[FF] Last Story #5 “She Doesn’t Care”

CAST :
* Kusuma Boedi – KEY SHINee
* Bernadette Van Heutsz – Fina
* John Whittaker – Jonghyun SHINee
* Juffrow Marie – AUTHOR
* Jefri – Onew SHINee

LENGHT : Part 5 (2055 words)

GENRE : Romance/, Mistery,

RATE : STRAIGHT/PG-15

SETTING :

Purworejo tepatnya di desa Bagelen. Desa yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta.

*****************************************LAST STORY******************************************


LAST STORY That I Told To You

– Part 5 –

(She Doesn’t Care )

Kusuma bangun sebelum fajar, kemudian cepat-cepat berpakaian, mengenakan celana jeans, baju dalam, kemeja flanel yang bersih, jaket biru, dan sepatu bot. Kusuma bergegas menuruni tangga dari kamarnya, kemudian dengan cepat meminum segelas teh dan meraih beberapa potong biskuit sambil menuju pintu keluar. Kusuma berjalan ke arah dermaga, di mana gethek (kayak)nya disimpan.

Kayak tua yang sering dipakai Kusuma untuk mengarungi sungai itu tergantung pada dua kait karatan yang merupakan bagian dari dermaganya, persis di atas batas permukaan air, agar tidak ditumbuhi remis. Kusuma mengangkat kayak tsb dari kaitnya dan meletakkannya di dekat kakinya. Ia memeriksanya dengan cepat kemudian membawanya ke tepian sungai. Dalam dua gerakan sigap ia sudah menaruh kayak itu di air. Kusuma kemudian naik di dalamnya, menentang arus, dengan dirinya sebagai nahkoda sekaligus mesin kayaknya.

Udara sejuk menyentuh permukaan kulit Kusuma. Kusuma terus mendayung seraya memandangi langit. Langit merupakan perpaduan berbagai warna; hitam persis yang berada di atasnya, kemudian biru segala nuansa nampak di kejauhan, dan semakin terang sampai di pertemuannya dengan cakrawala. Kusuma menarik napas dalam-dalam beberapa kali, menghirup aroma pohon-pohon yang berada di sisi kanan-kiri sungai. Kemudian ia mulai melakukan refleksi. Bagian inilah yang paling dirindukannya ketika berada di Yogyakarta. Karena kesibukannya sebagai TKR, ia tidak punya banyak waktu untuk melakukan refleksi seperti ini. Mendayung, lintas alam, berkencan…. semua itu harus ia korbankan. Kalau ada waktu, biasanya ia menjelajahi daerah pegunungan di Yogyakarta. Namun selama tiga belas tahun tidak pernah sekali pun ia sempat naik kano atau kayak. Kegiatan itu kemudian menjadi salah satu hal pertama yang ia lakukan setelah kembali.

Kusuma terus mendayung ke tengah sungai, dan mengawasi kemilau jingga yang mulai menyebar ke sepanjang perairan. Ia berhenti mendayung cepat dan mulai mengayuh sekadar untuk memastikan ia tidak terbawa arus. Kusuma memang selalu berhenti sebentar di tengah kegiatan mendayungnya – menikmati momentum fajar menyingsing di mana panoramanya betul-betul menakjubkan, seakan kehidupan ini dilahirkan kembali dan dimulai dari awal. Setelah itu, ia mulai mendayung kembali dengan mengerahkan seluruh tenaganya, melepaskan semua ketegangan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari itu.

Ketika mendayung, berbagai pertanyaan mulai meletup-letup di dalam pikirannya, bagaikan tetesan air dalam panci penggorengan. Ia ingin tahu tentang John, dan tipe pria seperti apakah dia. Ia ingin tahu mengenai hubungan John dengan Bernadette. Namun, di atas itu semua, ia ingin tahu tentang Bernadette serta alasan sebenarnya kedatangan wanita itu kemari.

Sesampai di rumah, ia merasa bugar. Ketika mengecek arlojinya, Kusuma terkejut karena ternyata kegiatan yang telah dilakukannya menghabiskan waktu selama dua jam. Kusuma menggantung kayak-nya agar kering, melemaskan otot-ototnya sebentar, kemudian pergi ke gudang tempat menyimpan kayak-nya.

Kabut pagi belum seluruhnya sirna. Kusuma merasa kakinya sedikit kaku, dan ini merupakan pertanda akan turunnya hujan. Ia melayangkan pandangan ke langit sebelah barat, dan melihat iring-iringan awan gelap dan pekat di kejauhan. Angin tidak bertiup kencang, namun toh menggiring awan-awan itu menuju kemari. Melihat awan-awan itu, Kusuma memutuskan tak ingin berada di luar begitu sudah turun hujan. Sial. Masih berapa banyak waktu yang Kusuma miliki sebelum turun hujan? Beberapa jam. Mungkin lebih, mungkin kurang.

Kusuma bergegas mandi, mengenakan jeans baru, dan kemeja merah. Ia menyisir rambutnya, kemudian turun ke dapur di lantai bawah. Selesai sarapan, Kusuma membuat segelas kopi lalu pergi ke teras. Langit kelihatan lebih gelap sekarang, menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan deras.

Kusuma mempertimbangkan rencananya. Benarkah dengan cuaca seperti ini ia akan mengajak Bernadette keluar?

Ia menghabiskan kopi yang telah dibuatnya. Ia telah mengambil keputusan yang terbaik, menurutnya.

Kusuma melewatkan dua puluh menit berikutnya dengan membelah dan menumpuk kayu. Ia melakukannya dengan santai, ayunan-ayunannya pun efisien hingga ia tak sampai berkeringat karena melakukan aktifitas tsb. Kusuma menyisihkan beberapa bongkah kayu untuk memasak nanti, salah satu agenda yang akan ia lakukan bersama Bernadette. Kusuma meletakkannya di dekat perapian.

Ia melayangkan pandang ke arah lukisan Bernadette, sambil menikmati sensasi yang ia dapatkan begitu melihat lukisan itu. Juga mengumpulkan bayangan-bayangan hingga sosok Bernadette terekam jelas dalam benaknya.

Akhirnya Kusuma berpaling, dan kembali menuju ke teras. Ia duduk di kursi goyang dan melihat arlojinya.

Bernadette akan datang sebentar lagi.

******************************************************************************************************

Bernadette baru saja mandi, dan sudah selesai berpakaian. Sebelumnya ia sudah membuka jendela untuk mengecek suhu di luar, sehingga ia memutuskan untuk mengenakan gaun bernuansa krem dengan tangan panjang dan leher tinggi. Kesannya lembut dan nyaman, mungkin agak ketat, tapi kelihatannya bagus, dan ia memilih sepasang sandal putih yang serasi.

Bernadette melewatkan pagi itu dengan berjalan-jalan di seputar pusat kota Purworejo. Purworejo masih sama seperti tiga belas tahun yang lalu.

Bernadette mulai memikirkan apa yang telah terjadi pada dirinya. Kini sepertinya tidak ada yang sederhana. Begitu sulit dipercaya, semua menjadi semakin jelas. Mengenai apa tujuannya datang kemari. Dan ia mempertanyakan apa sebetulnya yang akan ia lakukan sekarang? Seandainya ia tak pernah melihat artikel di koran itu. Rutinitas kesehariannya akan tetap berjalan. Hari ini adalah hari Sabtu, yang berarti main bridge di klub bersama teman-temannya. Kemudian pulang ke rumah untuk bersiap-siap makan di luar bersama John. Inilah satu-satunya hari dalam seminggu di mana ia bisa menghabiskan waktu bersama John secara rutin. Memang tidak lama. Hanya berkisar 2-3 jam.

Bernadette berusaha menekan perasaan sedih yang timbul menanggapi kenyataan itu, sambil berharap bahwa kelak John akan berubah. John memang sering berjanji akan melakukan hal itu, dan biasanya akan menepatinya selama beberapa minggu, sebelum perlahan-lahan kembali ke jadwalnya semula. “Aku tidak bisa malam ini, Sayang,” ujarnya selalu seperti itu. “Aku menyesal sekali, tapi aku tidak bisa. Bagaimana kalau kita lakukan lain kali saja?”

Bernadette tidak suka berbantahan dengannya soal itu. Karena ia sadar bahwa John memang mengatakan yang sebenarnya. Pekerjaan sebagai pengacara memang menuntut banyak waktu, baik sebelum dan selama berlangsungnya sidang. Namun terkadang Bernadette mempertanyakan mengapa John menghabiskan begitu banyak waktu untuk mendekatinya, kalau tidak bisa menyisihkan waktu baginya sekarang.

Bernadette melewati sebuah galeri seni, nyaris tidak menyadarinya karena begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia memutuskan untuk memutar kembali menuju galeri seni tsb. Ia berhenti sebentar di muka pintu, tertegun karena menyadari sudah begitu lama ia tidak memasuki sebuah galeri. Sedikitnya tiga tahun, atau mungkin lebih lama.

Bernadette masuk ke dalam – galeri itu baru saja dibuka, seperti toko-toko lain di pusat kota ini. Kemudian ia mulai melihat-lihat lukisan. Banyak di antaranya merupakan hasil karya seniman-seniman lokal, dan karya mereka di dominasi oleh bangunan seperti candi, gapura juga panorama alam Indonesia. Pandangan Bernadette tertuju pada lukisan ombak. Ombak laut dalam segala bentuk, besar, sesuai imajinasi, dan setelah beberapa lama memperhatikan dengan saksama lukisan-lukisan itu nampak sama semua. Entah para seniman itu kurang inspirasi atau sekadar malas, pikir Bernadette.

Namun di satu sisi dinding tergantung lukisan yang lebih memenuhi seleranya. Karya seorang seniman yang belum pernah ia dengar namanya, Teddy, yang sepertinya terinspirasi oleh gaya arsitektur kepulaulan Yunani. Dalam lukiran yang paling disukainya, ia melihat si seniman dengan sengaja mengaksentuasi pemandangannya dengan sosok-sosok yang amat kecil, goresan-goresan lebar, dan sapuan warna yang mantap, seakan untuk membuyarkan fokus-nya. Namun warna-warna itu hidup dan tampak seperti bergerak, mengundang si pelihat ke dalamnya, nyaris mengarahkan pada apa yang mesti dilihat pada berikutnya. Semakin Bernadette menghayati lukisan itu, semakin ia menyukainya. Ia sempat mempertimbangkan untuk membelinya, sebelum menyadari bahwa ia menyukainya karena lukisan itu begitu mengingatkan akan hasil karyanya sendiri. Ia mengamatinya dengan lebih cermat, kemudian mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin yang dikatakan Kusuma benar. Setidaknya sebaiknya ia mulai melukis lagi.

Pukul setengah sepuluh, Bernadette meninggalkan galeri seni itu dan pergi ke Sarinah, sebuah pasaraya di pusat kota. Ia hanya membutuhkan beberapa menit untuk menemukan apa yang dicarinya. Semua ada di sana, di bagian perlengkapan sekolah. Kertas, kapur untuk menggambar, dan pensil-pensil, bukan dari kualitas yang paling tinggi, tapi cukup baik.

Bernadette kembali ke hotel, penginapannya. Ia merasa sangat antusias saat berada kembali di kamar hotelnya. Ia duduk di belakang meja tulis dan mulai melukis – tanpa maksud yang jelas, sekadar untuk merasakan goresannya kembali, membiarkan bentuk-bentuk dan warna dari masa lalunya yang terpendam mengalir keluar. Setelah menggambar abstrak selama beberapa menit, ia membuat sketsa kasar panorama jalanan seperti yang terlihat dari kamarnya. Ia sempat tercengang bagaimana mudahnya ia melakukan itu. Nyaris seakan ia tak pernah berhenti menggambar.

Ia mengamati pekerjaannya setelah selesai, begitu puas melihat hasilnya. Ia mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang akan ia coba untuk dilukis. Ia sudah memutuskan, mengingat bahwa ia tidak memiliki model, ia mencoba membayangkannya sebelum mulai. Dan meskipun itu lebih sulit daripada panorama jalanan tadi. Goresan-goresannya keluar secara alami, dan setelah cukup lama mulai menampakkan wujudnya.

Menit demi menit berlalu dengan cepat. Ia terus bekerja, sambil rutin mengecek waktu supaya tidak terlambat. Dan akhirnya Bernadette selesai sebelum tengah hari. Ia telah melewatkan waktu hampir dua jam, namun hasilnya toh sempat membuatnya tercengang. Kesannya seakan ia telah mengerjakannya lebih lama dari itu. Setelah menggulungnya, ia memasukkannya ke dalam tas dan mengumpulkan barang-barangnya yang lain. Dalam perjalanan menuju pintu, ia menatap dirinya di cermin. Entah mengapa ia merasa sangat santai.

Ia menuruni tangga, kemudian berjalan ke pintu keluar. Saat melangkah, ia mendengar sebuah suara dibelakangnya.

“Nona?”
Bernadette menoleh, menyadari bahwa sapaan itu ditujukan ke arahnya. Ternyata manager hotel tempat ia menginap.

“Ya?”

“Ada telepon beberapa kali untuk Anda tadi malam.”

Bernadette nampak terkejut. “O ya?”

“Ya. Semua dari Tuan John.”

Astaga!
“John menelepon?”

“Ya, nona, empat kali. Saya sempat berbicara dengannya ketika dia menelepon untuk kedua kali. Sepertinya dia mencemaskan Anda. Katanya dia tunangan Anda.”

Bernadette tersenyum lemas, sambil mencoba menyembunyikan apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. Empat kali? Empat? Apa artinya itu? Bagaimana kalau terjadi apa-apa di sana?

“Apakah dia bilang sesuatu? Apakah ada urusan penting?” tanya Bernadette.

Si manager menggeleng dengan cepat. “Dia tidak mengatakan itu, Nona. Malah dia tidak menyebutkan apa-apa. Terus terang, kedengarannya dia lebih mengkhawatirkan keadaan Anda.”

Oke, batin Bernadette. Bagus. Tapi tiba-tiba ia merasa tidak enak. Kenapa kesannya begitu urgen? Kenapa harus sampai beberapa kali? Apakah Bernadette mengatakan sesuatu kemarin? Sesuatu yang mungkin membuat John penasaran. Tapi kenapa John sampai begitu penasaran? Tidak biasanya ia begitu.

Apakah mungkin ia tahu, entah dengan cara apa? Tidak…. itu tak mungkin. Kecuali kalau ada seseorang yang melihat dirinya di sini kemarin kemudian memberitahukannya pada John. Tapi itu berarti, mereka harus menguntit Bernadette sampai ke rumah Kusuma. Tak ada seorang pun akan mau melakukan itu.

Bernadette merasa harus menelepon John sekarang. Ia tidak boleh menunda lagi. Namun, entah mengapa ia merasa enggan. Saat-saat ini adalah miliknya, dan ia ingin melewatkannya dengan melakukan apa yang ia inginkan. Menurut apa yang telah Bernadette rencanakan, ia baru akan berbicara dengan John nanti. Dan untuk suatu alasan yang tidak jelas, Bernadette merasa bahwa berbicara dengan John sekarang akan merusak harinya. Di samping itu, apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia dapat menjelaskan keberadaannya di luar sampai selarut itu? Mungkin Bernadette akan menjawab makan malam terlambat dan setelah itu berjalan-jalan. Bisa saja. Atau nonton? Atau….

“Nona?”
Nyaris tengah hari, batin Bernadette. Di mana John biasanya saat ini? Di kantornya, mungkin…. Tidak. Ia baru ingat. Di ruang sidang. Ia langsung merasa terbebas dari beban berat. Kalau John sedang di ruang sidang, tak mungkin ia dapat berbicara dengan tunangannya sekarang, kecuali jika John sendiri yang menginginkannya. Bernadette tercengang menanggapi perasaannya sendiri. Ia senang? Ia tahu, tidak seharusnya ia merasa begini, namun ia tak peduli. Bernadette memeriksa arlojinya, berpura-pura.

“Benarkah sudah hampir pukul dua belas kurang?” tanya Bernadette.

Si manager mengangguk setelah menoleh ke arah jam sebentar. “Ya, kurang seperempat, persisnya.” jawabnya.

“Sayang sekali,” ujar Bernadette, “Dia sedang dalam sidang saat ini, dan aku tak mungkin dapat menghubunginya. Kalau dia menelepon lagi, bisakah Anda mengatakan padanya bahwa aku sedang pergi belanja, dan bahwa aku akan mencoba menghubunginya nanti?”

“Tentu saja,” sahut si manager. Namun Bernadette dapat melihat pertanyaan itu membayang di matanya : Tapi di manakah kau tadi malam? Ia tahu kapan persisnya Bernadette kembali kemarin. Terlalu malam bagi seorang wanita untuk keluar sendirian di kota sekecil ini.

“Terima kasih,” ujar Bernadette seraya tersenyum.

Dua menit kemudian ia sudah berada di dalam mobilnya, melaju ke rumah Kusuma, penuh antisipasi menghadapi hari itu, nyaris tak peduli mengenai telepon-telepon yang diterimanya. Jika ia mengetahui hal ini kemarin – malam itu juga, mungkin reaksinya akan berbeda. Dan Bernadette mulai mempertanyakan arti semua ini.

Saat ia melintasi jembatan itu, kurang dari 5 menit setelah meninggalkan hotel, John menelepon kembali dari gedung pengadilan.

*****************************************LAST STORY******************************************

To Be Continued……

About kkangrii

| Moslem |

Posted on April 25, 2011, in Fan Fiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: