[FF/2S/2/PG-15] FORGOTTEN

TITLE : FORGOTTEN

AUTHOR : Reann & Fany

LENGHT : 2/2 [3607 words]

GENRE : ROMANCE,

CAST :

* Choi Minho SHINee

*Lee Taemin SHINee

*Kim Neun Hye

DISCLAMER :

I only have the plot story. Don’t steal it!

**********************************************************

FORGOTTEN

– Part 2 –

8 Mei 2007

(Author POV)

Hari telah berganti. Tapi dunia Choi Minho tetap statis dalam penantiannya di ruang tunggu. Sudah satu

jam dia menunggu. Begitu menerima telpon itu Minho langsung menghambur menuju RS. Tapi setibanya di sana,

ruang telah tertutup. Perawat mengatakan bahwa Kim Neun Hye sedang menjalani proses operasi. Dan tak ada

hal lain yang bisa dilakukan Minho selain menunggu.

Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Semua orang tahu itu. Tapi menunggu yang ini adalah suatu

hal yang jauh dari membosankan. Penuh analisis spekulasi khayalan. Berbagai ‘andai’ muncul begitu saja

dalam pikiran. Hal yang wajar sebenarnya. Semua orang jika berada dalam posisi Minho pastinya juga akan

melakukan hal yang sama. Membangun kemungkinan terbaik dan terburuk yang mungkin terjadi.

Sejauh ini, kemungkinan terbaik yang berhasil disusun adalah, Neun Hye kembali sembuh, memaafkan

kesalahan Minho, melupakannya dan kembali ke rutinitas semula tanpa perubahan berarti. Tapi tetap saja

harus ada yang berubah. Aksi tanpa reaksi adalah mustahil hukumnya. Dan satu-satunya yang akan berubah

adalah diri Minho. Dia sudah bersumpah dalam hatinya, pada langit, pada bumi, bahwa ia akan menyempatkan

waktu untuk Neun Hye. Dia tidak akan membiarkannya kecewa lagi.Terdengar suara lagi. Mendekat kini.

Sesosok tubuh tertutup kain putih lewat di depan Minho dengan para perawat di sampingnya dan keluarganya

menangis di belakangnya. Seorang manusia baru saja lepas napas terakhirnya. Itulah kemungkinan terburuk

yang sedari tadi menghantui Minho, bahwa Neun Hye akan mengalami nasib yang sama dengan dia yang tertutup

kain putih.

Hal yang begitu sederhana dengan efek luar biasa. Semua orang pasti akan mati. Sederhana bukan? Namun

tetap saja efek luar biasa akan muncul saat seorang manusia dihadapkan pada kematian itu sendiri. Akankah

Neun Hyemengalami efek luar biasa itu? Tidak. Minho tidak ingin hal itu terjadi. Taemin juga tidak ingin

hal itu terjadi. Tidak ada seorangpun yang menginginkan hal itu terjadi. Neun Hye adalah gadis yang baik.

Hanya orang gila yang mengharapkan dia mati.

Minho pov…

Suara langkah yang memburu terdengar mendekat. Taemin. Aku kenal suara langkahnya. Taemin berdiri tegak

di depanku yang masih terduduk di kursi.

“Hyung, kau gila ya!?” bentak Taemin.

“Aku juga tidak menyangka akan jadi begini, Taemin-ah.” Jawabku lemah.

“Hyung! Apa kau sadar hal yang baru saja kau lakukan!? Kau hampir membunuh Neun Hye, hyung! Kau hampir

membunuhnya!”

“Itu adalah sebuah kecelakaan.”

“Kecelakaan!? Dia kecelakaan karena menunggumu, hyung!”

“Taemin, kecilkan suaramu. Ini rumah sakit.”

“Ini menyangkut nyawa, hyung! Menyangkut nyawa Neun Hye!”“Aku tahu! Aku tahu! Aku tahu! Kau tidak perlu

mengatakannya berkali – kali padaku.” Aku jadi ikut emosi. Taemin terdiam dan mengacak rambutnya.

Aku tahu. Taemin pasti sedang marah saat ini. Dia butuh pelampiasan. Dan memang akulah yang paling pantas

menjadi pelampiasan atas semua kejadian ini. Tapi akankah pelampiasan Taemin memberikan sebuah perubahan

berarti pada kondisi Neun Hye? Jika benar bisa, aku akan dengan senang hati membiarkan Taemin

menjadikanku pelampiasannya. Aku rela Taemin memukuliku, mematahkan semua rusukku, meremukkan tulang

keringku. Aku rela. Bahkan aku rela Taemin mengambil nyawaku dengan cara tersadis sekalipun jika itu

untuk menyelamatkan Neun Hye.

Tiga jam kami menunggu. Tanpa tidur sedikitpun. Operasi akhirnya berhasil dilakukan. Nyawa Neun Hye

berhasil di selamatkan. Tapi, kami belum bisa menarik napas lega. Benturan di kepalanya… menyebabkan

beberapa kerusakan di otaknya… Kemungkinan besar, dia tidak akan kembali seperti dulu lagi. Tinggal

menunggu dia sadar, maka kita akan segera mengetahui gangguan apa yang terjadi. Dokter berkata sudah

sangat beruntung dia masih bisa bertahan hidup. Tetapi…

“Jangan khawatir, Taemin-ah… aku berjanji… apapun yang terjadi padanya… aku tak akan meninggalkannya

lagi… Aku akan melakukan apapun untuknya… Sungguh…” aku berusaha mencairkan suasana.

“Harus, hyung! Memang kau yang harus bertanggung jawab. Hingga matipun kau harus membuatnya bertanggung

jawab. Jika kau membuatnya menunggu lagi, aku tidak akan segan – segan membunuhmu .” Tambah Taemin dengan

tatapan tajam.

Dokter menyuruh kami berdua pulang terlabih dahulu. Kondisi Neun Hye belum siap untuk menerima tamu.

Dokter mengatakan untuk kembali esok pagi. Tetapi tetap saja tak dapat kupejamkan mataku sama sekali.

Perasaan bersalah ini… Kenapa harus Neun Hye? Kenapa bukan aku saja? Kenapa harus dia?

Empat jam kemudian

(Minho pov)…

Dengan langkah terburu aku berjalan menuju ruang tempat Neun Hye dirawat. Aku ingin segera melihat

kondisinya. Sungguh tak bisa sedetikpun aku tidur. Aku terlalu takut akan kemungkinan yang akan terjadi

pada Neun Hye. Benturan di kepala bisa menjadi hal yang amat fatal. Akankah Neun Hye menjadi lumpuh

sebagian sarafnya? Atau justu terjadi gegar otak?

Kupercepat langkahku.

Taemin ternyata sudah sampai lebih dahulu di rumah sakit. Memang semalam dia tidak tidur di rumah. Aku

pikir dia marah padaku dan memilih untuk menginap di rumah temannya. Lalu dia datang lebih pagi dariku

untuk menemui Neun Hye. Tapi kenapa saat ini dia hanya berdiri tegak di depan pintu kamar Neun Hye?

Kenapa? Perlahan aku mendekatinya.

“Cepat sekali. Kapan kau datang?”

“Satu jam yang lalu.” Jawab Taemin datar tanpa melihat ke arahku.

“Kau tidak pulang semalam. Tidur dimana?”

“Aku tidak tidur.”

“Lalu begadang dimana?”

“Depan rumah sakit.”

Depan rumah sakit? Pantas saja dia datang lebih  pagi dari aku.

“Matamu merah. Kau benar-benar tidak tidur ya?” tebakku.

“Hyung juga tidak tidur, kan?”Aku tertawa kecil.

“Kenapa tidak masuk?” tanyaku.

Taemin hanya menarik napas panjang. Kedua tangannya mengepal erat.

Matanya seketika menatapku tajam. Tatapan itu lagi. Seolah menyalahkanku. Sampai kapan kau mau menatapku

dengan tatapan itu Taemin-ah?

“Begitu mudah hyung bicara. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan terburuk dari cacatnya Neun Hye?

Semalaman pikiranku dipenuhi oleh hal itu. Jika aku melihatnya sekarang, mungkin aku akan terluka

karenanya. Lebih baik aku tidak mengetahui cacat apa yang ia alami.” Jawab Taemin.

“Tapi, Neun Hye akan sedih jika kau tidak mau menemuinya.” Balasku. Taemin tidak menjawab.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak akan menemuinya. Aku hanya… butuh waktu untuk menemuinya…” Taemin

menunduk lagi.

Aku menyerah. Mungkin Taemin memang butuh waktu. Mungkin memang Taemin yang paling terpukul akan

kenyataan ini. Jauh lebih terpukul dari aku. Aku segera memasuki kamar Neun Hye.

Neun Hye terduduk dengan tatap kosong mengarah ke luar jendela.

“Neun Hye-ah.” Panggilku ceria seraya memeluknya. Neun Hye segera melepasnya dan menatapku aneh. Seolah

aku adalah orang asing yang belum ia kenal.

“Nuguseyo?” tanya Taemin lugu. Seketika seolah ada kejutan listrik singkat mengalir ke tubuhku Tidak!

Jangan katakana bahwa…

“Kau… Kau tidak kenal aku? Choi Minho. Kekasihmu. Tidakkah kau kenal nama itu?”

“Choi Minho?” tampak dari wajahnya, Neun Hye mencoba untuk mengingat nama itu.Lalu dia menatapku lurus.

Menatap mataku tepat pada titik terdalamnya. Dalam hatiku terus menggema antisipasi akan hal ini. Jangan

sampai hal itu terjadi. Jangan. Jangan yang itu.

“Apa aku pernah mengenalmu?” lanjut Neun Hye  polos. Seketika tubuhku jadi lemas. Mati rasa. Hilang

tenaga. Mataku menjadi nanar seketika melihat mata Neun Hye yang begitu polos. Dia tidak mengingatku.

Bagaimana mungkin?

Taemin jatuh bersimpuh. Tatapannya kosong seketika. Percakapan kami rupanya terdengar olehnya.

“Dia… amnesia?” tanya Taemin tak percaya.

Hari itu, tiga anak manusia dihadapkan pada takdir nan keji. Seorang telah hilang ingatan akan bahagia

masa lampau. Mengalami penghapusan masal akan peristiwa dalam hidupnya. Jiwanya kini adalah hampa.

Kosong. Bersih. Sementara dua orang sisanya, telah hilang harapnya. Hanya bisa menatap kosong pada

kekosongan yang dialami rekannya. Rekan yang telah dititipi hatinya. Bersamaan dengan hilangnya jati diri

sang rekan, hilang pula sebagian diri dari dua manusia ini.

9 Mei 2015

(Author pov)…

Pemeriksaan kembali dilakukan. Beruntung, tubuhnya tidak ada gangguan. Namun… semua kenangannya… hilang.

Dokter bilang, ada kemungkinan bahwa ingatannya kembali. Tapi… bisa juga tidak kembali selamanya.

Taemin memasuki ruangan Neun Hye dan duduk di kursi di dekatnya. Lalu diam menatap wajah Neun Hye dengan

segala kesenduan dalam dirinya. Sengaja memang Taemin membisu. Hening tercipta.

“Jika Neun Hye lupa akan Minho, pasti dia akan jauh lebih lupa padaku. Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Aku tidak apa jika Neun Hye bersama Minho, yang penting dia bisa tersenyum. Melihat senyumnya dari

kejauhanpun aku sudah begitu bahagia. Aku tidak peduli entah karena apa atau dengan siapa dia tersenyum.

Yang penting ia bahagia. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.” Pikir Taemin.

Pikiran Taemin memang tidak pernah muluk. Pikiannya selalu sederhana dan ringkas. Tujuannya selalu murni

dan tulus. Tipikal anak umur lima tahun.

Neun Hye menoleh dan menatap Taemin dengan tatapan kosongnya. Tatapan yang jauh lebih menyakitkan dari

beribu macam tatapan yang pernah ditujukan pada mata Taemin. Dan sebuah pikiran sederhana kembali muncul.

“Jika saja… Neun Hye memilihku. Jika saja, orang yang Neun Hye suka adalah aku. Mungkin kejadiannya tidak

akan begini.”

“Nuguseyo?” tanya Neun Hye polos. Taemin tersenyum pahit.

“Lee Taemin imnida.” Jawab Taemin dengan hati hancur.

“Taemin?” raut wajah Neun Hye berubah. Dahinya berkerut.

“Taemin-ssi, apa dulu kau kenal aku?” tanya Neun Hye. Taemin mengangguk.

“Kau dekat dengan aku?” tanya Neun Hye. Taemin mengangguk lagi.

“Sangat dekat-kah?” Taemin lagi – lagi mengangguk.

“Namja bernama Minho itu bilang dia dulunya adalah kekasihku. Apa itu benar?” tanya Neun Hye. Taemin

meneguk air liurnya.

“Itu tergantung. Jika kekasih yang kau maksud adalah orang yang selalu ada disisimu selama lima tahun

ini, maka benar. Choi Minho adalah kekasihmu. Tapi… jika kekasih yang kau maksud adalah orang yang selalu

ada biarpun seolah tak ada. Orang yang diam-diam memayungimu kala hujan. Orang yang menemanimu dari

kejauhan. Orang yang tulus murni mencintai tanpa balasan. Jika kekasih yang kau maksud adalah orang

seperti itu, maka… akulah orangnya.” Jelas Taemin lirih. Neun Hye menatap Taemin penuh tanda tanya.

“Taemin-ssi, apa kau… mencintaiku?” Taemin terdiam sejenak.

“Neun Hye, dengarkan ini baik-baik. Karena aku hanya akan mengatakannya satu kali. Dan kau harus percaya

padaku untuk hal ini. Percayalah, bahwa hatiku selamanya untukmu. Biar kau menolakku seribu kalipun, aku

akan tetap mencintaimu. Biar kau berpaling dan tidak menemuiku untuk berabad lamanya, aku akan tetap

mencintaimu. Aku mencintaimu. Sejak dulu, kini, esok, lusa, seterusnya, selamanya…”

Minho mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan itu. Perlahan ditutupnya pintu tanpa suara. Dan diam –

diam melangkah pergi. Percakapan yang tak sengaja di dengarnya telah membuatnya mati kutu untuk sekedar

mengatakan selamat pagi pada Neun Hye. Minho berjalan kaku ke arah parkiran mobilnya. Dia membuka pintu

mobilnya dan duduk lesu di bangku kemudi.

“Taemin-ah, itu sudah lima tahun yang lalu. Kenapa kau masih menyimpannya?”

Benar. Siapa sangka cinta tak berbalas bisa bertahan hingga lima tahun lamanya? Kini tinggal menunggu

waktu. Siapa ksatria yang berhasil merebut hati sang putri. Ksatria berjubah putih yang selalu ada di

sisi sang putri selama lima tahun? Atau ksatria berjubah hitam yang mencintai tanpa mengharap balas?

21 September 2015

(Minho pov)…

Ingatan Neun Hye masih belum kembali. Setiap hari Taemin datang dengan lembaran – lembaran foto.

Menceritakan semua kisah yang berkaitan dengan foto tersebut. Dan aku perlahan sadar akan sesuatu. Mata

Neun Hye tidak lagi sekosong dulu. Ada cahaya yang berbinar kini. Dan cahaya itu muncul saat Taemin

datang. Apa mungkin, Neun Hye…?

Hari ini kuputuskan untuk memperjelas semuanya. Aku menemui Neun Hye di rumahnya. Neun Hye membuka pintu.

Aku memasuki rumahnya. Rumahnya selalu rapi seperti biasa.

“Minho-ssi, ada apa?” tanya Neun Hye. Aku tersenyum.

“Aku… hanya ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau masih menyukaiku?” Neun Hye tak menjawab. Dia malah menghindari tatapanku.

“Kim Neun Hye, katakanlah padaku.” Bujukku. Neun Hye belum menjawab.

Sepi. “Aku… tidak tahu.” Jawab Neun Hye jujur.

“Aku tidak tahu, Minho-ssi. Mungkin memang benar, dulu aku pernah mencintaimu. Tapi, untuk saat ini… aku

tidak tahu.” Lanjut Neun Hye.

“Tidak tahu?” tanyaku berharap Neun Hye mengganti jawabannya.

“Mianhada, Minho-ssi. Jeongmal mianhada.” Neun Hye membungkukan tubuhnya.

Aku melangkah keluar. Perih memenuhi hatiku. Bagaimana bisa dia melupakan semuanya begitu saja? Bagaimana

bisa? Amnesia memang membuat orang kehilangan ingatannya. Tapi apakah amnesia juga menyebabkan orang

kehilangan hatinya? Neun Hye pernah mencintaiku. Aku tahu itu. Tapi kenapa sekarang semuanya seolah

hilang begitu saja? Mustahil tak ada yang berbekas dalam ingatannya. Mustahil!

Sebuah pertanyaan kini muncul di benakku. Jika Neun Hye bisa melupakanku semudah itu, apa mungkin…? Apa

mungkin… dia tak pernah benar-benar mencintaiku?

18 Januari 2016

(Minho pov)…

Ini semacam karma atau apa? Sanggupkah aku menghadapi kenyataan ini? Neun Hye telah melupakanku! Neun Hye

menyukai Lee Taemin!

“Mianhae, hyung.” Ucap Taemin.

“Kau pasti bercanda.”

“Aku tidak bercanda, hyung. Neun Hye sendiri yang mengatakannya padaku.”

“Tidak mungkin.”

“Hyung aku tahu, ini memang sulit. Aku juga pernah mengalaminya. Memang sakit rasanya. Sekali atau dua

kali, mungkin hyung akan menangis memikirkannya. Tapi kau akan segera terbiasa, hyung. Percayalah

padaku.”Aku tak menjawab.

“Mianhae, hyung. Tapi… jika ini sudah mengenai cinta, siapa yang bisa mengatur?”

“Beri aku waktu, Taemin-ah. Beri aku waktu. Jika sampai akhir tahun ini Neun Hye masih belum mengingatku,

aku akan melepasnya persis seperti yang kau lakukan waktu itu.” Pintaku. Memang tidak adil. Saat Taemin

berada dalam posisiku, aku tidak memberinya kesempatan sama sekali. Tapi saat ini, aku meminta kesempatan

padanya.

3 Desember 2016…

Aku harus beradu cepat dengan waktu. Neun Hye, cepatlah ingat aku! Cepatlah…

25 Desember 2016…

Natal yang indah. Kehangatan terlihat dari setiap sudut kota Seoul. Tapi hatiku tetap dingin beku. Neun

Hye sama sekali tidak mengingatku. Justru kini ia menganggapku hanya sahabatnya. Persis seperti dulu ia

menganggap Taemin. Apa ini benar – benar karma?

Suara ketukan pintu terdengar.Aku beranjak dan membukanya.

Kim Neun Hye…

“Kau sendirian?” tanya Neun Hye. Aku mengangguk.

Memang sejak hari itu aku dan Taemin tidak tinggal serumah lagi. Taemin memilih untuk menyewa rumah

sendiri. Kami hanya sempat bertemu beberapa hari sekali dalam satu minggu. Itupun tidak lama. Tidak

pernah lebih dari 2 atau 3 jam.

“Kasihan sekali. Menghabiskan malam natal sendirian. Aku temani ya.” Ucap Neun Hye ceria.Aku tersenyum

tipis dan menyingkir sedikit supaya Neun Hye bisa masuk ke dalam.

Neun Hye melangkah lincah menjelajah ruang depan.

“Rumahmu rapi sekali. Tidak seperti rumah pria kebanyakan.” Puji Neun Hye. Aku hanya menatapnya lekat.

“Rumah yang Taemin tinggali sangat berantakan. Tidak heran dia sering kehilangan barang. Huh, benar-benar

merepotkan. Sering sekali aku terpaksa harus tinggal di rumah Taemin dari pagi sampai malam hanya untuk

membantunya mencari lensa atau roll film.”Aku menunduk. Dari ucapan Neun Hye, jelas bahwa ia dan Taemin

sering bertemu.

“Minho, ayo makan! Aku bawa mie ramen.” Ajak Neun Hye seraya mengangkat dua cup mie ramen.

Satu jam kemudian…

“Enak tidak?” tanya Neun Hye. Aku mengangguk. Mendadak ponsel Neun Hye berbunyi.

“Taemin? Huh, apa kameranya hilang lagi?” tebak Neun Hye begitu melihat nama Taemin tertera di layar

ponselnya.

Neun Hye mengangkatnya.

“Yobboseyo.”

“Eh? Tidak. Aku ada di rumah Minho. Kenapa?”

“Ingin ditemani? Haha! Kau ini seperti anak kecil saja.”

“Ne. Ara. Ara. Lima menit lagi aku kesana.”

Neun Hye menutup ponselnya.

“Minho-ah, mianhae. Sepertinya yang kesepian di malam natal ini, bukan hanya kau. Aku harus pergi ke

tempat Taemin. Kau tidak apa kan?” tanya Neun Hye.

Ke tempat Taemin? Bagaimana jika tetap di rumahku dan menghabiskan malam natal disini? Aku juga

sendirian. Aku juga kesepian. Bukan hanya Taemin.

“Aku juga sendirian.” Ucapku serak berusaha menahan kepergian Neun Hye.

“Taemin juga sendirian. Paling tidak aku harus memasakan sesuatu untuknya. Pasti Taemin belum makan.”

“Aku juga masih lapar. Aku mau makan lagi. Masakan sesuatu untukku.” Aku mencari alasan.

“Perutmu terbuat dari apa sih? Bukankah baru saja makan. Kalau masih lapar, beli saja di supermarket.”

“Aku mau makan kimchi.”

“Minho-yah! Ini hampir tengah malam. Membuat kimchi butuh waktu lama. Pesan makanan saja. Aku pesankan,

ya.” Tawar Neun Hye.

Setelah memesankan makanan Neun Hye melangkah keluar. Tapi dengan gerakan cepat aku segera mengejarnya

dan memeluknya dari belakang. Neun Hye sepertinya terkejut namun tidak melawan.

“Minho-yah. Kenapa?” tanya Neun Hye. Aku merapatkan tubuhku.

“Kau kedinginan?” tebak Neun Hye.

“Jangan pergi.” Bisikku.

Neun Hye terdiam.

“Aku harus pergi.” Jawab Neun Hye beberapa saat kemudian.

“Andwae. Jangan pergi. Jangan pergi.”

“Minho-yah… kenapa?”

“Pokoknya kau tidak boleh pergi.”

“Kenapa?”

“Karena… karena diluar sana tidak ada aku. Aku ada disini. Bukan disana.” Jawabku lirih.

Neun Hye menoleh. Matanya membulat. Wajahnya terlihat bingung.

“Minho-yah… Taemin sudah menungguku.” ucapnya lagi.

“Aku juga menunggumu.”

“Kumohon, Minho-yah. Taemin sedang menungguku. Aku harus pergi.”

Dengan gerakan yang teramat lambat penuh kesan tidak rela aku melonggarkan pelukanku. Neun Hye berbalik

dan mengangkat wajahku.

“Aku akan sering main ke rumahmu. Kau jangan khawatir.” Janji Neun Hye. Lalu dia berlari keluar tanpa

menoleh lagi.

Aku lagi – lagi hanya sanggup menatapnya. Dia pergi. Dia pergi lagi. Apa pada akhirnya dia benar-benar

akan pergi dariku? Tapi aku tidak mau hal itu terjadi. Tidak mau. Sungguh tidak mau.

1 Januari 2017…

Aku gagal. Aku gagal. Neun Hye tidak mengingatku. Taemin datang ke rumahku. Apa yang hendak ia lakukan?

Memamerkan keberhasilannya?

“Hyung, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku ingin kau mendengarnya langsung dariku. Bukan dari

orang lain.”

“Mengenai apa?”

“Aku… akan menikah.”

“Menikah? Dengan siapa?” Jantungku langsung berdebar kencang. Jangan katakan bahwa gadis itu adalah Neun

Hye. Tidak. Aku belum siap!

“Aku akan menikahi Neun Hye.” Pernyataan itu akhirnya terlontar dari bibirnya.

Mataku terbelalak lebar.

“Mianhe, hyung. Aku tahu. Ini terlalu cepat. Tapi pengalaman telah mengajariku banyak hal. Lebih baik

terlalu cepat daripada terlambat. Aku masih ingat betul akibat keterlambatanku kali terakhir.”

Hatiku berteriak. Ingin rasanya aku membunuh Taemin hari ini juga. Tapi, itu hanya akan memperunyam

masalah. Dia adalah adikku. Adikku! Begitu bodoh jika aku dibutakan nafsu sesaat dan membunuhnya.

Perlahan aku berbalik dan berjalan dengan langkah kaku.“Hyung, kau mau kemana? Hyung! Minho-hyung!”

panggil Taemin.

*****************************************************

Aku tetap melangkah pergi. Mataku menatap kosong. Aku terus melangkah. Tanpa kusadari, aku tiba di depan

rumah Neun Hye. Kenapa aku bisa sampai di tempat ini?

Lampu masih menyala. Bayangan Neun Hye tampak jelas dari balik tirai. Aku menantapnya lekat. Lampu

dimatikan. Sekarang ganti lampu kamar yang dinyalakan. Apa dia akan tidur? Sekarang semua lampu telah

dimatikan. Aku tetap terpaku di depan. Menatap kosong.

Mendadak hatikku jadi terasa panas. Seolah ada air mendidih bergemulak di dalamnya. Napasku memburu tidak

karuan. Bibirku  bergetar hebat.

“Neun Hye-ah!!!!!” panggilku sekeras mungkin. Sengaja aku berteriak keras-keras untuk melampiaskan

semuanya. Untung saja, rumah Neun Hye tidak berada di pemukiman padat. Sehingga tidak banya orang yang

mendengarku.

Lampu kamar Neun Hye menyala lagi. Sosoknya terlihat bergegas turun. Dan tak lama kemudian dia sudah ada

tepat di depanku.

“Minho-yah… kenapa?” tanya Neun Hye khawatir.Aku menatapnya nanar. Menatap kesempurnaanku yang telah

terenggut paksa oleh takdir.

Tidak ada wanita yang bisa kau miliki sepenuhnya. Biarpun wanita itu begitu mencintaimu, hingga rela mati

untukmu… Biarpun ia mengatakan padamu, bahwa ia adalah milikmu sepenuhnya… Kau tidak akan bisa

memilikinya… Kau bisa memiliki cintanya… hatinya… kasihnya… namun tidak takdirnya…

“Peluk aku…” pintaku polos. Neun Hye tetap diam.

“Minho-yah…”

“Sebentar saja. Untuk yang terakhir kalinya. Peluk aku. Lalu aku akan melepasmu. Aku akan melepasmu

seolah semua yang pernah terjadi antara kita adalah dongeng semata.” Pintaku lagi.

Neun Hye terdiam.

Namun beberapa detik kemudian, dia mendekat dan merengkuh tubuh ringkihku. Hangat rasanya. Untuk sejenak,

aku merasa begitu tenang. Dan untuk sejenak itu pula, aku bernostalgia kembali seolah dia masih milikku.

Milikku seorang.

“Kau selalu menceritakan hubungan kita di masa lalu. Tapi… Mianhae, Minho-yah… Cinta datang dan pergi

begitu saja. Kita tak punya kuasa apapun akan hal itu.” Bisik Neun Hye.

Ah, kenapa kau kembali mengingatkanku akan hal itu? Setidaknya untuk detik ini, biarkan aku berkhayal kau

tetap milikku. Hanya sekitar satu menit sebelum aku melepasmu. Hanya satu menit.

“Tapi kau jangan sedih, Minho-yah… Suatu saat… Di kehidupan yang lain, aku dan kau juga akan bertemu

lagi.  Akan jatuh cinta lagi.  Dan jika saat itu tiba, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan

selalu ada disisimu.  Tapi, sekarang… kumohon lepaskan aku.” Lanjutnya.

Sekarang? Jangan secepat itu, Kim Neun Hye. Aku belum siap. Aku sungguh belum siap. Tunggu sebentar. Lima

detik lagi. Lima detik lagi, ya.Aku merapatkan tubuhku dan memeluknya makin erat.

Empat detik lagi…

Semua ingatan ini, harus aku ingat benar-benar. Harus. Aku tidak boleh lupa akan detik ini.

Tiga detik lagi…

Mataku jadi panas. Dan kurasakan sebuah Kristal bening mengalir dari mataku. Aku… menangis?

Dua detik lagi…

Perpisahan memang selalu menyedihkan. Namun… dari semua perpisahan yang pernah kualami. Inilah perpisahan

yang paling pedih.

Satu detik lagi…

Aku menarik napas panjang. Mencoba mengumpulkan semua ketegaranku.

Detik terakhir…

Aku melepaskan pelukannya. Aku melepaskan dirinya. Aku melepasakan semuanya. Kuatatap wajahnya. Dia masih

Kim Neun Hye. Kim Neun Hye kekasihku. Selamanya tetap kekasihku. Dan kini akulah ksatria hitam. Aku

adalah bayangan yang akan selalu ada disisinya. Aku adalah angin yang akan menyeka penatnya. Aku adalah

cahaya yang akan mengusir hawa dingin dari tubuhnya.

Perlahan aku melangkah mundur. Sengaja kutundukkan kepalaku dalam-dalam. Supaya Neun Hye tidak melihat

Kristal bening yang mengalir di wajahku.

Begitu ironis memang… Kenyataan bahwa cintaku pada Neun Hye jauh lebih kuat daripada cinta itu sendiri…

Bahwa aku harus melepasnya karena aku berharap memilikinya… Bahwa kisah ini terlalu pedih untuk sebuah

kisah yang indah… Begitu ironis… Sungguh ironis…

“Tuhan. Jika kau benar ada, aku ingin meminta. Meminta semua milikku, kebahagiaanku. Biarlah semua itu

menjadi milikknya. Semuanya kurelakan di ambil dariku. Aku tulus ingin membahagiakannya.“ pintaku dalam

hati.

Aku melangkah jauh ke dalam pekatnya malam. Meninggalkan Kim Neun Hye yang masih terpaku tak bergerak.

Sadarkah dia akan betapa besar goncangan dalam hatiku kini? Tapi, lebih baik dia tidak sadar. Karena jika

dia sadar, akan ada pihak lain yang kembali terluka. Dan aku tidak mau ada luka lagi karena kisah ini.

Biarlah tusukan pedang dihatikku ini, jadi pengorbanan terakhir. Aku pergi bukan karena aku kalah. Aku

pergi atas kerelaanku sepenuhnya. Sungguh aku rela melepasnya.

*******************************************************

Taemin berlari ke rumah Neun Hye. Didapatinya Neun Hye berdiri tegak dengan tatapan lurus. Aneh, apa yang

dilakukan seorang gadis di luar rumah pada malam selarut ini? Apalagi angin malam sedang buas-buasnya

menebar aura beku.

“Neun Hye-ah, apa Minho-hyung datang kemari? Tadi dia pergi begitu saja saat aku memberitahu rencana

pernikahan kita.” Tanya Taemin.

Neun Hye tak menjawab. Matanya masih menatap lurus ke arah satu titik. Dan mendadak…

“Neun Hye-ah, kau kenapa?” tanya Taemin khawatir.

“Mollaseo. Mungkin kemasukan debu.” Jawab Neun Hye seraya menghapus air matanya.

Aneh. Kenapa tiba – tiba air matanya mengalir? Dan yang lebih aneh… kenapa mendadak hatinya jadi terasa

sakit? Kenapa?

Neun Hye terus berusaha menghapus air matanya. Tapi entah kenapa justru makin deras.

“Neun Hye-ah, gwaenchana?” Taemin makin khawatir.

“Aku ini kenapa?” tanya Neun Hye tak mengerti.

“Kenapa air mataku terus mengalir? Bukankah air mata keluar saat sedih? Apa aku sedang sedih?” tanya Neun

Hye sambil terus menangis.

******************************************************************

To Be Continued

******************************************************************

About kkangrii

| Moslem |

Posted on March 14, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. ckckck, aku ketawa sendiri pas baca ulg suratnya

  2. terharu bgt baca ini. Author daebak! Like this ching!!!!!!!!!!!!!!!!!! Hwaiting for next fanfic!

  3. terharu ampe nangis bcnya.
    feelny dpt. hiks…hiks….

  4. adch unni terharu bgt…. maf unni ak baru bca dn komen..
    tak terasa ak juga menjatuhkn kristal bening… hiks.. hiks..
    daebak unni..
    20 thumbs up,

  5. Ffnya bener2 bikin terharu😥 authornya jagoan haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: