[FF/PG-15] Last Story #4 “Suspicion”

CAST :
* Kusuma Boedi – KEY SHINee
* Bernadette Van Heutsz – Fina
* John Whittaker – Jonghyun SHINee
* Juffrow Marie – AUTHOR
* Jefri – Onew SHINee

LENGHT : Part 4 1186 words

GENRE : Romance, Mistery,

RATE : STRAIGHT/PG-15

SETTING :

Purworejo tepatnya di desa Bagelen. Desa yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

P.S :  Part ini khusus ceritanya Jonghyun (John)

LAST STORY That I Told To You

– Part 4 –

Suspicion

JOHN menutup telfonnya.
Ia sudah menelpon pada pukul tujuh, setelah itu pukul setengah sembilan, dan sekarang? Ia mengecek arlojinya sekali lagi. Pukul setengah sepuluh.
Di manakah dia?
John tahu di mana Bernadette menginap. Karena ia sudah menghubungi kembali nomor telfon penginapan yang tadi sore Bernadette gunakan untuk menelfonnya. (ada di part 1)
John juga sempat berbicara dengan manager penginapan pada telfon yang pertama. Dan ya, Bernadette memang sudah terdaftar sebagai tamu di penginapan tsb. Dan terakhir kali sang manager melihatnya adalah sekitar pukul setengah enam. Manager tsb mengira Bernadette pergi keluar untuk makan malam. Tidak, ia tidak melihatnya lagi setelah itu.
John menggelengkan kepala dan bersandar pada kursi kerjanya. Ia adalah orang terakhir yang berada di kantor itu. Sebagaimana biasa; suasana sudah sepi.
Kerja larut malam adalah hal yang wajar bagi John. Apalagi saat ini ada sidang yang sedang dalam prores. Hukum merupakan kecintaannya, dan hanya pada jam-jam larut malam begini ia bisa menyelesaikan pekerjaannya tanpa interupsi.
John tahu bahwa ia akan memenangkan kasusnya, karena ia menguasai segi hukumnya dan memperoleh simpati dari pihak pengadilan. Biasanya memang begitu. Ia semakin jarang kalah sekarang. Itu semua berkat kemampuannya menyeleksi kasus-kasus yang berpotensi untuk ia menangkan. Ia sudah mencapai peringkat itu dalam karirnya. Hanya beberapa orang di kotanya yang menduduki posisi sejajar dengannya, dan itu tampak dari penghasilannya.
Namun andil terbesar dari suksesnya adalah karena jerih payahnya. Sejak dulu ia selalu memperhatikan segala sesuatunya dengan detail, terutama saat ia memulai karirnya. Hal-hal kecil, hal-hal yang tampak kurang relevan, itu sudah merupakan kebiasaannya untuk ditekuni. Entah menyangkut urusan hukum atau sekadar presentasi, ia selalu menekuninya dengan serius.
Dan saat ini sebuah hal yang amat detail dan kecil mengganggu pikirannya.
Bukan mengenai kasus yang sedang ditanganinya. Tidak, yang itu tidak bermasalah sama sekali baginya. Ini menyangkut hal lain.
Sesuatu mengenai Bernadette.
Tapi sial, ia tidak dapat menyebutnya secara pasti. Ia merasa tenang saat Bernadette berangkat tadi pagi. Setidaknya begitulah. Tapi setelah Bernadette menelponnya, siang menjelang sore, sesuatu mulai mengganggu pikirannya. Hal yang amat detail itu.Detail.Sesuatu yang tidak relevan? Sesuatu yang penting?Konsentrasi… konsentrasi… Sial, tapi apa?
John mendengus kesal. Pikirannya mulai bekerja.
Sesuatu… sesuatu… sesuatu yang dikatakannya?
Sesuatu yang dikatakannya? Ya, itu. Ia yakin akan hal itu. Tapi apa? Apakah Bernadette mengatakan sesuatu tadi di telepon? Di situlah awalnya, dan John mulai mengingat-ingat kembali seluruh percakapan mereka. Tidak, tidak ada yang aneh.
Tapi memang itulah hal yang detail, ia yakin sekarang.

Memang apa yang dikatakan Bernadette tadi?
Perjalanannya menyenangkan, ia sudah check in di sebuah hotel, juga sudah pergi berbelanja. Kemudian Bernadette meninggalkan nomor. Sudah, itu saja.
John mulai memikirkan Bernadette setelah tadi ia sempat ditelfon olehnya. John mencintai Bernadette, ia yakin sekali mengenai itu. Tidak hanya karena Bernadette cantik dan menawan. Tapi juga karena Bernadette adalah segalanya bagi kehidupannya. Bernadette adalah inspirasi, dan juga alasan mengapa ia terus bekerja keras.
Setelah hari yang melelahkan di kantor, Bernadette merupakan orang pertama yang diteleponnya. Bernadette akan mendengarkan segala ceritanya, tertawa pada saat-saat yang tepat, dan memiliki indera keenam mengenai apa yang sedang butuh didengarkan oleh John.
John teringat saat mereka pergi bersama beberapa kali, ia mengatakan apa yang biasa ia ucapkan pada semua wanita yang pernah dikencaninya; bahwa ia belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Namun, tidak seperti gadis lain, Bernadette cuma mengangguk dan menjawab, “Oke.” Namun tiba-tiba Bernadette menatap lekat John dan mengatakan, “Masalahmu sebetulnya bukanlah aku, atau pekerjaanmu, atau entah apa menurutmu sendiri. Masalahmu adalah kau sendiri. Ayahmu sudah membuat nama keluarga Whittaker terkenal, dan mungkin kau selalu dibandingkan dengan dirinya selama ini. Kau tak pernah menjadi dirimu sendiri. Hidup seperti itu membuatmu hampa, sehingga kau mencari seseorang yang secara ajaib bisa mengisi kekosongan itu. Namun tak seorang pun dapat melakukan hal itu, kecuali kau sendiri.”
Kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang di telinga John semenjak itu, dan terasa masuk akal setelah ia merenungkannya. John menelepon Bernadette pada keesokan harinya, dan dia meminta maaf. Akhirnya mereka berhubungan hingga sekarang.
Selama enam tahun mereka menjalin hubungan. Bernadette telah menjadi segalanya bagi John. John sadar bahwa seharusnya ia meluangkan lebih banyak waktu bersama Bernadette. Namun profesinya sebagai pengacara membuat ia sulit membatasi jam-jam kerjanya. Bernadette selalu memaklumi hal ini, namun John akhirnya selalu menyesali diri karena tidak dapat meluangkan waktu banyak untuk Bernadette. Begitu menikah nanti, ia akan memperpendek jam kerjanya; janjinya pada diri sendiri. Ia akan meminta sekretarisnya mengecek setiap jadwalnya, untuk memastikan bahwa ia tidak bekerja melampaui batas….
Mengecek?….John tersadar. Pikirannya mulai bekerja lagi.Cek… mengecek… check in?Ya, itu. Ia memejamkan mata, kemudian memusatkan pikirannya sebentar.
Bukan. Tidak. Lalu apa?
Ayolah, jangan macet sekarang. Konsentrasi.
Purworejo.
Nama itu tiba-tiba melintas dalam pikirannya. Ya, Purworejo. Itu dia. Hal yang kecil, atau bagiannya. Lalu apalagi yang lebih detail?
Purworejo, John memusatkan kembali pikirannya. Berusaha mengingat nama itu. Mengingat kota kecil itu samar-samar dalam ingatannya, lebih karena beberapa kasus yang pernah ia tangani di sana.

Ia juga pernah mampir di sana beberapa kali dalam perjalanannya menuju ke pantai Gelagah, Yogyakarta. Tidak ada yang istimewa. Ia dan Bernadette belum pernah ke sana berdua.
Tapi… Tapi Bernadette pernah ke sana dulu….
Situasinya mulai sedikit lebih jelas, tapi masih ada sesuatu… sesuatu…
Bernadette, Purworejo…. Lalu… Lalu… sesuatu di sebuah pertunjukan wayang. Sebuah komentar dari Bernadette karena ucapan ibunya. John tidak begitu memperhatikannya waktu itu. Namun, apa sebenarnya yang dikatakan ibu Bernadette?
Dan begitu ia ingat, wajahnya memucat. Ia ingat apa komentar dan tanggapan dari Bernadette. Ia juga ingat apa yang dikatakan oleh ibu Bernadette waktu itu.
Tentang Bernadette yang pernah jatuh cinta pada seorang pemuda dari Purworejo. Ibu Bernadette menyebutnya sebagai cinta monyet. ‘Ah, urusan sepele,’ pikir John waktu itu, kemudian ia berpaling dan tersenyum pada Bernadette.
Namun Bernadette tidak membalas senyumannya ketika itu. Ia tampak marah. Setelah itu, John menyimpulkan bahwa perasaan Bernadette pada lelaki itu jauh lebih dalam daripada yang disangka ibunya. Mungkin bahkan lebih dalam daripada cinta Bernadette pada dirinya sendiri.
Purworejo, kota itu kembali terngiang jelas dalam benak John.Dan sekarang Bernadette ada di sana. Menarik.
John menangkupkan kedua telapak tangannya dan menempelkan ke bibirnya, seperti sedang berdoa.
Suatu kebetulankah Bernadette berada di sana? Mungkin tidak apa-apa. Mungkin situasinya memang seperti yang pernah Bernadette katakan. Bahwa Bernadette sedang merasakan stress dan ia ingin belanja barang-barang antik juga liburan. Mungkin seperti itu. Bisa saja.
Namun…. Namun…. Bagaimana kalau?
John mulai menimbang-nimbang kemungkinan yang satu lagi itu, dan untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan yang luar biasa.
Bagaimana kalau? Bagaimana kalau Bernadette sedang bersama laki-laki itu?
John memaki sidang yang sedang ditanganinya. Andai saja sidang ini sudah selesai. Andai saja ia ikut pergi bersama dengan Bernadette.
John kembali mempertanyakan, apakah Bernadette telah mengatakan yang sebenarnya? Bahwa ia pergi ke sana memang untuk liburan? John hanya bisa berharap, semoga seperti itulah kenyataannya.
Setelah itu John memutuskan dalam hati bahwa ia tidak ingin kehilangan Bernadette. Ia akan mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan wanita itu. Bernadette adalah segala yang ia butuhkan, dan ia tidak akan pernah menemukan wanita lain yang seperti itu.
Karena itulah, John memutuskan meneleponnya kembali. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor tsb, untuk keempat kali dan yang terakhir malam itu.
Dan sekali lagi. Sama seperti sebelumnya. Tidak ada jawaban.

To Be Continued.

************************************************

A.N :Makasih buat yang udah berkomentar =)) baik lewat sms atau manapun itu. Aku mau jawab pertanyaan kalian secara keseluruhan di sini. Yah, memang, bener banget. Pada awal part FF ini membingungkan, karena genrenya juga Mistery.

Semakin banyak part maka semakin jelas (Insya Allah), karena semakin banyak yang akan terbongkar. Jadi kalo ada yang tanya, apa hubungannya prolog Last Story sama setiap part2 cerita ini, jujur aku belum bisa jawab. Semuanya akan terbongkar sendiri nantinya ^~^
Jangan lupa komentarnya untuk part ini ya? Kritik, saran, dan segala bentuk komentar diterima ^~
Silent readers not allowed in this blog. Show me ur real face *ceileh, akakakakaka

About kkangrii

| Moslem |

Posted on March 7, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Satu kata! Penasaran, penasaran! Kira2 John bakal nyusul ke purworejo gak? Akh, ayo saeng. Lanjutannya jgn lama2.

  2. ooh aigo~ john….kau begitu pintar-__- wehehehe
    wah ternyata yg ini pendek bener ya sus kkkkk
    emmm salut disini sama john, analisis nya uwoh mendetail, lengkap, hal yg paling kecil pun masuk dalam hitungannya. hebat hebat salut banget sama john, apalagi sama yg bikin karakter john (red:susi) wehehehehe
    well done susi! gamsahamnida ^^ ditunggu part 5 nyaahehehe

  3. Kuraaaaaaaangggggg banyaaaaaaaaaakkkkkkkk /tarikbajujjong
    masih pengen baca unnie, genrenya kurang ni unn. Tambahin! Detective, ckckckkkkkk
    jeongmal daebak part ini! Unnie jago bikin detective juga kaya’nya nih.. Part 5 ASAP!

    • Detective? O.O Onnie mah kagak jagoan bikin detective. Apa iya ini detective? O.o kwkwkw, ah bawel kamu saeng. Ngetik itu capek tauuuk! Kwkwkw

  4. Oh 1 lg unn. Aku masih belum bisa nyambungin prolog sama cerita ini. Bener-bener mistery yakk? *Angkat semua jempol member shinee*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: