Menghancurkan Sistem Politik Demokrasi Duit

Kita ini selalu hidup pada dunia ‘seolah-olah’. Dulu di jaman Harto, Pemilu adalah seolah-olah demokratis, Presiden seolah-olah dipilih oleh rakyat, tapi tetap saja semuanya artifisial karena pemenangnya partai itu itu juga dan Presiden-nya itu-itu juga. Sampai dulu ada seorang anak kecil di sebuah acara yang kebetulan masuk TV, Suharto ditanya “Kenapa Pak, Indonesia kok Presidennya cuman satu?” Pak Harto ketawa dan Pak Harto balik nanya “Kamu pasti disuruh orang tuamu ya” anak umur 8 tahun itu bengong saja.

Sistem politik yang pura-pura ini sampai saat ini masih digunakan. Semuanya bersekutu menjadi kelompok oligarkis yang menguasai proyek-proyek APBN negara, mereka berkelahi tapi juga berteman dengan kepentingan proyek tak ada lagi ruang idealisme disini.Seseorang masuk Partai tidak bisa serta merta menjadi motor perubahan masyarakat, karena Partai bukan lagi agen sosial pembentukan masyarakat tapi Partai sudah berubah menjadi Usaha Makelar Proyek dimana politisi menjadi broker-brokernya. Kerusakan ini sudah sedemikian parah, tak ada lagi celah untuk bertindak kuat membela kepentingan umum, membangun visi ke depan yang luar biasa dan menjadikan rakyat sebagai satu-satunya alasan bertindak.

Mentalitas para anggota Partai dan kaum Parlementaris sudah sedemikian bejatnya, mereka tidak malu lagi memamerkan kemewahan ditengah susahnya rakyat negeri ini, ditengah jutaan pengangguran, buruh-buruh yang menjadi budak dan kelaparan karena harga-harga di pasar naik. Bersatunya pemodal dan politisi kemudian membuat lingkaran-lingkaran kelas sosial yang kalis terhadap persoalan-persoalan masyarakat, mereka terasing dari gerak gelisah masyarakat. Mereka hidup dalam dunianya, mereka saling terkait satu sama lain, memiliki hubungan keluarga, hubungan modal dan hubungan kelompok. Hubungan-hubungan ini kemudian menjadi kekuatan oligarkis yang mendikte kekuasaan, rakyat disuruh hanya menjadi penonton.

Kekuatan Oligarkis ini adalah motor penggerak Partai, mereka menawarkan kepada pemilik-pemilik modal baru dan menawarkan masuk ke dalam Partai, lalu menyetorkan pendanaan ke internal Partai, ukuran-ukuran kemampuan kader tidak lagi intelektualitas, dedikasi dan idealisme serta kerja keras tapi berapa jumlah setoran yang masuk ke dalam Partai dan kemudian Partai menjadi Public Relation atas politisi-politisi ini.

Disinilah kemudian masa depan Indonesia Raya dipertaruhkan. Dunia mereka dunia mengawang-awang karena mereka sudah mendapatkan jaminan hidup dari Anggaran Negara. Bagi mereka politik adalah pertarungan bisnis biasa, mereka mempertaruhkan duit di dalam meja-meja judi politik dimana rakyat hanya dilihat sebagai objek-objek yang bisa dibayar.

Indonesia Raya sekarang sudah sedemikian rusaknya karena dibajak oleh Oligarkis seperti ini yang merupakan anak kandung dari Reformasi Setengah Hati 1998. Reformasi yang hanya mampu menjungkalkan Suharto tapi gagal melumat watak Suhartorian dan kader-kader modal Suharto. Bagaimana bisa melawan ini?

Ada harapan bagi kita yaitu membangkitkan ruang-ruang baru perlawanan, membentuk mesin pembaharuan dari anak-anak umur 16 tahun -25 tahun. Ruang perlawanan itu bukanlah masuk ke dalam jalan-jalan dan bertarung dengan tentara, bukan itu. Karena demonstrasi yang langsung melawan akan habis dengan sendirinya, mereka sudah punya sistem yang kuat dalam melawan kekuatan jalanan. Yang harus dihabisi adalah bagaimana membangkrutkan sistem politik duit ini.

Penghancuran sistem politik duit sebenarnya mudah, buatlah jaringan-jaringan anti politik duit dan bentuklah tokoh di setiap jaringan. Banyaknya jaringan minimal 1.000 orang. Dulu Revolusi 1945 itu dijalankan dengan membentuk sistem politik jaringan, kekuatan pemuda yang aktif pada jam-jam pertama hanya seribu orang, tapi mereka mampu menciptakan sejarah, karena seribu orang itu berani muncul ke depan dan meneriakkan isu terus menerus, menjadi radikal dan militan tanpa harus kasar dan bersikap bodoh. Jaringan ini akan menjadi penjalin antar kekuatan-kekuatan masyarakat untuk menolak sistem politik kepartaian selama keterbukaan atas proyek-proyek negara berikut permainannya tidak dilakukan secara terbuka. Bentuklah pemimpin-pemimpinmu sebagai agen-agen politik yang bertanggung jawab, punya jalur langsung ke konstituen. Jadikan mereka memiliki visi besar untuk Indonesia Raya.

Nantinya per jaringan pemimpin akan melakukan persekutuan politik antar jaringan, hindari Partai, seIdealisme apapun Partai sekarang akan merusak dirimu. Hindari permainan-permainan politik Project anggaran, belajar terus menerus sejarah bangsamu, temukan kenapa Indonesia Raya ini harus berdiri. Dialektika atas perjuanganmu terhadap bangsa ini akan ketemu dengan sendirinya bila kamu bergerak, bergerak dan bergerak………

Nasib Indonesia Raya akan ada ditanganmu, kelompok yang berdiri di luar Partai, di luar sistem tapi berani menghancurkan setan besar bernama Partai Politik yang berdiri mengangkang. Masyarakat Indonesia terus tumbuh dan tumbuh, jangan takut dikritik atau dihina, karena semua pejuang adalah mereka yang berani bertindak bukan yang nyinyir sejarah tak pernah lahir dari orang yang nyinyir.

Selamat bergerak, Merdeka….!!

By : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

About kkangrii

| Moslem |

Posted on November 27, 2011, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: