[FF/2S/1/PG-15] FORGOTTEN

TITLE : FORGOTTEN

AUTHOR : Reann & Fany

LENGHT : 1/2 [3082 words]

GENRE : ROMANCE,

CAST :

* Choi Minho SHINee

*Lee Taemin SHINee

*Kim Neun Hye

DISCLAMER :

I only have the plot story. Don’t steal it!

**********************************************************

Aku dan Lee Taemin. Dua makhluk yang begitu berbeda. Aku adalah api dalam es. Taemin adalah es dalam api. Pembawaanku begitu kuat, berkobar laksana lidah api. Tapi hatiku tidak lebih rapuh dari serpih debu. Sementara Taemin, Dia serupa sangkar. Tenang dan aman diluar. Menyimpan buas liar di dalam. Kami memang berbeda. Tapi justru karena perbedaan itulah kami jadi satu.

Biarpun Taemin adalah ‘anak sampah’ yang dipungut orang tuaku. Sungguh tak sekalipun aku menganggapnya sebagai sampah. Lee Taemin adalah adikku. Adik Choi Minho. Masalah sel genetika dan sebagainya, siapa yang peduli? Kami tumbuh bersama. Besar dengan cara yang sama walau asal beda. Kami menjadi dua pribadi yang beda namun tetap satu jiwa. Kami berbagi banyak hal. Tetapi… jika hal itu adalah sesuatu yang disebut cinta… sanggupkah kami membaginya?

Seoul, 30 Desember 2008

(Minho pov)…

Salju menyelimuti Seoul. Memutihkan dunia dari semua bercak dengki makhluk fana. Begitu indah. Sayang, latar seindah ini akan menjadi awal dari tragedy kemanusiaan yang akan melanda hatiku.

“Kau baru pulang?” tanyaku pada Taemin yang masih berdiri di ambang pintu, lengkap dengan kameranya.

“Ne.” jawab Taemin singkat sambil membersihkan salju di kepalanya.

“Kenapa belakangan ini kau sering pulang terlambat?” tanyaku menyelidik. Taemin tidak mennjawab. Dia hanya tersenyum seraya mengangkat tangan kanannya yang menggenggam sejumlah foto.

Taemin berjalan masuk dan menjejerkan foto itu pada meja tepat di hadapanku. Foto seorang gadis. Begitu cantik. Entah itu karena Taemin yang memang begitu ahli dalam fotografi atau memang karena wanita itu begitu sempurna. Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama di semua foto Taemin. Berarti semua foto diambil pada hari yang sama. Tetapi latarnya berbeda-beda. Apa itu berarti Taemin sengaja membuntutinya? Lagipula sepertinya foto – foto itu diambil dari sudut diluar pandang gadis itu. Apa Taemin benar – benar membuntutinya?

“Cantik tidak?” tanya Taemin. Aku mengangguk.

“Siapa namanya?” tanyaku.

“Molla…”

“Kau tidak sempat menanyakan namanya?” tebakku. Taemin terkekeh.

“Aku bahkan belum pernah bicara dengannya.” Jawab Taemin

“Sekalipun belum pernah!?” Taemin mengangguk enteng.

4 Februari 2010…

Ada sesuatu yang berubah dalam diri Taemin. Aku yakin itu. Hanya saja aku belum yakin apa hal yang berubah itu. Dia selalu pulang terlambat dengan senyum merekah lebar. Pulang terlambat memang adalah hal wajar bagi anak SMA. Tapi selalu pulang dengan senyum? Apa itu juga wajar?

Hari ini dia juga pulang terlambat lagi. Selalu…

Taemin melangkah masuk lengkap dengan senyumnya. Dan sesuai tebakanku, beberapa helai foto ada di genggamannnya.

“Hyung, lihat ini!” ucapnya riang seraya berlari kecil ke arahku. Wajahnya persis anak umur 5 tahun yang ingin ibunya melihat hasil karyanya.

Dia menjejerkan beberapa foto.Dugaanku tepat lagi. Foto gadis itu. Taemin-ah, sudah berapa banyak foto yang kau ambil? Apa kau tidak lelah?

“Hyung, hari ini pasti dia ada masalah. Lihat matanya. Agak sembab kan?” ucap Taemin.

“Kau masih belum bicara dengannya?” tanyaku lagi. Taemin menggeleng.

“Melihatnya saja aku sudah bahagia.” Ucap Taemin.

“Taemin-ah, tanyakan namanya. Ajak dia pergi keluar.”

“Aku belum siap, hyung.”

“Sudah lebih dari satu bulan. Dia tidak akan tahu jika kau tidak memberitahunya.”

18 Juli 2010…

Tidak ada perkembangan. Aku memutuskan untuk mengambil gerakan lebih dahulu. Yaah… kalau soal berhadapan dengan wanita, kupikir aku jauh lebih ahli dari Taemin. Taemin menunjukan gadis yang senantiasa menjadi obyek fotonya. Lalu, Taemin sendiri hanya menatap dari kejauhan saat aku menanyakan nama gadis itu. Sengaja kukeraskan suaraku supaya Taemin juga bisa mendengar suaraku.

Kim Neun Hye…. Itu namanya. Kau dengar itu, Taemin-ah? Namanya Kim Neun Hye. Sesaat sebelum aku mengakhiri perjumpaan singkatku, yeoja itu tersenyum. Saat itu juga sesuatu yang aneh terjadi. Seolah ada kejutan listrik singkat dalam diriku. Dan kusadari bahwa dia murni kesempurnaan. Sempurnanya foto Taemin bukan hanya karena keahlian sang fotografer, tapi juga karena sempurnanya obyek.

Aku terpaku sejenak. Mataku terbuka tanpa berkedip. Di kesempatan seperti ini, sungguh sayang jika aku membuang sepersekian detik untuk berkedip. Senyum yeoja itu memudar berganti raut khawatir.

“Gwaenchana, Choi Minho?” tanya Neun Hye.

Ponsel di saku jeansku mendadak ikut bergetar. Membuat lengkap hancurnya konsentrasiku tadi.

“Ne. Aku tidak apa-apa.” Dustaku.

Kim Neun Hye… Demi apa sebenarnya aku berdusta kala itu? Sejak senyummu, aku tak akan pernah ‘tidak apa-apa’ lagi.Lagi-lagi ponselku bergetar. Aku terpaksa menyudahi perjumpaan yang memang seharusnya telah usai sejak tadi.

2 missed call. Semuanya dari Taemin.

Aku menemui Taemin di tempat persembunyiannya.“Kenapa begitu lama? Aku hampir mati bosan disini.” Keluh Taemin.

“Namanya Kim Neun Hye.” Ucapku.

“Kim Neun Hye? Namanya bagus.” Ucap Taemin.

13 September 2010…

Apa yang harus kulakukan? Ya tuhan, aku sungguh berdosa. Dan dosa itu kulakukan pada seseorang yang paling tidak ingin kulukai. Apa yang harus kulakukan? Apa? Mereka bilang cinta adalah anugrah. Tapi cintaku adalah dosa. Demi Tuhan, apa gerangan yang membuatku memiliki cinta senista ini!?

“Taemin-ah…” panggilku parau.

“Apa, hyung?” Taemin masih asyik membersihkan lensa kameranya.

Aku sengaja menatap sekeliling. Sekedar mengulur waktu untuk menunda pembicaraan ini.

Kamar Taemin. Kecil dan padat. Dindingnya dipenuhi foto gadis itu. Di mejanya berserakan roll film dan lensa kamera. Kasurnya tidak pernah berada dalam keadaan rapi.

“Hyung.”

Spontan aku balas menatapnya. Taemin berdiri tegak menatapku.

“Ada apa?” lanjut Taemin dengan suara yang lebih lembut.

Taemin-ah, melihatmu aku makin tak tega mengatakannya. Haruskah kupendam saja sebagai rahasia kecil aku dan dirinya? Tapi bagaimana jika rahasia itu tumbuh menggeliat menjadi aib? Dan kau mengetahui saat semuanya telah menjadi begitu gawatnya.

Tidak. Lebih baik aku mengatakannya saat ini juga. Selama 19 tahun aku hidup di bawah atap yang sama denganmu, tak ada sedikitpun rahasia di antara kita kan? Bahkan hal – hal paling privasi-pun tetap milik kita berdua.

“Aku… Aku telah melakukan hal yang salah, Taemin-ah.” Aku duduk di pinggiran tempat tidur Taemin. Taemin mendekat.

“Tidak ada hal yang absolute benar di dunia ini, hyung. Semua orang pernah berbuat salah.” Jawab Taemin penuh kesabaran.

“Aku takut, Taemin-ah…”

“Hyung, kau kenapa?”Aku diam seribu kata.

“Hyung, katakan padaku. Aku akan membantumu.” Ucap Taemin.

Andwae, Taemin-ah. Jangan bantu aku. Simpan tenagamu untuk membantu dirimu sendiri. Karena tak lama lagi kau akan jatuh ke dalam jurang. Dan aku-lah orang yang akan mendorongmu Taemin-ah. Aku orangnya. Aku! Aku! Orang yang ingin kau bantu ini.

“Hyung, katakan padaku. Aku tidak akan menyalahkanmu,hyung.” Ucap Taemin lagi.

“Ani,Taemin-ah. Setelah kau mengetahuinya, kau pasti akan membenciku. Kesalahan yang telah kuperbuat sungguh sangat besar. Aku merasa tidak sanggup menanggungnya sendiri.”

“Maka katakan padaku,hyung. Biarkan aku membantumu.” Bujuk Taemin.

Aku menarik napas panjang.

Cepat atau lambat dia akan tahu. Sebaiknya aku memberitahunya sekarang. Lebih cepat lebih baik bukan?

“Aku… menyukainya juga.” Aku mengaku dengan suara parau.

“Siapa?” tanya Taemin penasaran.

“Wanita yang juga kau sukai. Kim Neun Hye.”

Raut wajah Taemin berubah drastis. Tampak jelas kini. Es yang menyelubungi api neraka retak sudah karena belati pengkhianatan yang kutikamkan.

Taemin menunduk. Napasnya naik turun tidak karuan menahan amarah. Mungkin jika bukan aku yang melakukannya, Taemin pasti sudah mebunuh orang itu. Pasti. Aku tahu Taemin. Akulah orang yang paling tahu mengenai Taemin. Dia bisa menjadi iblis kapanpun ia mau. Biarpun begitu jika di depanku, dia selalu jadi malakat seutuhnya. Namun saat aku dengan sengaja mengoyak sayap malaikatnya, masihkah dia jadi malaikat di depanku?

Sejurus kemudian sebuah pukulan keras melayang ke wajahku. Aku jatuh tersungkur. Mengakibatkan cairan kental amis yang lazim disebut darah mengucur deras dari mulutku. Rasa sakit segera menjalari rahangku. Tapi aku yakin, hati Taemin jauh lebih perih. Tulang pipiku serasa hancur remuk. Tapi aku yakin, hati Taemin masih jauh lebih remuk.

“Taemin-ah… Mianhae… Jeongmal mianhae…” pintaku.Taemin tetap berdiri tegak di depanku. Menunduk menatap wajahku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.Dia kini laksana algojo yang siap membabat habis semua pendosa di bumi.Ya. Malaikat itu telah sirna. Sayapnya telah koyak karena pengkhianatan. Kesuciannya telah ternoda karena kekecewaan. Malaikat itu telah jatuh ke neraka.

“Naga.” Perintah Taemin dengan suara serak. Aku diam tak bergeming.

“Naga.” Perintahnya lagi.Aku tetap diam.

“NAGA!!!!!” kali ini Taemin berteriak.

Terhuyung, aku berjalan keluar dari kamar Taemin. Taemin segera membanting pintu kamarnya setelah aku keluar. Lalu dapat terdengar jelas olehku. Dia menjerit dengan liarnya. Serupa singa jantan yang luka. Mengaum. Meronta. Suara barang jatuh terdengar mengekor. Keadaan kamar Taemin pasti sangat kacau saat ini.

Dari arah belakang, mendadak kurasa sebuah tangan menggenggam tanganku. Tangan yang dingin gemetar. Aku menoleh. Dan kudapati sosoknya menangis pilu.

Kim Neun Hye.

Gadis itu memang sudah sejak awal berdiri di dekat kamar Taemin. Dia berniat untuk mencuri dengar akan pembicaraan ini. Ya, memang dia yang memintaku untuk mengatakan hal itu pada Taemin. Neun Hye pasti merasa tidak nyaman harus berpura-pura seolah tak ada hubungan antara aku dan dia. Aku mengerti itu. Sangat mengerti. Maka setelah hubungan kami berjalan selama satu bulan, aku memutuskan untuk mengatakannya pada Taemin. Dan niatku telah terlaksana hari ini.

Dia mendekat dan memeluk tubuhku. Lalu menangis tersedu. Aku tetap diam tak bergeming.

“Jangan menangis, Neun Hye-ah.” Ucapku lirih. Neun Hye makin terisak.

Wanita memang aneh. Seminggu sebelumnya dia terus memaksaku menceritakan hal ini pada Taemin. Tapi hari ini, kenapa malah dia yang menangis paling keras?

13 Oktober 2010…

Taemin seolah memiliki kepribadian baru. Dia jadi lebih diam. Dia hanya bicara seperlunya. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar. Dan aku berani bersumpah, sejak kejadian itu tak pernah sekalipun ia mau menatap wajahku saat aku mengajaknya bicara. Semua pertanyaanku hanya dijawab dengan anggukan atau gelengan kecil.

Aku tahu, Taemin. Kau terluka karena kejadian itu,kan? Aku masih ingat betul bagaimana kondisi kamarmu saat aku membukanya di keesokan harinya. Hampir semua benda berubah posisinya. Bantal terkoyak dengan isi yang memburai keluar. Sprei teronggok di pojok. Meja tergeser hingga di depan tempat tidur. Lensa kameramu pecah berkeping. Dan mungkin kamera benar-benar kawanmu. Seolah membalaskan dendammu, salah satu kepingannya sukses menusuk telapak kakiku. Dan foto itu… berpuluh atau mungkin beratus foto telah tersobek menjadi potongan kecil tak berarti. Berserakan dimana-mana memnuhi semua sudut kamarmu. Kesempurnaan itu telah diremas oleh tangan sang pembuatnya sendiri.

Jujur saat itu aku merasa jabatanku sebagai hyung harus dicopot. Namun kembali aku teringat. Jika bukan denganku, dengan siapa lagi kau akan hidup, Taemin-ah? Aku adalah satu-satunya sahabatmu. Aku adalah satu-satunya keluargamu. Appa dan Umma terlalu sibuk dengan urusan mereka. Dan jika bukan denganmu, dengan siapa lagi aku harus hidup, Taemin-ah? Kau juga adalah satu-satunya keluargaku. Kau adalah satu-satunya bagiku.

Karena itu, Taemin-ah, lebih baik kita saling memaafkan satu sama lain. Kita harus melakukannya Taemin-ah! Harus! Biarpun sulit, tapi ini demi kebaikan kita berdua.

Dan hari ini, aku kembali menemui Taemin…Perlahan aku duduk di pinggiran tempat tidur Taemin.

“Taemin-ah.” Panggilku. Taemin tidak merespon.

“Taemin-ah.” Panggilku lagi. Taemin malah berjalan keluar kamar.

“Aku ingin dimaafkan.” Ucapku cepat.Langkah Taemin terhenti. Dia menatapku tajam.

“Aku ingin kau memaafkanku, Taemin-ah.” Aku mengulang perkataanku.

Sesaat kami sama – sama terdiam. Hingga Taemin melontarkan sebuah kata.

“Tidak.”Aku menyerbu menahan langkah Taemin.

“Taemin-ah. Kau tidak boleh begini. Aku sudah minta maaf padamu. Kenapa kau tidak memaafkanku? Aku tahu aku juga salah. Tapi kau juga salah! Bayangkan! Aku hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk mengatakan ‘saranghae’ dan kau butuh waktu satu bulan hanya untuk mengatakan ‘annyeong’. Sesabar apa pun wanita, dia pasti punya batas kesabaran. Dan kau telah melampaui batas itu, Taemin. Bahkan aku yakin, jika bukan aku, pastinya akan ada orang lain yang merebut Neun Hye. Aku telah berbesar hati mengakui kesalahanmu. Lalu kenapa kau tidak mau melakukan hal yang sama?” Taemin tidak menjawab.

“Kenapa,hyung? Kenapa harus Neun Hye?” tanya Taemin serak.Untuk sejenak aku bingung harus menjawab apa. Dan mendadak sebuah kalimat spontan meluncur dari bibirku.

“Karena ini cinta. Jika sudah berhubungan dengan cinta, siapa yang bisa mengatur?” Taemin kembali terdiam.

Apa maksud diammu kala itu Taemin-ah? Apa kau diam karena kau memaafkanku? Atau justru kau diam karena kau makin membenciku?

11 November 2010…

Kehidupan kembali berjalan normal. Aku tidak tahu kalimatku yang mana yang akhirnya berhasil meluluhkan hati Taemin. Yang jelas, sepertinya dia mulai bisa menerima aku dan Neun Hye. Memang belum sepenuhnya. Tapi aku bisa mengerti, Taemin. Kau butuh waktu. Luka hati adalah luka yang paling lama sembuhnya. Bahkan untuk beberapa kasus, tidak bisa disembuhkan. Tapi kau kuat,Taemin! Aku yakin kau bisa.

23 Maret 2015…

Sudah lima tahun berlalu. Luka Taemin sepertinya sudah sembuh. Memang gurat luka akan tetap tertinggal. Tapi sudah tidak perih lagi kan, Taemin-ah? Taemin kini bekerja lepas sebagai fotografer sebuah majalah. Gajinya memang tidak begitu besar. Tapi kepuasan hati yang diterimanya sungguh amat besar. Sementara aku bekerja di sebuah kantor. Pekerjaanku begitu banyak dan sangat menyita waktuku. Berulang kali Neun Hye mengeluh karena aku tidak menepati janji untuk menemuinya. Tetapi aku yakin, Neun Hye pasti akan mengerti.

7 Mei 2015

(Author pov)…

Ponsel Minho bergetar di atas meja kerjanya. Meja kerja kecil yang kini dipenuhi berbagai macam arsip penting. Ponselnya terus bergetar. Sayangnya Minho terlalu sibuk mengurusi berkas – berkas kerjanya.

Sementara di tempat lain

(Neun Hye pov)…

“Kau yakin dia akan datang?” tanya Taemin. Aku tidak menjawab. Ponselku masih kupegang erat – erat di telingaku. Tidak ada jawaban. Aku menurunkan pegangan ponselku. Kembali kutarik napas panjang. Taemin menatapku lekat.

“Neun Hye-ah… dia tidak akan datang…” Taemin terus memaksaku untuk menyerah.

Aku menatapnya. Lalu menatap ke bawah.

“Dia bilang dia akan menemuiku jam 5 sore.” ucapku lirih.

“Sekarang sudah jam 8.” Taemin melihat arlojinya.

“Tapi dia pasti akan datang. Aku yakin itu.” aku tetap bersikeras.

“Sudah berulang kali Minho-hyung melupakan janjinya untuk menemuimu. Aku yakin pasti saat ini dia masih ada di kantor bersama dengan arsip-arsipnya.” Tebak Taemin.

Aku menunduk. Yah, mungkin saja. Bukan hanya sekali dua kali Minho melupakan janjinya. Apa dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya? Kilatan lampu kamera mengagetkanku.

“Taemin-ah, apa yang kau lakukan?” protesku. Taemin tersenyum polos.

“Wajahmu saat sedang kesal. Benar –benar lucu!” ucap Taemin.

“Ayo! Buat ekspresi kesal satu kali lagi.” Pinta Taemin.

“Tidak mau.” Tolakku.

“Yaak! Jahat sekali. Aku kan sudah menemanimu. Bayangkan. Pria baik hati macam apa yang rela menemani seorang gadis keras kepala yang sedang menunggu kekasihnya. Padahal kekasih itu sendiri sudah 90% tidak datang. Tapi gadis itu tetap keras kepala. Padahal sang pria baik hati baru saja pulang kerja. Belum makan siang. Kemarin hanya tidur dua jam. Jika aku tidak kenal lama denganmu, aku tidak mungkin mau menemanimu.” Jelasku panjang lebar.

“Aku tidak memaksamu untuk menemaniku.” Ucapku ketus.

“Aku juga tidak menemanimu karena paksaan. Aku hanya tidak tega melihatmu sendirian disini.” Balas Taemin. Taemin kembali tersenyum. Membuat aku merasa tidak enak padanya.

“Tapi kau pasti lelah. Pulanglah.” Ucapku. Taemin kembali menatapku seolah berkata ‘tidak apa. Jangan pikirkan aku.’ Tapi justru karena tatapan itu, aku makin merasa tidak enak. Pastinya dia juga sudah lelah. Dia terpaksa menemaniku dari jam 6 karena tidak sengaja berpapasan denganku.

“Huh! Hyung-mu ini benar – benar keterlaluan.” Keluhku sambil kembali mencoba menelpon Minho.

Minho POV…

Pekerjaan ini mulai membunuhku! Astaga! Hari ini aku harus benar – benar lembur. Mendadak mataku menatap sesuatu yang membuat mejaku bergetar.

“Neun Hye! Astaga! Aku benar – benar lupa!” aku menepuk jidatku.Segera kuangkat ponselku.

“Kenapa kau belum datang?” tanya Neun Hye kesal.

“Ah, mianhae. Aku… ada banyak kerjaan.” Jawabku.

Neun Hye tidak menjawab. Pasti dia sangat kesal padaku. Aku melihat jam dinding. Ya ampun. Aku memintanya datang jam 5 dan sekarang sudah jam 8. Aku membuatnya menunggu terlalu lama.

“Lalu… kau bisa datang atau tidak?” tanya Neun Hye lemas.

“Eh? Bisa. Tentu saja bisa.” Jawabku spontan.“Benarkah?” Neun Hye terdengar bahagia.

“Eh? Tunggu. Maksudku aku,” sambungan telpon mendadak terputus.

“Aku tidak bisa datang.” Lanjutku lirih saat menyadari bahwa sambungan telepon telah terputus.

Aku segera menghubunginya kembali. Tapi, tidak tersambung.

Aku menghubunginya lagi. Dan lagi – lagi tidak tesambung.

Aku menarik napas panjang. Dan memutuskan untuk mengirim sms.

“Dia akan segera pulang. Jangan terlalu khawatir. Dia  bukan anak kecil yang akan menunggumu seharian.”

Setelah mengirim 5 atau 7 sms berisi permintaan maaf bahwa aku tidak bisa datang, aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Namun, entah kenapa… perasaanku mendadak jadi tidak enak… Apa… dia…?

Neun Hye POV…

“Batunya habis…” keluhku sambil menatap layar ponsel yang sudah mati.

Hujan langsung turun dengan derasnya. Taemin segera melepas jaketnya dan menggunakannya untuk memayungi kami berdua.

“Minho-hyung bilang apa?” tanya Taemin di tengah derasnya hujan.Aku tersenyum.

“Pulanglah. Minho bilang dia akan segera kesini.” Taemin menatapku lagi.

“Benarkah?” tanyanya.Aku mengangguk.

“Hujan begitu deras. Kau bisa sakit.” Lanjutku.

Taemin berpikir sebentar.“Aku akan pergi setelah Minho tiba.” Putus Taemin.

“Aku bisa menunggu sendiri.”

Taemin berpura – pura tidak mendengar.“Aku yakin Minho pasti datang.” Ucapku lagi.

“Benar tidak apa – apa?” tanya Taemin.

Taemin Nampak ragu. Sejenak ia berpikir.

“Ini. Bawa ponselku. Lain kali, isi dulu batu ponselmu hingga penuh. Nanti kalau aku sudah terima gaji, kau akan aku belikan ponsel baru. Atau minta saja pada Minho-hyung untuk membelikanmu satu.”

“Ponselku masih bagus. Hanya lupa mengisi batunya saja.” Balasku.

“Yah, terserah kau saja.” Ucap Taemin. Taemin memberikan jaketnya padaku dan segera berlari menembus derasnya hujan.

“Taemin-ah! Jaketmu!” panggilku. Namun, Taemin tetap berlari tanpa menengok.

“Dia benar – benar akan sakit…” tebakku khawatir.

Dua jam kemudian…

Aku terus menunggu. Sudah jam 10 malam. Dia tidak datang. Kakiku sudah pegal. Badanku menggigil kedinginan. Rintik gerimis ganti menemaniku. Taemin benar. Minho tidak datang…

Dengan langkah gontai, aku melangkah pulang. Menyebrangi jalan raya. Benar-benar pria itu. Apa sih yang ada di pikirannya? Apa hanya arsip –arsip itu yang mengisi otaknya?

Sebuah cahaya menyinari langkahku. Cahaya bulan-kah? Tidak. Bulan tidak bersinar seterang ini. Ini… lampu mobil! Aku terpaku melihat mobil itu melaju kencang ke arahku. Sedetik kemudian, kurasakan tubuhku terpelanting menabrak aspal yang basah. Sesuatu mengalir dari kepalaku… Air hujan? Tidak. Sesuatu yang hangat. Darah… Cahaya kembali berdatangan. Disertai berbagai sosok manusia mengerubungiku.

“Apa dia masih hidup?”

“Panggil ambulans! Panggil ambulans!”

Kesadaranku makin menurun. Aku tidak kuat lagi. Cahaya itu makin lama makin kabur. Makin kabur. Dan akhirnya berganti dengan kegelapan.

“Minho-yah… dimana kau?”

Minho POV…

Akhirnya selesai sudah. Kantor sudah sepi. Hingga detik jam-pun terdengar begitu jelas di telingaku. Pantas saja. Sekarang sudah jam 11 malam. Aku melemaskan urat leherku. Terasa begitu kaku.

“Apa dia masih menunggu?”

Aku segera membereskan mejaku. Ponselku kembali berbunyi. Neun Hye-kah? Tidak. Bukan Neun Hye. Nama yang tertera di layar ponselku adalah nama Taemin.

Aku mengangkatnya.

“Kenapa?” tanyaku agak kecewa bukan Neun Hye yang menelpon.

“Apa anda bernama Choi Minho-ssi?” tanya seorang wanita.

“Ne. Aku Choi Minho.” jawabku dingin.

“Maaf, kami dari pihak rumah sakit. Apakah anda mengenal wanita bernama Kim Neun Hye?” tanya wanita itu lagi.Tubuhku langsung menegang.

“Ne. Neun Hye adalah kekasihku. Ada apa?” tanyaku khawatir. Tuhan! Semoga tidak terjadi hal buruk pada Neun Hye.

“Neun Hye Agassi mengalami kecelakaan. Dan anda adalah kontak pertamanya. Bisakah anda segera kemari? Kondisinya sedang kritis.”

Tanpa sempat menutup ponsel, aku segera berlari ke RS.

“Minho-ssi. Choi Minho-ssi! Apa anda bisa mendengar saya? Choi Minho-ssi.” Suara wanita itu masih terdengar memanggil namaku.

Tapi disaat seperti ini, apa perlunya meladeni wanita yang pasti adalah perawat tersebut? Aku punya keperluan yang lebih penting. Meladeni kekasihku. Meladeni Kim Neun Hye.

*******************************************************

To Be Continued

*******************************************************

About kkangrii

| Moslem |

Posted on March 14, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. ini yg alurnya kita bkn breng itu ya? Msh bnyak misstype

  2. keren….minho jahat.
    poor taemin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: