrak untuk menyentuhnya. Kesannya begitu nyata – bentuk-bentuknya, bayangannya, nuansa-nuansa warnanya. Benar-benar luar biasa Bernadette. Bahkan aku sanggup memandanginya selama berjam-jam.

“Kau serius?” tanya Bernadette tersentak.

“Ya. Apa tak seorang pun pernah mengatakan itu padamu?”

“Dosenku pernah,” sahut Bernadette. “Aku kurasa aku tidak mempercayai ucapannya.” Bernadette menghela napas dalam-dalam kemudian melanjutkan.

“Aku suka menggambar dan melukis sejak kecil. Saat remaja aku mulai menilai diriku lumayan dalam hal ini. Aku juga sangat menikmati setiap kali aku melukis. Aku ingat saat aku mengerjakan lukisan ini sepanjang musim kemarau. Saat aku menambahkan aksennya setiap hari, dan merubahnya sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam hubungan kita. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku mengawali lukisan ini atau bagaimana aku menginginkan hasil akhirnya.

“Aku ingat bagaimana aku tak bisa berhenti melukis setelah aku pindah ke Semarang. Kurasa itulah caraku untuk melupakan kepedihan yang sedang kualami saat itu. Akhirnya aku menekuni bidang seni di perguruan tinggi, karena aku merasa harus melakukan itu. Seingatku aku menghabiskan waktu berjam-jam di studio, sendirian sambil menikmati setiap menitnya. Aku menyukai kebebasan yang kuperoleh saat aku berkreasi, perasaan yang kudapatkan saat aku membuat sesuatu yang indah. Persis sebelum aku lulus, dosenku, yang kebetulan juga seorang kritikus untuk sebuah harian, mengatakan padaku bahwa aku berbakat. Dia menganjurkan aku mencoba keberuntunganku sebagai seorang seniman. Namun aku tidak mengikuti sarannya.”

Bernadette berhenti berbicara, memusatkan konsentrasinya.

“Orangtuaku menganggap tidak pantas bagi orang sepertiku mencari nafkah dari melukis. Aku berhenti melukis tak lama kemudian. Sudah bertahun-tahun aku tidak menyentuh kuas.”

Bernadette menerawangi lukisannya.

“Apa kau benar-benar tidak akan melukis lagi?” tanya Kusuma.

“Aku tidak yakin apakah aku masih bisa. Sudah begitu lama aku tidak melukis,” jawab Bernadette.

“Kau masih bisa melukis, Bernadette. Aku yakin kau bisa. Kau memiliki bakat yang keluar dari dirimu, dari dalam hatimu, bujan dari jari-jarimu. Apa yang kaumiliki tidak akan bisa hilang begitu saja. Kebanyakan orang hanya bisa memimpikannya. Kau terlahir sebagai seorang seniman, Bernadette.”

Kata-kata itu diucapkan begitu tulus, sehingga Bernadette tahu bahwa Kusuma tidak sekedar berbasa-basi. Kusuma sungguh-sungguh meyakini bakat Bernadette, dan entah mengapa ucapannya itu begitu berarti bagi Bernadette. Namun sesuatu yang lain kemudian terjadi, sesuatu yang lebih mengesankan. Sesuatu yang pada mulanya ia khawatirkan saat hendak datang kemari.

Kenapa hal itu sampai terjadi? Bernadette tak kan pernah tahu jawabannya. Namun pada saat itulah jurang yang menganga itu mulai merapat bagi Bernadette, jurang yang ia buat dalam hidupnya untuk memisahkan kepedihan dari kegembiraan. Dan ketika itulah ia menyadari dalam alam bawah sadarnya, bahwa apa yang dirasakannya lebih dalam daripada yang berani ia akui keberadaannya.

Bernadette belum sepenuhnya menyadari perasaannya. Ia menatap wajah Kusuma, dan saat pandangan mereka bertemu, sekali lagi ia menyadari betapa istimewanya laki-laki ini baginya.

Dan untuk sekejap, bagai kilasan cahaya yang dipancarkan kunang-kunang di malam hari, ia mempertanyakan pada diri sendiri mungkin perasaan ini adalah cinta? Apakah ia telah jatuh cinta lagi pada Kusuma?

“Ding..” suara dari jam yang tergantung di dinding menyadarkan lamunan mereka berdua. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

“Bagaimana kalau kita ke teras lagi?” tawar Kusuma. Bernadette mengangguk setuju dan melangkah menuju balkon mendahului Kusuma.
Kusuma meraih jaketnya yang tergantung di atas perapian, siapa tahu Bernadette akan kedinginan. Mereka duduk kembali dan menyodorkan jaketnya pada Bernadette.

Bernadette memakainya dan mencium aromanya sekilas.

“Jangan khawatir,” ujar Kusuma melihat ekspresi Bernadette, “jaket itu bersih.”

Bernadette tertawa. “Aku tahu. Aku cuma teringat kencan pertama kita. Kau meminjamkanku jaketmu malam itu, kan?”

Kusuma mengangguk. “Ya, aku ingat. Jefri (Jinki) dan Marie (author) ikut bersama kita. Jefri terus saja menyikutku sepanjang perjalanan dari pertunjukan itu. Ia terus saja mendorongku untuk menggandeng tanganmu.”

“Tapi kau tidak mau,” timpal Bernadette.

“Memang tidak,” sahut Kusuma sambil menggeleng.

“Kenapa tidak?” tanya Bernadette.

“Malu, mungkin, atau taku. Ahh… Entahlah. Cuma rasanya bukan hal yang tepat kulakukan saat itu,” aku Kusuma.

“Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kau memang malu ketika itu, bukan?” ledek Bernadette.

“Aku lebih suka dianggap memiliki ‘rasa percaya diri yang terpendam,’ ” sahut Kusuma seraya mengedipkan matanya. Bernadette tertawa lepas.

“Ngomong-ngomong, aku tidak pernah mendengar kabar Jefri?” tanya Bernadette.

Kusuma terdiam sebelum menjawab.

“Jefri meninggal di area pertempuran, merebut kota Yogyakarta dari tangan Belanda.”
(calm down please, just fiction not real story T,T)

“Aku ikut sedih,” ujar Bernadette. “Setahuku dia teman baikmu.”

“Tapi, bagaimana bisa Jefri ikut tergabung dalam pertempuran itu? Apa dia juga masuk dalam jajaran TKR?” tanya Bernadette.

Kusuma mulai menjawab. Nada suaranya berubah menjadi lebih rendah sekarang.

“Iya, ia tergabung bersamaku. Akulah yang mendorongnya untuk ikut bersamaku. Aku merasa hal itu tidak akan terjadi kalau bukan karena aku.”

“Itu tidak betul,” sanggah Bernadette yang menyesal karena telah mengungkit topik itu.

“Entahlah. Tapi aku merasa kehilangan dirinya, sangat.” ucap Kusuma.

Bernadette tersenyum.

“Aku juga suka padanya. Dia bisa membuatku tertawa dengan leluconnya yang menurutku tidak lucu. Tapi entah kenapa aku selalu ingin tertawa mendengarnya,” aku Bernadette.

“Dia memang ahlinya,” timpal Kusuma.

Bernadette menatap Kusuma dengan pandangan nakal.

“Dia pernah naksir padaku, tahu?” ujar Bernadette.

Kusuma tersenyum. “Aku tahu. Dia pernah menceritakan hal itu padaku,” ucap Kusuma.

“O ya? Apa katanya?” tanya Bernadette penasaran.

“Seperti biasa. Bahwa dia harus menggusahmu dengan tongkat yang biasa ia gunakan untuk menggusah ayam (?). Bahwa kau terus mengejar-ngejar dirinya, hal-hal semacam itulah,” jelas Kusuma panjang lebar.

Bernadette tertawa pelan. “Kau percaya padanya?”

Kusuma balik menatap Bernadette dengan pandangan nakal. “Tentu saja. Mengapa tidak? Dia kan sahabatku,” ujar Kusuma.

“Kalian kaum laki-laki memang selalu bersekongkol,” ujar Bernadette seraya mencubit lengan Kusuma.

“Oke, ceritakan padaku, apa saja yang kau lakukan semenjak aku melihatmu terakhir kali?” tanya Bernadette.

Mereka mulai berbincang-bincang. Kusuma bercerita mengenainya kisahnya ketika pergi meninggalkan Purworejo menuju Yogyakarta. Kusuma juga membeberkan bahwa ia pernah pergi ke Semarang untuk menemui Bernadette, namun gagal. Ia juga bercerita mengenai ayahnya dan betapa ia merindukan sosoknya.

Bernadette bercerita tentang kuliahnya, kegiatan melukisnya. Ia bercerita tentang teman-temannya, serta kegiatan-kegiatan yang ditekuninya. Bernadette bercerita bagaimana perasaannya saat ia kembali ke Belanda. Namun mereka berdua sama-sama tidak menyinggung soal siapa saja yang mereka kencani sejak terakhir kali mereka bertemu. Bahkan nama John dilewatkan dalam perbincangan ini, meski mereka sama-sama menyadarinya. Namun mereka tidak menyinggung sedikitpun mengenai hal itu.

Belakangan ini, Bernadette mencoba mengingat kapan terakhir kali ia dan John berbincang-bincang seperti ini. John bukanlah tipe pria yang suka membicarakan hal seperti ini. Sama seperti ayah Bernadette, ia merasa rikuh untuk berbagi pikiran dan perasaannya. Bernadette pernah menjelaskan pada John bahwa ia merasa butuh lebih dekat, tapi rupanya percuma.

Langit semakin gelap dan bulan semakin naik tinggi, seiring dengan malam yang semakin larut. Bernadette melirik arlojinya. “Setengah 10?” gumamnya. Sungguh, perbincangan ini benar-benar terasa singkat baginya, juga Kusuma. Dan tanpa mereka sadari, mereka mulai menemukan kembali keakraban yang pernah terjalin di antara mereka.

Hening sesaat. Kusuma menatap Bernadette lekat melalui sudut matanya. “Ya Tuhan, dia begitu cantik,” batinnya. Dan dalam hatinya ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri.

Sesuatu telah terjadi selama mereka berbincang-bincang, malam ini.

Sederhana saja, Kusuma telah jatuh cinta lagi pada Bernadette. Jatuh cinta pada sosok Bernadette yang baru, bukan hanya sekadar kenangannya.

Tapi ia memang tidak pernah berhenti mencintai wanita ini, dan ia sadar bahwa hal ini sudah merupakan takdirnya.

“Malam yang amat menyenangkan.” ujar Kusuma. Suaranya terdengar melembut.

“Memang,” sahut Bernadette. “Malam yang luar biasa,” tambahnya.

Kusuma mengalihkan pandangannya ke arah bintang-bintang. Cahaya yang berkelap-kelip mengingatkan dirinya bahwa Bernadette akan meninggalkannya lagi. Tentu saja ia akan merasakan kehampaan itu lagi. Ia tak ingin malam ini berakhir. Bagaimana ia harus mengatakan itu? Apa yang sanggup ia katakan untuk membuat Bernadette tetap tinggal di sini?

Kusuma tidak tahu. Maka ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Dan pada saat itulah ia menyadari ketidakberdayaannya.

“Bicaralah padaku,” pinta Bernadette akhirnya. Suaranya terdengar sensual.

“Apa yang harus kukatakan?” tanya Kusuma bingung.

“Bicaralah seperti yang biasa kaulakukan dulu di bawah pohon ek itu,” ujar Bernadette seraya melempar pandang ke arah pohon ek yang tadi senja mereka kunjungi.

Dan itulah yang kemudian dilakukan Kusuma. Mengutip syair-syair untuk memperindah suasana malam itu. Khalil Gibran, karena ia menyukai imajinasinya.

Bernadette menyandarkan kepala pada punggung kursi, memejamkan mata, dan menikmati kehangatan yang dirasakannya saat Kusuma mengakhiri kata-katanya. Bukan hanya karena puisi-puisi yang dilantunkan atau suaranya. Melainkan keseluruhannya, satu kesatuan yang jauh melebihi bagian-bagian itu sendiri. Bernadette tidak berusaha memilah-milahnya, tak ingin, karena puisi memang bukan untuk dihayati secara demikian. Puisi, menurutnya, bukan diuntai untuk dianalisa; tujuannya adalah untuk menimbulkan inspirasi tanpa suatu alasan yang jelas. Untuk menyentuh tanpa perlu memahami.

Bernadette tiba-tiba teringat akan John. Yah, mengenai suatu hal. Bahwa John tidak pernah melakukan seperti apa yang Kusuma lakukan. Membacakan puisi untuknya sambil menikmati suasana malam berdua di sebuah balkon? Mungkin karena hal itulah yang membuat Bernadette merasa tidak cukup dengan apa yang John berikan.
John terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Bernadette bisa memakluminya. Namun perasaannya tetaplah mendambahkan suasana seperti ini. Tidak bisakah John melakukan hal ini sekali saja?

Sementara Kusuma sedang sibuk memikirkan Bernadette. Pikirannya didominasi oleh kenangan masa lalu. Dan baginya, malam ini akan selalu ia kenang sebagai salah satu saat paling istimewa dalam hidupnya.

Kusuma juga mempertanyakan apakah Bernadette mendambakan hal yang sama seperti dirinya setelah bertahun-tahun terpisah? Apakah Bernadette pernah memimpikan mereka saling memeluk dan berciuman dibawah sinar rembulan yang lembut?

Kusuma segera menyingkirkan pikiran. “Tidak mungkin,” pikirnya. Bernadette sudah bertunangan sekarang.

Bernadette menyadari sesuatu. Ia tahu bahwa dengan berdiam diri, Kusuma sedang memikirkan dirinya. Ia tidak tahu apa persisnya yang sedang berkecamuk dalam benak Kusuma. Juga Bernadette tidak merasa harus tahu. Cukuplah bahwa Kusuma sedang memikirkan dirinya.

“Kau capek?” tanya Kusuma, memecah keheningan di antara mereka.

“Sedikit. Ada baiknya jika aku berangkat sekarang,” ujar Bernadette.

“Aku tahu,” sahut Kusuma seraya mengangguk. Nada suaranya terdengar biasa saja.

Kusuma mencoba mengungpulkan keberaniannya untuk bertanya, “Apa besok kita akan bertemu lagi?”

Sebuah pertanyaan sederhana. Bernadette tahu jawaban apa yang seharusnya ia berikan, terutama jika ia tak ingin kehidupannya menjadi rumit. Mestinya ia berkata, “Kurasa sebaiknya tidak,” dan segalanya akan berakhir sampai di situ. Namun untuk sesaat Bernadette tidak mengatakan apa-apa.

Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada Bernadette. Kenapa ia tidak mengatakan itu pada Kusuma? Ia tidak tahu jawabannya. Namun saat menatap mata Kusuma untuk menemukan jawaban yang ia butuhkan, Bernadette melihat sosok pria yang pernah dicintainya, dan tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.

“Boleh. Aku juga ingin kesini lagi,” ucap Bernadette.

Kusuma nampak terkejut. Ia tak menyangka Bernadette akan menjawab seperti itu.

Bernadette beranjak dari duduknya dan segera menuju halaman rumah Kusuma, tempat di mana mobilnya terparkir. Kusuma mengantar kepulangan Bernadette.

Bernadette berhenti sesaat sebelum memasuki mobilnya. Ditatapnya satu-satunya pria yang sanggup membuatnya jatuh cinta kembali dalam sekejap.

“Kau bisa kemari siang-siang?” tanya Kusuma.

“Tentu. Apa yang ingin kaulakukan?” tanya Bernadette.

“Kau akan lihat nanti,” sahut Kusuma, “Aku tahu tempat yang menyenangkan.”

“Apa aku pernah ke sana?” tanya Bernadette.

“Belum, tapi tempatnya istimewa sekali,” ujar Kusuma.

“Di mana?” tanya Bernadette penasaran.

“Tunggu saja. Jika aku memberitahunya sekarang, itu bukan lagi suatu kejutan,” jawab Kusuma.

Bernadette tersenyum. “Apa aku akan menyukainya?” tanyanya lagi.

“Pasti,” sahut Kusuma.

Bernadette berpaling dan langsung menyelinap di belakang mobil, seraya menghela napas lega.

“Sampai besok,” ujar Bernadette, matanya berbinar di bawah cahaya rembulan.

Kusuma melambai saat mobil Bernadette mulai mundur. Bernadette memutar arah mobilnya kemudian meluncur ke arah kota. Kusuma masih terus mengawasi hingga mobil Bernadette menghilang di tikungan.

Kusuma berbalik, memasuki rumah. Ia kembali menuju balkon dan menikmati malam yang tersisa. Kusuma menghayati kembali apa yang terjadi malam ini.

“Dia sudah bertunangan,” ujarnya pada diri sendiri. Dan Kusuma mulai melangkah masuk, membiarkan kenangan itu berlalu bersama dengan tidurnya.

To Be Continued

*********************************************************

A.N :  oke ? Apa ini? aku kecewa banget buat part kemaren, mana komentarnya? Viewers banyak melebihi TST tapi sepi komentar. Tolong jangan buat author galau T___T

Aku gak maksa kalian buat koment di blog ini, kalian kan juga bisa komen lewat sms, atau fb atau twitter. But? Cuma 3 koment yang masuk. hhuhuhuuhuh. Tinggal bilang FFnya bingungin chingu, atau FFnya kok rada gak jelas.. gitu juga gag apa kok. Aku nerima banget loh :3

About kkangrii

| Moslem |

Posted on March 6, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. yg ini pendek ya sus /plaaaakk
    hehehehe
    jefri??! kaget sendiri pas baca jefrinya udah meninggal ;_;;
    wah waaaahh penasaran banget sama kelanjutannya. kayaknyaaa…..pertunangan john sama bernadette bakal batal wehehehehehhehehhehehe
    makasih ya susi… nice story ^^

  2. yang ini bagus unn.. tapi pendekk.. tumben Epepnya pendek, hhhhhhh
    banyak typong,tapi makin jelas alurnya kok… kwkkwkw

  3. Jiahhh, part ini jelas bgt saeng. Bernadette gmana c itu, kwkwkw. Kasian bgt john, besok mau ngapain aja ntu c bernadette ama kusuma? Penasaran, penasaran! Good job!

  4. Unnieeeeee, maafkan daku baru bacaaa FF ini, maaaaaaffff bangeeeeeeeettttt

    aku ga’ terima jefri udah meninggal unnn, oppaku masih hiduppp, hiksu #elap.umbel

    si kusuma mau ngajak bernadette kemana noh? Holla, key oppa, sadarlah kau! Bernadette bentar lagi, kawin. Aku lanjut part 4 dulu,

    • Iya. Sadarlah Key, kembali saja pada Marie (?) relakan Bernadette bersama Jonghyun, ya gak saeng? Kwakwakwakwa #diinjek Fina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: